
"Ya Khumaira, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Alkan tersenyum. Pria itu melangkah mendekati Kia yang duduk di dekat kolam renang rumahnya.
Kia menoleh mendengar suara orang yang dicintainya tersebut. Kia pun membalas senyuman itu dengan hati penuh kebahagiaan.
Pria itu melangkah mendekati Kia lalu mencium kening istrinya dan duduk di samping wanita itu.
"Aku sangat baik, Mas. Karena kau selalu di sisiku," ucap Kia tersenyum. "Mas, kamu tidak ke pesantren?" tanya Kia dengan senyum yang tak memudar.
"Nggak, aku hari ini hanya ingin berduaan dengan istriku saja," ucap Alkan dengan senyum yang mengembang.
"Tumben," ucap Kia yang masih tersenyum menatap suaminya bingung.
"Memangnya tidak boleh sekali-kali menemani istri di rumah?" tanya Alkan.
"Terserah Mas saja!" ucap Kia seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Alkan langsung menggendong tubuh Kia menuju kamarnya. Kia pun mengalungkan tangannya pada leher pria itu. "Mas, turunkan ah! Aku bukan anak kecil," ucap Kia manja.
"Kau memang bukan anak kecil, tapi kau Istriku yang sangat aku cintai hingga tidak akan ada kata lelah untuk melakukan berbagai cara agar aku bisa dekat denganmu," ucap Alkan mendaratkan kecupan di pipi wanita itu.
"Aku beruntung memilikimu, Mas! Terima kasih atas kebahagiaan yang kau berikan untukku," ucap Kia.
"Aku juga beruntung, memiliki istri solehah sepertimu, bidadari syurgaku," ucap Alkan menatap Kia penuh cinta.
"Mas, kita main ke rumah Anggi yuk! Aku merindukannya," ajak Kia pada Alkan.
"Mereka masih pengantin baru, Sayang! Nanti aja, kita jangan ganggu mereka dulu!" ucap Alkan. Kia membuka pintu ketika mereka sampai di depan kamarnya dan menutupnya kembali setelah mereka masuk.
__ADS_1
Alkan melangkah menuju ranjang, lalu membaringkan istrinya tersebut. "Masih siang, Mas!" ucap Kia tersenyum.
"Aku sudah bilang, hari ini aku hanya ingin berdua denganmu tanpa ada yang mengganggunya," ucap Alkan seraya membaringkan tubuhnya di sisi wanita itu.
"Maksudnya berduaan gimana sih, Mas?" tanya Kia menggoda suaminya.
"Berduaan begini." Alkan langsung memeluk erat tubuh Kia.
"Nggak ada yang lain?" tanya Kia menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu pengen, Sayang?" tanya Alkan seraya memiringkan tubuhnya untuk menatap istrinya dengan jelas.
"Pengen apa?" tanya Kia.
Alkan yang gemas dengan sikap Kia, pria itu langsung mendaratkan kecupannya pada benda kenyal yang menjadi candunya.
Akhirnya mereka hanya tiduran seraya memandangi langit-langit kamar, keduanya saling menukar cerita tentang kisah hidupnya masing-masing.
______________
"Rania ... " panggil Raka pelan saat melihat istri pertamanya kini terbaring di tempat tidur dengan keadaan yang tidak begitu baik. Pria itu berjalan mendekati istrinya, lalu duduk di sampingnya.
"Raka," ucap Rania pelan. Wanita itu tersenyum melihat suaminya yang mendekat.
"Mungkin umurku tidak lama lagi, Ka! Sampaikan maafku pada istrimu, aku tidak ingin membawa dosa jika nanti aku tiada," ucap Rania dengan suara lemah.
"Tidak Rania, kau akan sembuh! Kau akan segera mendapatkan donor," ucap Raka menggenggam tangan Rania erat.
__ADS_1
"Sulit, Ka! Siapa yang mau memberikan jantungnya padaku kecuali orang yang meninggal, jika nanti sudah waktunya aku tiada, maka ikhlaskan aku, agar aku bisa pergi dengan tenang!" ucap Rania tersenyum.
"Apa yang kau bicarakan, Ra! Percayalah pada Allah, segala penyakit pasti bisa sembuh jika Allah menghendaki," ucap Raka menatap istrinya sendu.
"Aku tau itu, tapi ...."
"Sudahlah, aku tidak mau mendengarkan ucapanmu yang aneh, berpikirlah positif! Jangan putus asa, berjuanglah untuk sembuh, aku mencintaimu dan aku tidak ingin kehilanganmu," ucap Raka.
"Terima kasih, Ka!"
"Sekarang kau pulanglah, jangan buat istrimu terluka karena kau meninggalkannya di saat status kalian masih pengantin baru," ucap Rania tersenyum kaku.
"Aku sudah menjelaskan semuanya pada Anggi, dia sudah tahu tentang hubungan kita," ucap Raka.
"Terus?" tanya Rania.
"Dia mengikhlaskan jalan takdirnya, dia percaya bahwa apa yang Allah takdirkan, berarti itu yang terbaik untuknya," ucap Raka.
"Dia tidak marah?" tanya Rania lagi.
"Tidak," jawab Raka.
"Ya Allah, istrimu sangat luar biasa, Ka! Aku malu padanya," ucap Rania dengan air mata yang mengalir begitu saja.
"Kamu juga luar biasa, aku bangga punya istri seperti kalian," ucap Raka tersenyum.
......πππππ......
__ADS_1
^^^Bersambung ...^^^