
Anggi kini sudah berada di Madura tepatnya di kabupaten Sumenep. Ia tinggal dengan Bik Salma, mereka tinggal di dekat pondok pesantren Nurul Jannah.
Seminggu sudah Anggi membantu Bik Salma memasak di dapur pesantren. Ia memasak sambil mendengarkan pengajian dari ustadz yang tidak pernah ia jumpai sebelumnya, yang ia tahu ustadz tersebut dari kota dan alumni dari pesantren tersebut, ia kembali untuk mengajar di pesantren setelah menyelesaikan pendidikannya di Al-Azhar Kairo, Mesir.
"Nak, kalau kau sudah selesai masak, kau antar makanan gih ke dalem Kyai!" titah Bik Salma.
"Iya Bik," jawab Anggi tersenyum dibalik cadarnya.
"Kamu kasih ke Nyai Khodijah! Nanti beliau yang akan menyiapkan makanan-makanan ini untuk Kyai," ucap Bik Salma tersenyum.
"Baik, Bik!" jawab Anggi kembali.
Anggi melangkah meninggalkan dapur pesantren dengan membawa nampan yang berisi makanan.
Saat di tengah jalan, ia berpapasan dengan segerombolan santri putra yang baru keluar dari dalem Kyai Abdullah dan salah satu dari pria itu adalah ustadz yang mengisi pengajian setiap harinya di waktu pagi.
Ustadz tersebut terpana saat melihat seorang perempuan bercadar melewati dirinya tanpa mengalihkan pandangannya pada ustadz dan santri putra yang mengiringinya. Ustadz itu menoleh menatap langkah Anggi.
"Kenapa ustadz?" tanya Salah satu santri putra yang bersama ustadz tersebut karena melihat gurunya itu tengah menatap langkah seorang perempuan yang bercadar yang melewati mereka.
"Dia siapa?" tanyanya sambil menatap Anggi lagi sekilas yang mulai menghilang dari pandangan matanya.
"Dia keponakan Bik Salma," jawab salah satu santri putra itu.
"Owh ...!" ucapnya.
"Apakah ustadz tertarik?" tanya salah satu muridnya itu.
"Heh, nggak boleh ya! Dia baru bercerai," jawab salah satunya lagi.
"Iya, ya!"
"Dia itu seorang janda yang bercerai karena tidak kuat di madu, Ustadz,"
"Kalian jangan ngegosip! Dosa tau!"
__ADS_1
"Aku cuma kasih tau aja sama ustadz biar ustadz bisa memilih orang yang tepat!"
Santri-santri itu terus membicarakan Anggi hingga ustadz itu menghentikan ucapan mereka.
"Kalian tidak tau apa yang orang lain alami, jangan pernah suuzdon, karena suuzdon itu hanya akan menimbulkan dosa, selain itu kalian tidak mendapatkan keuntungan dari berprasangka buruk pada orang lain," ucap ustadz itu tersenyum.
"Astaghfirullahal azdim ... "
"Iya Ustadz," jawab para santri putra tersebut.
"Kalau begitu aku ke kamar dulu! Kalian silakan kembali ke asrama kalian masing-masing!" titah sang Ustadz.
"Baik, Ustad!" jawab mereka bersamaan. Mereka menundukkan kepalanya sekejap, lalu pergi meninggalkan sang ustadz setelah mengucapkan salam padanya. Ustadz itu membuka pintu kamarnya, lalu masuk ke dalam kamar tersebut.
Pria itu tinggal di rumah kecil dan sederhana yang memang pesantren sediakan untuk ustadz yang datang dari jauh.
_________
"Assalamualaikum Nyai." Anggi mengetuk pintu dalem Kyai Abdullah.
Anggi meletakkan nampan yang berisi makanan itu di meja kamar Kyai Abdullah.
"Kalau begitu aku pamit dulu Nyai!" pamit Anggi.
"Tidak duduk dulu, Nak?" tanya Nyai Khodijah.
"Tidak, Nyai. Anggi langsung ke dapur kembali, takutnya Bik Salma kerepotan!" ucap Anggi tersenyum di balik cadarnya.
"Silakan! Terima kasih, Nak!" ucap Nyai Khodijah.
"Kembali kasih, Nyai!" jawab wanita itu.
Anggi melangkah keluar dari Dalem Kyai Abdullah. Ia kembali menuju dapur pesantren. Namun, tanpa disadari oleh Anggi ustadz tadi memperhatikan wanita itu dari jendela kamarnya.
"Aku tidak mengenalmu, tapi aku yakin. Kau perempuan sholehah, Zaman sekarang jarang orang yang memakai niqob, tapi aku menemukan orang itu di pesantren ini, aku harap kau memang jodohku yang Allah kirimkan," gumam ustadz itu.
__ADS_1
Sementara yang diperhatikan tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang menatap langkahnya.
...πππππ...
^^^Bersambung...^^^
Assalamualaikum Readersku, Sayang π₯°
Jangan lupa mampir ke karya Othor yang baru ya!
Bagi yang sudah mampir Othor mengucapkan banyak-banyak Terima kasih. Love you All β€οΈ
Oh iya. Di sana Othor mengadakan give away.
Untuk TOP Fans saja π₯°
Top Fans 1 pulsa senilai 50 ribu rupiah
Top Fans 2 Pulsa 30 ribu rupiah
Top Fans 3 20 ribu rupiah
Top Fans 4 10 ribu rupiah
Top Fans 5, 5 ribu rupiah
Jika nggak ada Top Fansnya berarti karya Othor mungkin belum layak didukung π₯°
Judul Karya
'Ketika selingkuh menjadi jalan pintas'
dengan cover seperti dibawah πππ
__ADS_1