TASBIH CINTA

TASBIH CINTA
Saling mencintai


__ADS_3

Alkan masih setia menatap Kia dan adiknya dengan wajah yang bingung. Karena ia melihat Arofah berdiri. tetapi Kia menahannya, lalu Arofah melepaskan genggaman tangan Kia dan berjalan hendak pergi meninggalkan gadis itu. Namun, Kia mengatakan sesuatu yang tak dapat didengar oleh Alkan yang berhasil menghentikan langkah Arofah, lalu Arofah duduk kembali di samping Kia.


Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Kenapa mereka terlihat sangat serius? Apakah mereka sedang bertengkar? Tetapi rasanya tidak mungkin karena aku tidak melihat kemarahan di antara keduanya. Batin Alkan.


"Apa yang ingin kau katakan padaku? Aku tau kau menyembunyikan sesuatu dariku. Aku melihat sebuah kecemasan di wajahmu saat aku mengatakan kalau kau dan kak Alkan saling mencintai." Arofah menatap Kia yang sedang menundukkan kepalanya sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Aku memang menyukai kakakmu, tetapi aku tidak tau perasaan dia padaku. Kita tidak pernah dekat, tetapi entah mengapa bayangannya selalu berputar dalam ingatanku!" ucap Kia.


"Terus!" Arofah menatap Kia serius.


"Anggi juga menyukai kakakmu."


"Ap-apa? Kamu serius Ki? Nggak mungkin Anggi menyukai Kak Alkan, kamu kan tau sendiri jika Anggi suka becanda." Arofah tak mempercayainya.

__ADS_1


"Tapi itulah kenyataannya Neng! Aku tidak mau menyakitinya jika tau perasaanku pada kakakmu. Aku mohon padamu! Jangan sampai Anggi ataupun kakakmu tau tentang perasaanku yang sebenarnya. Aku tidak mau menyakiti hati siapapun." Kia menatap lurus kedepan dan tatapan matanya tertuju pada Alkan.


"Selain itu aku tidak mau menghalangi hubungan kakakmu dengan tunangannya. Jika memang kakakmu akan segera menikah, aku sangat bahagia mendengarnya. Aku hanya menghawatirkan perasaan Anggi karena dia terlalu dalam mencintai kakakmu bahkan cintanya lebih besar dari pada apa yang ku miliki." Kia memaksakan senyumnya karena sesungguhnya ia juga begitu terluka saat mendengar bahwa Alkan akan segera menikah.


"Apakah kamu tidak terluka mendengar kakak akan menikah dengan kak Salimah?" tanya Arofah.


Kia hanya tersenyum menahan sakit yang begitu menusuk lubuk hatinya. "Memangnya apa yang bisa ku perbuat jika aku terluka? Aku cuma bisa berusaha mengobati lukaku tanpa bisa mencegah luka yang akan datang." Kia tersenyum kaku menoleh dan menatap Arofah yang sedang menatapnya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.


Sedangkan Arofah menatap Kia sendu. Setelah itu, ia memeluk Kia erat, "Maafkan aku Ki, aku nggak bisa untuk menyatukan kalian, aku tidak mau orang tuaku membeciku karena menentangnya." Arofah tidak mampu untuk menahan tangisnya sehingga ia lebih memilih memeluk Kia dari pada ada orang yang melihatnya menangis. Apalagi Arofah tau kalau kakaknya sedang memperhatikan dirinya dengan Kia.


"Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?" gumam Alkan


"Gus Alkan!" ucap seseorang menepuk pundaknya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Alkan menatap Ustadz Shoby sahabatnya yang sedang tersenyum menatapnya, lalu duduk di sebelah Alkan.


"Kau menyukai gadis itu?" tanya Shoby tersenyum.


Semua Ustadz yang tadi berkumpul sudah pamit pergi duluan. Sekarang di sana hanya tinggal ustadz Shoby dan Alkan saja.


"Aku..." ucapan Alkan terhenti.


"Iya, kamu kenapa?" tanya ustadz Shoby.


"Aku nggak tau harus bilang apa, dulu aku tidak menyukainya bahkan aku sering kesal saat menatap wajahnya. Namun, sekarang perasaan itu berbeda. Aku takut kehilangannya dan aku ingin memilikinya walaupun itu tidak mungkin. Karena sebentar lagi aku akan menikah dengan Salimah." Alkan terus menatap Kia tanpa ingin mengalihkan pandangannya begitu pun dengan Kia. Kia menatap Alkan entah apa yang dipikirkannya.


Mereka saling tatap dalam waktu yang cukup lama. Namun, Kia mengalihkan tatapannya terlebih dahulu hingga tatapan mereka terputus.

__ADS_1


...❤❤❤❤❤...


...TBC...


__ADS_2