TASBIH CINTA

TASBIH CINTA
Pusing


__ADS_3

Satu Minggu kemudian.


Kini Renald menggelar resepsi pernikahan dengan begitu megahnya. Namun, atas permintaan Alkan, Kia memakai niqob, wanita itu mematuhi apapun perintah suaminya hingga Alkan merasa sangat beruntung karena memiliki istri seperti Kia.


Kia menyalami para tamu perempuan saja, begitupun dengan Alkan, dia juga hanya menerima ucapan selamat dari teman prianya.


"Kau terlihat begitu capek!" ucap Alkan saat melihat Kia memijat pelipisnya.


"Sedikit pusing Mas!" ucap Kia tersenyum.


"Ya sudah, kau ke kamar duluan saja!" ucap Alkan.


"Mas Alkan nggak apa-apa di sini sendirian?" tanya Kia.


"Nggak apa-apa!" jawab Alkan tersenyum.


"Ya sudah, aku ke kamar duluan Mas!" ucap Kia tersenyum lemah.


"Iya," jawab Alkan lembut.


Kia meninggalkan pelaminan karena merasa lelah dan pusing. Ia melangkah lunglai dengan Alkan yang menatap kepergiannya. Namun, pria itu tetap menyambut para tamunya walaupun tanpa Kia.


"Sayang Kau mau kemana?" tanya Renald saat berpapasan dengan putrinya.


Anggi menoleh saat mendengar suara Renald, begitupun juga dengan Rizky dan Sheila. Mereka menoleh menatap Kia yang berjalan ke arah tangga.


"Aku sedikit pusing Dad, Mas Alkan menyuruhku untuk beristirahat terlebih dahulu," jawab Kia.


"Ya sudah, mungkin kau kelelahan," ucap Renald tersenyum.


"Sayang, apa perlu Bunda temani Nak?" tanya Sheila.


"Tidak, Bunda! Kia baik-baik saja. Mungkin hanya kelelahan," jawab Kia tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu," ucap Sheila tersenyum.


"Istirahat yang cukup Ki!" ucap Anggi tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Kia membalas senyuman Anggi dengan lemah.


"Ya sudah, Kia ke kamar dulu!" Kia menatap mereka satu persatu.


"Silakan!" ucap Rizky tersenyum.


Kia menaiki tangga dengan langkah yang cukup lemas, gadis itu langsung tidur setelah sampai di kamarnya. Akan tetapi, beberapa saat kemudian ia merasakan sesuatu yang mengalir dari hidungnya, Kia langsung bangun menuju kamar mandi, lalu bercermin. Kia terkejut saat mendapati dirinya mimisan dan ia langsung menghapus darah itu sebelum Alkan melihatnya, ia tidak mau membuat suaminya khawatir jika melihat dirinya mimisan.


"Sebenarnya aku kenapa? Aku akan ke rumah sakit besok untuk mengecek keadaanku," gumam Kia.


Kia mengganti pakaiannya, lalu melanjutkan tidurnya untuk menghilangkan rasa pusing yang sedang melandanya, sedangkan Alkan masih sibuk menyalami para tamu undangan yang hadir.


Setelah acaranya selesai, Alkan berkumpul dengan keluarganya dan keluarga Kia. Mereka berbincang-bincang di mansion itu yang diiringi dengan candaan.


"Alkan, bikin cucu yang banyak untuk aba! Aba sudah tua, pesantren butuh penerus," ucap Kyai Syarief menggoda putranya.


"Ih, aba! Apaan sih?" ucap Arofah, sedangkan nyai Fatimah tersenyum lembut seraya menggeleng-gelengkan kepala, dan Alkan pun hanya tersenyum mendengar ucapan Kyai Syarif.


"Kyai Syarief benar, Nak! Daddy juga butuh penerus untuk perusahaan Daddy, karena Kia satu-satunya anak daddy," ucap Renald tersenyum membenarkan ucapan Kyai Syarief.


"Tanpa disuruh pun, pasti Nak Alkan sudah berusaha, mana mungkin kita sebagai pria normal mau meninggalkan ibadah yang nikmatnya tiada bandingnya," ucap Rizky tersenyum.


"Malam ini kau nginap di sini saja! Sepertinya Kia tidak enak badan, aku lihat wajahnya pucat tadi," ucap Renald tersenyum.


"Iya, Dad!" jawab Alkan membalas senyuman Renald.


"Ya sudah, kau temani istrimu! Aba pulang dulu!" Kyai Syarief menatap putranya dengan senyum tipis.


"Baik, Aba!" jawab Alkan.


"Tuan Renald, Tuan Rizky, kami pamit dulu!" ucap Kyai Syarief seraya mengulurkan tangannya.


"Terima kasih, Kyai!" ucap Renald dan Rizky serentak. Lalu menerima uluran tangan Kyai Syarief dengan sedikit membungkukkan badan, sedangkan Arofah dan Sheila juga saling jabat tangan.


"Assalamualaikum." Kyai Syarief memanggil salam lembut.


"Waalaikum salam,"

__ADS_1


Setelah itu Kyai Syarief meninggalkan mansion Renald yang diikuti oleh Nyai Fatimah juga Arofah.


"Aku juga pamit pulang dulu," ucap Rizky sambil menepuk pundak Renald.


"Terima kasih," ucap Renald tersenyum.


"Kau tidak perlu berterima kasih padaku! Sudah kewajibanku sebagai orang tua Kia juga," ucap Rizky membalas senyuman Renald.


"Aku pulang, Assalamualaikum!" ucap Rizky.


"Waalaikum salam," jawab Renald.


"Aku pulang Dad," Anggi tersenyum seraya menatap Renald.


"Iya Sayang,"


"Aku pulang!" ucap Sheila.


"Terima kasih,"


Mereka bertiga juga pergi meninggalkan mansion Renald dengan Alkan dan Renald yang menatap kepergiannya.


......🍁🍁🍁🍁🍁......


^^^Bersambung...^^^


Assalamualaikum Readersku sayang πŸ₯°


Maaf Othor masih belum sempat update banyak karena kerjaan dunia nyata yang tiada habisnya 🀣


Bukan kerja apa, cuma pekerjaan ibu rumah tangga Kok 🀭


Tetapi untuk beberapa hari, Othor sulit untuk update normal menjelang 40 hari Mertuaku.


Jangan lupa jejaknya 😘


Tekan like dan komen sepuasnya. Othor akan menyambut kalian dengan suka rela,

__ADS_1


THANK YOU 😍


__ADS_2