TASBIH CINTA

TASBIH CINTA
Cinta dalam diam


__ADS_3

❀Hati gelisah tak tentu arah


Ingin rasanya ku menjabarkan bait-bait cinta yang tak seharusnya ada


Aku ingin melihat senyumnya yang seindah mentari di pagi hari


Namun, aku tak kuasa untuk memintanya


karena kita bukanlah Mahram❀


Suara hati Alkan.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Beberapa hari Kemudian


Kyai Syarif sudah sembuh. Kini Alkan dan anggota keluarga berkumpul di ruang keluarga sehabis pengajiyan malam.


"Alkan..." Panggil Kyai Syarif.

__ADS_1


"Iya Aba," jawab Alkan tersenyum.


"Bagaimana keputusanmu Nak?" ucap Kyai Syarif.


"Bolehkah Alkan menjawab dengan jujur?" tanya Alkan tersenyum.


"Silahkan! Akan tetapi aba harap, kau tidak mengecewakan aba dan akan tetap melamar Salimah apapun keadaannya!" ucap Kyai Syarif.


"Baiklah, jika itu yang Aba harapkan. Namun, Alkan tidak bisa berjanji untuk memberikan hatiku untuknya, karena hati Alkan sudah jatuh pada orang lain," ucap Alkan tersenyum.


"Siapakah perempuan itu sayang?" ucap ummy Fatimah tersenyum.


"Apakah gadis itu adalah santri di sini Kak?" tanya Arofah.


"Mungkin saja iya," jawab Alkan tersenyum.


"Jika kau mau mengikuti perintah aba, maka lupakan gadis itu dan menikahlah dengan Salimah, tetapi jika kau tidak mau mengikuti perintah aba, maka semua terserah padamu. Namun, kau harus tau bahwa aba tidak merestui hubungan kalian," ucap Kyai Syarif dan seketika saja Kyai Syarif berubah menjadi dingin.


"Aba tidak perlu khawatir, Alkan akan tetap melamar Salimah jika itu ke inginan aba. Lagi pula gadis itu tidak mengetahui jika Alkan mengaguminya dan aba juga tidak perlu khawatir, karena dia tidak tertarik pada Alkan sedikitpun, bahkan karena sifatnya yang dinginlah yang membuat Alkan mengaguminya, Alkan cukup mencintainya dalam diam." Alkan memaksakan senyumnya.

__ADS_1


"Kau hanya butuh waktu untuk mencintai Salimah, jika kalian menikah dan terbiasa bersama, aba yakin kalian akan saling mencintai karena Allah, bukan saling mencintai karena bisikan syetan," ucap Kyai Syarif menatap Alkan dingin.


"Jika saja Alkan mencintainya karena syetan aba, niscaya Alkan akan menolak keinginan aba dan memilih dia untuk menjadi pasangan Alkan. Namun, Alkan tidak melakukan hal itu, karena Alkan sangat menghormati aba sebagai orang tua Alkan. Dan Alkan tidak akan melangkah tanpa restu aba. Alkan sangat yakin, jika saja aba merestui Alkan, Insya allah Alkan bisa merubah sikapnya yang menurut orang lain terkesan angkuh dan sombong, karena pada dasarnya dia adalah orang yang sangat baik, hanya saja dia tidak tau caranya bersikap baik itu seperti apa." Alkan tersenyum tulus menatap Kyai Syarif.


"Kakak mencintai Kia?" tebak Arofah.


Kyai Syarif dan ummy Fatimah menatap Arofah dengan wajah yang tak tertebak.


"Karena setau Arofah, ciri-ciri yang Kakak sebutkan sama persis dengan sahabat Arofah." Arofah menatap Alkan penuh tanya.


"Siapapun dia, aba, ummy dan kamu Dek, tidak perlu mengetahuinya. Aku tidak mau kalian memandang dia beda dari santri yang lain, karena kalian mengetahui kalau Alkan mengaguminya." Alkan tersenyum.


"Terima kasih karena kau mengerti posisi aba, aba hanya ingin kau melamar Salimah minggu depan! Sudah saatnya kalian menikah." Kyai Syarif menatap reaksi Alkan. Namun, Sang kyai tidak dapat menebak apa yang ada dalam pikiran putranya itu.


"Baiklah, aku akan berusaha menjadi apa yang diinginkan aba." Alkan tersenyum.


"Apa benar yang dikatakan Arofah? Bahwa yang dicintai Alkan adalah Zaskia, aku tidak bisa melarang hubungan mereka jika mereka memang saling mencintai, karena Tuan Renald sangat membantu pesantren ini selama Zaskia dititipkan di sini, aku merasa hutang budi padanya." Kyai Syarif membatin. Namun, Kyai Syarif juga bingung karena ia terlanjur menjodohkan putranya dengan keponakannya sendiri.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2