
"I love you, Rania."
Deg.
Anggi terkejut mendengar ucapan Raka. Sekuat tenaga ia menahan air matanya. Anggi memakai baju tidurnya kembali, dan menatap wajah Raka sendu. "Maafkan aku," ucap Anggi. Wanita itu berdiri, ia kini berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi.
Raka yang menyadari akan ucapannya yang salah menyebut nama, kini merasa bersalah pada Anggi. Ia menatap Anggi yang sedang menjauh dengan langkah yang kesulitan.
Raka yang tidak tega melihatnya, langsung berdiri dan menyusulnya. Lalu pria itu menggendong tubuh Anggi menuju kamar mandi dengan perasaan bersalah.
"Aku akan menjelaskan semuanya," ucap Raka tanpa menatap wajah Anggi. Sementara Anggi mendongak menatap wajah datar suaminya dengan sendu.
Setelah sampai di kamar mandi, Raka menurunkan tubuh Anggi, lalu keluar dan menutup pintu kamar mandi tersebut.
Anggi meluruhkan air matanya tanpa suara, lalu menghapusnya kembali. "Kenapa aku nangis sih? Padahal aku juga tidak mencintainya, ngapain aku menangisi orang yang baru jadi suamiku, wajar saja 'kan kalau dia mencintai orang lain," gumam Anggi. Anggi tersenyum, lalu membersihkan dirinya dan melupakan ucapan Raka.
Setelah Anggi selesai dengan acara ritual mandinya. Ia langsung tidur kembali di samping Raka. Tanpa di duga oleh Anggi, Raka memeluknya erat Anggi pun ikut memejamkan mata menahan sakit yang menyayat hatinya dan kini keduanya tidur semalaman dengan Raka yang memeluk Anggi erat.
Keesokan harinya. Anggi melihat Raka sudah tidak ada di sampingnya. Wanita itu mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi.
Anggi tersenyum, lalu menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Setelah beberapa saat, kini Raka keluar dari kamar mandi. Anggi pun tersenyum melihat langkah suaminya yang mendekat.
"Siapkan baju santai saja, hari ini aku tidak ke kantor," ucap Raka.
Anggi mengangguk, lalu mengambilkan baju santai untuk suaminya. "Sebaiknya kau mandi dulu, aku ingin bicara denganmu setelah sarapan."
Anggi pun mengangguk kembali, lalu melangkah untuk membersihkan dirinya.
__ADS_1
______________
Seusai sarapan Raka dan Anggi duduk di Balkon kamarnya. "Apa yang ingin kau bicarakan, Mas!" tanya Anggi tersenyum.
"Aku sudah menikah sebelumnya, dan kau adalah istri keduaku," ucap Raka tanpa basa basi. Pria itu berat untuk mengatakan yang sebenarnya. Namun, ia memilih jujur karena cepat ataupun lambat Anggi pasti akan tahu semuanya.
"Aku tau kau masih belum bisa menerimaku, kau tidak perlu berpura-pura, aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku, Mas!" ucap Anggi tersenyum.
"Aku tidak berpura-pura, aku memang sudah menikah siri dengan Rania sebelum aku menikahimu," ucap Raka menatap Intens.
Jedduarrr ...
Anggi langsung menoleh menatap wajah suaminya, suara Anggi tercekat, wanita itu memilih menghindar dari pada mendengarkan ucapan Raka yang Anggi tahu bahwa ucapan Raka akan lebih menyakitinya lagi.
Anggi berdiri dan hendak melangkah. Namun, Raka menahannya. Lalu pria itu juga ikut berdiri dan memeluk tubuh wanita itu dengan perasaan bersalah. "Maafkan aku," ucap Raka memejamkan matanya.
"Pulanglah ke rumah istri pertamamu, pasti dia sangat terluka karena pernikahan kita," ucap Anggi tersenyum kaku.
Raka menghembuskan nafasnya. "Iya, dia sangat terluka. Aku terpaksa menikahi dirinya terlebih dahulu karena aku sangat mencintainya. Aku tidak bisa bayangkan jika dia pergi jauh dariku," ucap Raka menatap Anggi intens.
"Pergilah! Aku ikhlas kau bersamanya," ucap Anggi dengan senyum lembutnya.
"Apakah kau tidak mau menanyakan masa laluku dengannya?" tanya Raka.
"Tidak!" ucap Anggi.
"Masa lalu tetaplah masa lalu, aku berjalan ke masa depan bukan ke masa yang sudah terlewati," lanjut Anggi.
__ADS_1
"Apakah kau tidak marah?" tanya Raka menatap manik mata Anggi.
"Percuma aku marah, semuanya tidak akan merubah keadaan, mungkin aku harus belajar ikhlas menjalani garis takdirku. Aku yakin, jika aku diberi cobaan di dunia ini, berarti Allah sangat menyayangiku, dan aku percaya, seorang istri jika ikhlas menerima suami untuk berpoligami, maka Allah menyediakan payung emas dan surga untuknya." Anggi tersenyum seakan tiada beban di wajahnya.
Raka yang melihat senyuman Anggi yang teduh, ia tersentuh dan terpana dengan senyum indah itu. "Kau memang istri sholehahku, meskipun aku belum mencintaimu tapi aku sangat beruntung memiliki istri sepertimu," ucap Raka membelai pipi Anggi.
"Pergilah!" ucap Anggi lagi.
Raka mengangguk, lalu meninggalkan Anggi yang tersenyum menatap langkahnya. Namun, setelah bayangan Raka menghilang dibalik pintu, Anggi mengeluarkan cairan bening dari pelupuk matanya. "Maafkan aku, ya Allah! Aku belum bisa menjaga hati ini agar tidak terluka, tapi aku janji, bahwa aku akan belajar ikhlas untuk membagi suamiku dengannya." Anggi menghapus air matanya lalu kembali ke kamar untuk sholat dhuha.
...πππππ...
^^^Bersambung ...^^^
Assalamualaikum Readersku, Sayang π₯°
Kesel 'kan sama Othor? π€£
Nanti Insya Allah Othor kembali dengan kisah yang sweet deh, nggak mewek-mewekan lagi.
Atau kisah mafia kali ya? π
Belum tamat aja, udah mau bikin yang baru, habisnya Othor suka mentok kalau tentang urusan agama π
Jangan lupa jejaknya ya, Sayang π₯°
love you All π₯°π
__ADS_1