TASBIH CINTA

TASBIH CINTA
Senyum menyejukkan


__ADS_3

Hari menjelang sore, Alkan sudah selesai mengisi acara di masjid At-taqwa. Sebelum Alkan mengisi pengajiyan di masjid tersebut, Alkan mengisi pengajiyan di acara nikahan santrinya. Alkan terkenal sebagai putra dari Kyai Syarif yang ramah dan baik hati. Namun, Alkan menjaga jarak dengan perempuan yang bukan mahromnya.


Azdan ashar berkumandang sebagai tanda panggilan bagi orang-orang muslim, Alkan mengambil wudlu untuk sholat berjamaah dan Alkan juga diminta menjadi Imam di masjid tersebut.


Sholat ashar yang dipimpin oleh Alkan membuat orang yang berjamaah di masjid itu menambah ke khusu'annya, lantaran suara lantunan ayat suci Al-qur'an dan doa iftitah yang dibawakan oleh Alkan mengalun merdu di telinga para jamaah.


Seusai sholat, Alkan memanjatkan doa yang membuat hati para jamaah bergetar dan meneteskan air mata disetiap kata demi kata yang Alkan ucapkan lantaran Alkan mengingatkan perbuatan para jamaah yang mana masih jauh dari kata sempurna.


Alkan menyudahi doanya dan pamit undur diri dari masjid At-taqwa. Para jamaah menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan. Alkan membalas penghormatan mereka dengan senyum yang menyejukkan.


Alkan memasuki mobil, dengan Ustazd Mahmud yang membukakan pintu mobilnya. Ustadz Mahmud setia mengikuti Alkan kemanapun Alkan diundang untuk menghadiri acara pengajiyan.


Sekitar pukul 16.30 Alkan sampai di pesantren. Alkan berjalan memasuki rumahnya dengan Ustazd Mahmud yang mengekor dibelakangnya untuk membawa sebagian kitab yang dibawa Alkan.


Alkan yang kelelahan langsung duduk di sofa ruang tamu dan mempersilakan Ustadz Mahmud untuk duduk juga. Namun, Ustadz Mahmud menolak karena Ustadz Mahmud masih ada kegiatan lain dengan santri putra.

__ADS_1


......πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’......


"Nggi, kau sudah sadar?" ucap Kia melangkah mendekati Anggi yang masih terlihat lemah di ruangan UKS. Kia meninggalkan Anggi karena sorenya ia harus masuk kelas. Kia meninggalkan Anggi sebab kata Dokter yang memeriksa Anggi, Anggi hanya kelelalan saja dan butuh istirahat.


"Kia...! aku kenapa? kenapa aku bisa di ruangan ini?" ucap Anggi bingung sambil memegangi kepalanya yang berdenyut.


"Kau pingsan setelah dihukum tadi pagi," ucap Kia tersenyum.


"Masak sih? aku kan perempuan kuat, mana mungkin aku pingsan cuma karena dihukum kayak gitu doang." Anggi mendengkus.


Anggi cemberut mendengar perintah Kia, lalu melebarkan mulut sambil melototkan matanya karena kesel sama Kia yang selalu menggodanya. Anggi menelan bubur tersebut sambil mulut komat kamit nggak jelas.


"Kalau ngomong itu yang jelas, biar aku bisa dengar apa yang kau katakan." Kia tersenyum usil.


"Kiaaa... kau sangat menyebalkan tau," ucap Anggi kesel.

__ADS_1


"Bukankah kamu yang bilang kalau kamu merindukanku yang seperti ini, seperti sebelum kita mondok. Aku hanya mengabulkan permintaanmu," ucapa Kia tersenyum.


Anggi tidak mengucapkan sepatah katapun. Namun, Anggi langsung memeluk Kia karena Anggi memang sangat merindukan sifat Kia yang seperti itu. Anggi merasa kehilangan Kia sejak Kia bersikap dingin pada siapapun termasuk pada Anggi.


"Aku memang sangat merindukanmu yang seperti ini Ki, aku mohon... jangan bersikap dingin lagi padaku! aku merasa sendiri tanpamu Ki." Anggi meneteskan air matanya.


"Aku tidak menyuruhmu menangis, cepat lepaskan aku, dan hapus air matamu!" perintah Kia.


Anggi melepaskan pelukannya lalu menatap Kia kesel. "Kau merusak suasana, bukannya membalas pelukanku dan ikut terharu, eh... malah marah-marah."


"Dasar saudara nggak peka." Anggi cemberut.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2