
"Apakah kau menyesal menikah denganku?" tanya Alkan.
Kia mengerutkan keningnya, "Kenapa harus menyesal?" tanya Kia.
"Karena aku menikahimu secara dadakan tanpa adanya lamaran seperti pernikahan pada umumnya," ucap Alkan dengan rasa bersalahnya.
"Seharusnya aku yang minta maaf Mas, karena aku telah membuatmu susah hingga kau harus membatalkan pernikahanmu karena ke salah pahaman di antara kita," ucap Kia sendu.
"Kau jangan bilang seperti itu, mungkin yang terjadi antara kita memang jalan yang ditunjukkan Allah untuk menyatukan kita ke jalan yang Allah ridhoi," ucap Alkan tersenyum.
"Apakah kau sudah siap menjadi istriku yang seutuhnya?" tanya Alkan.
Semburat merah terpancar dari pipi gadis itu, ia tidak mampu melihat suaminya yang menatap penuh harap. Namun, Kia memberanikan diri untuk menatap Alkan.
"Apapun yang ada pada diriku adalah milikmu Mas, jadi aku tidak boleh menolak apapun keinginanmu," ucap Kia seraya menerbitkan senyumnya.
"Aku mencintaimu bukan karena kecantikanmu, tetapi aku mencintaimu karena ketulusanmu, kebaikanmu tidak pernah kau pamerkan pada orang lain hingga aku merasa sangat beruntung karena telah menjatuhkan hatiku padamu Kia," ucap Alkan menatap mata teduh Kia.
__ADS_1
"Aku bukanlah wanita sempurna, aku hanya manusia yang terlalu banyak melakukan dosa, rasanya aku belum pantas mendapat pujian seperti apa yang diucapkan Mas Alkan, seharusnya aku yang bilang beruntung karena bisa menikah dengan orang yang sholih seperti Mas Alkan," ucap Kia tersenyum lembut.
"Sebelum kita melakukan sunah itu, mari kita sholat terlebih dahulu! Supaya kita diberikan keturunan yang Sholih dan Sholihah," ucap Alkan seraya melepaskan tangannya yang sedari tadi menggenggam tangan Kia.
Kia hanya mengangguk dengan senyuman yang berhasil membuat detak jantung Alkan semakin berpacu cepat.
Pria itu mengambil wudhu terlebih dahulu, sedangkan Kia masih duduk di sofa menunggu Alkan yang sedang pergi ke kamar mandi.
Setelah Alkan selesai mengambil wudhu, barulah ia mengganti suaminya, lalu mengambil wudhu juga.
Seusai keduanya selesai mengambil wudhu, mereka sholat berjamaah, bacaan Fatihah dan surat-surat pendek pun berhasil membuat hati Kia bergetar bukan karena makhorijul hurufnya yang sangat tepat, tetapi suaranya pun terdengar mengalun merdu di telinga Kia.
"Kau tahu 'kan doa berjimak?" tanya Alkan. Kia hanya menundukkan kepalanya seraya tersenyum malu.
"Kenapa sekarang kau jadi pemalu? Bukankah biasanya kau tak kenal apa itu Malu?" tanya Alkan.
"Apakah aku harus bersikap kasar pada suamiku," ucap Kia tertunduk.
__ADS_1
Alkan tersenyum tipis, lalu mengambil kitab uqudulujjain dan dibacanya di dapan Kia. Kia yang mendengar Alkan membaca kitab tersebut hanya bisa menunduk karena malu dengan isi kitab tersebut. Ia malu, karena tidak pernah melakukan hal itu dengan suaminya.
"Kita lanjutkan besok," ucap Alkan seraya tersenyum.
Alkan meletakkan kitab tersebut, sedangkan Kia membuka mukenah dan melipat sejadahnya juga. Wanita itu beranjak, lalu duduk di sisi tempat tidur.
Alkan mendekati Kia lalu memegang kepala gadis itu dan mencium keningnya, setelah itu Alkan membaca Doa. "Allahumma jannibnasyaithona wa jannibisysyaithana ma razaktana.
(Setelah itu terjadilah sesuatu diantara mereka, π Kalian pikirkan aja sendiri! Karena Othor lagi mode kalem)
"Terima kasih, sayang!" ucap Alkan. Lalu mengecup kening Kia dan tidur sambil memeluk istrinya itu.
...πππππ...
^^^Bersambung...^^^
Assalamualaikum Readersku sayang π₯°
__ADS_1
Maaf Othor kebanyakan Janji. Karya Othor yang ini sepi banget, jadi Othor nggak punya semangat untuk update β€οΈ
Dukung Othor yuk, agar Othor Lebih semangat πππ