
Setelah pesta selesai, Alkan kembali ke kamarnya, pria itu melihat Kia sedang tidur meringkuk di atas ranjang pengantin yang sudah Renald siapkan.
Pria itu mendekat, lalu melihat wajah pucat Kia. "Sepertinya kau sangat kelelahan," gumam Alkan. Pria itu beranjak, lalu pergi untuk membersihkan diri. Setelah itu Alkan tidur di samping Kia seraya memeluknya erat.
Setelah mendengar nafas Alkan teratur, wanita itu menoleh lalu menatap wajah tampan suaminya. "Entah kenapa? Aku merasa bahwa kita tidak akan lama untuk bisa bersama seperti sekarang Mas," batin Kia. Wanita itu kembali memejamkan matanya, dan ikut terbawa ke alam mimpi.
Adzan subuh berkumandang. Alkan bangun terlebih dahulu lalu membersihkan dari dan mengambil wudhu. Setelah itu Alkan membangunkan istrinya.
"Zaujaty, bangun! Kita sholat jamaah dulu sayang!" ajak Alkan. Pria itu sudah rapi dengan baju koko dan sarung, tak lupa juga peci yang membuat pria itu semakin memancarkan ketampanannya.
Kia menggeliat, lalu menatap wajah tampan suaminya. "Terima kasih, Mas," ucap Kia tersenyum sambil mengerjakan matanya sesekali.
"Kembali kasih sayang, cepat ambil wudhu! Aku tunggu!" ucap Alkan. Pria itu beranjak, lalu duduk di sajadah yang sudah ia siapkan untuk shalat berjamaah bersama Kia, sedangkan Kia tersenyum menatap langkah Alkan, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu.
Saat akan menyiram ke wajahnya, ia mengusap hidungnya yang serasa ada sesuatu yang mengalir, Kia tidak terkejut lagi karena bukan pertama kalinya Kia mengalami seperti itu.
"Aku harus ke rumah sakit besok!" gumam Kia.
Wanita itu melanjutkan wudhu nya. Lalu, menyusul Alkan yang sedang menunggu dirinya untuk shalat berjamaah.
"Sudah selesai?" tanya Alkan tersenyum, saat melihat Kia sudah rapi dengan mukenah putih yang membuat wanita itu semakin cantik saat dipandangnya. Kia mengangguk seraya tersenyum, lalu berdiri di sisi Alkan.
Alkan iqamah terlebih dahulu sebelum memulai shalat, membuat Kia meneteskan setitik air matanya karena terharu masih diberi kesempatan untuk mempunyai suami shaleh seperti Alkan.
......❤️❤️❤️❤️❤️......
Ke esokan harinya Kia pergi ke rumah sakit tanpa Alkan. Ia terpaksa tidak pamit pada suaminya karena takut membuatnya khawatir.
Alkan berangkat ke pesantren sebelum Kia hingga ia tidak mengetahui kepergian istrinya. Kia sengaja minta izin untuk menginap lagi di mansion daddynya untuk memastikan kesehatannya tanpa sepengetahuan Alkan.
Kia menyembunyikan tentang mimisan yang dialaminya karena takut mempunyai penyakit yang serius hingga membuat Alkan khawatir. Kia tidak mau terlihat lemah di hadapan siapapun tak terkecuali Alkan.
Sesampainya di rumah sakit, Kia langsung memeriksakan dirinya ke dokter. Gadis itu terkejut setelah mendengarkan penjelasan Dokter.
"Dari pemeriksaan yang kami dapatkan, Anda di vonis leukimia, nona Kia!" ucap Dokter yang mengecek keadaan wanita itu.
Deg
Tubuh Kia semakin terasa lemas saat mendengar penjelasan dokter. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
"Apa Anda yakin Dok?" tanya Kia dengan wajah pucat.
"Yakin, nona!" Anda harus rajin melakukan cuci darah agar kesehatan Anda tidak menurun," ucap Dokter yang mengecek keadaan Kia.
Tes
Setitik air mata Kia jatuh menetes tanpa terasa. Kia berusaha tegar dan percaya bahwa ia pasti sembuh. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa kematian kini tergambar jelas di depan mata.
Wanita itu pamit pada dokter tersebut, lalu meninggalkan rumah sakit dengan langkah gontai.
Sepanjang perjalanan Kia melamun, memikirkan tentang masa depan dirinya dengan suami yang teramat ia cintai. Ia tidak ingin meninggalkan Alkan. Akan tetapi penyakit yang ia derita membuat Kia dilanda ketakutan.
Sesampainya di mansion. Kia langsung ke kamarnya, ia menangis setelah mengetahui tentang kondisinya. Namun, ia teringat dengan ucapan ustadzah sewaktu mondok bahwa Allah tidak akan menguji kesabaran seorang hamba melebihi batas kemampuannya.
Kia mengehentikan tangisnya, lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang, Alkan menghubungi Kia bahwa pria itu akan menjemput Kia setelah shalat Dzuhur.
Setelah mendengar Azdan berkumandang, dengan cepat Kia membereskan sisa-sisa tisu di kamarnya agar Alkan tidak mengetahui bahwa ia habis menangis, setelah itu Kia mengambil wudhu dan shalat dzuhur.
Seusai shalat, pintu kamar Kia terbuka dan menampilkan sosok Alkan yang tersenyum dengan begitu manis.
"Assalamualaikum," Alkan memanggil salam dengan lembut.
"Mas Alkan sudah shalat?" tanya Kia sambil membuka mukenahnya.
"Sudah tadi di Mesjid depan."
"Aku tadi masak, Mas Alkan mau coba?" tanya Kia tersenyum seraya mendekat ke arah suaminya.
"Boleh." Alkan membalas senyuman Kia.
"Ya sudah, kita ke ruang makan!" ajak Kia seraya menarik tangan Alkan.
Sesampainya di sana, Kia mengambil makanan yang ia masak dengan setulus hati. Mereka duduk bersebelahan dengan Kia yang terus memperhatikan suaminya yang sedang makan.
Alkan menoleh. "Kenapa kamu nggak makan sayang?" tanya Alkan bingung.
"Aku mau disuapi Mas," ucap Kia menahan sesak karena takut berpisah dengan suaminya dalam waktu dekat.
Alkan tersenyum, lalu menyuapi istrinya dengan begitu telaten. "Aku suka sikap manjamu sayang, meskipun aku sedikit merasa aneh," ucap Alkan jujur.
__ADS_1
"Aneh kenapa Mas! Apa Mas Alkan juga mau ku suapi?" tanya Kia sambil mengunyah.
"Boleh," jawab Alkan tersenyum.
Akhirnya mereka makan dengan saling menyuapi. "Aku tidak ingin membuang waktu bersamamu, Mas!" ucap Kia tersenyum sendu.
"Aku pun begitu. Akan tetapi, ucapan mu seakan-akan kau akan pergi meninggalkanku. Jangan pernah bicara begitu lagi! Kau membuatku membayangkan sesuatu yang tidak aku inginkan." Alkan mengelus pipi Kia dengan senyum yang tak memudar.
"Aku mencintaimu, Mas!" Kia memegang tangan Alkan yang menempel di pipinya dengan menatap penuh cinta.
"Aku juga sangat mencintaimu, Zaujaty!" ucap Alkan membalas tatapan Kia.
Kia bangkit dari tempat duduknya, lalu memeluk Alkan erat sambil menangis sesenggukan. "Hey, kau kenapa sayang?" tanya Alkan khawatir melihat tingkah aneh Kia.
"Aku nggak apa-apa Mas!" ucap Kia setelah melepaskan pelukannya.
Alkan berdiri, lalu membawa Kia ke dalam dekapan pria itu. "Kita ke kamar, ceritakan apa yang membuatmu bersedih!" ucap Alkan. Kia mengangguk dalam pelukan suaminya.
Mereka berdua beranjak, lalu duduk bersebelahan dengan Kia yang menyandarkan kepalanya di bahu Alkan setelah sampai di kamar Kia.
"Mas, jika aku minta sesuatu, apakah kau akan mengabulkannya?" tanya Kia.
"Insya Allah, jika aku mampu!" jawab Alkan.
"Memangnya apa yang kau inginkan? Jangan bersedih lagi! Aku akan berusaha untuk mendapatkan apapun yang kau minta," ucap Alkan.
"Aku hanya ingin Mas Alkan menikah lagi."
......🍁🍁🍁🍁🍁......
^^^Bersambung.....^^^
Assalamualaikum Readersku sayang 🥰
Ada yang merindukan Othor nggak 🙈
Pastinya enggak ya?
Jangan lupa dukungannya
__ADS_1
Klik Like, Komen and Vote seikhlasnya ❤️