
Kia dan Anggi telah sampai di depan pintu kelasnya, ternyata benar Ustazdah Zulaika sudah sudah berada di dalam kelas dan menyuruh anak-anak menghafalkan Kitab Nadzmul ajrummiyah satu lembar dan maju ke depan satu persatu.
"Assalamu alaikum." Anggi memanggil salam sambil tersenyum dan menundukkan kepalanya, sedangkan Kia menundukkan kepalanya tanpa senyum dan tanpa kata.
"Kalian dari mana saja?" ucap ustazdah Zulaika.
"Kami..." ucap Anggi terpotong, dia bingung harus menjawab apa.
"Maaf, kami di ajak Neng Arofah ke rumahnya. Tetapi tidak jadi, karena Gus Alkan sepertinya tidak menyukai kami." Kia menjawabnya datar tanpa senyum.
"Kalian ini tidak tau sopan santun? Neng Arofah itu putri dari Kyai Syarif, kalian nggak pantas berteman dengannya. Jagalah sikap kalian jangan melewati batas!" Ustadzah Zulaika marah karena sebenarnya dia menyukai Gus Alkan, ia takut Gus Alkan tertarik pada Kia dan Anggi karena paras mereka yang cantik.
"Sekarang kalian nggak boleh ikut mata pelajaran dan kalian harus berjemur di lapangan pesantren, sambil mengangkat salah satu kaki kalian," ucap Ustazdah Zulaika ber api-api.
Kia langsung pergi melangkahkan kakinya menuju lapangan pesantren tanpa membantah dan tanpa ekspresi apapun. Anggi hanya mengikutinya dan cemberut karena ia harus di hukum dengan kesalahan yang tak sesuai, karena ia hanya menuruti keinginan Neng Arofah.
__ADS_1
...πππππ...
Sementara di dalam rumah Kyai Syarif, Alkan yang merasa bersalah karena menilai teman adiknya tanpa mengenal Kia dan Anggi terlebih dahulu, kini Alkan mendekati kamar Arofah. Namun, Arofah yang sudah selesai mengambil kitab dan bukunya melangkah keluar kamar. Namun, di depan kamar ia berpapasan dengan kakaknya.
"Rofa...! maafin kakak, karena kakak sempat berburuk sangka pada kedua sahabatmu. Sampaikan salam maafku pada mereka!" ucap Alkan datar.
"Insya Allah, Arofah sampaikan Kak." Arofah tersenyum berbinar karena itu artinya Alkan tak melarang Arofah berteman dengan Kia dan Anggi.
"Akan tetapi ingat! jangan sampai kau mengikuti tingkah mereka jika mereka melakukan perbuatan yang tak semestinya, ingatkan mereka jika mereka salah!" ucap Alkan.
Setelah Alkan mengambil kitab, ia langsung mengajak 3 ustadz yang di suruh duduk menunggu di sofa ruang keluarganya. Namun, saat Alkan berada di teras rumah, Alkan menoleh ke arah lapangan dan melihat Kia berjalan dengan cepat dengan Anggi yang mengekor di belakangnya. Alkan terus memperhatikan mereka hingga Kia dan Anggi sampai di lapangan dan menjalani hukumannya. Alkan yang melihat pemandangan itu, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku nggak mau berburuk sangka, tetapi mengapa mereka seolah-olah memancingku agar aku berpikiran negatif." Alkan melanjutkan langkahnya, melewati lapangan yang mana Kia dan Anggi menjewer telinganya sendiri sambil mengangkat salah satu kaki mereka.
"Kiaaa, Anggiii, Kalian ngapain?" tanya Arofah menghampiri Kia dan Anggi yang sedang dihukum.
__ADS_1
"Kami telat Neng...,dan kami harus menjalani hukuman," ucap Anggi dengan wajah polosnya.
"Ya udah aku temani kalian," ucap Arofah tersenyum, lalu meletakkan kitab dan bukunya di bangku lapangan.
Alkan yang mendengarkan ucapan Arofah langsung berbalik dan menghampiri Arofah, menatap adiknya tajam.
"Arofah! aku tau kau menyayangi mereka, tetapi tak semestinya kau menjalani hukuman, kau putri pengasuh disini, lebih baik kau masuk kelas sekarang!" Perintah Alkan.
"Baik Kak." Arofah mengambil kitab dan bukunya tadi, yang diletakkan di bangku pinggir lapangan.
Sebenarnya Arofah sedih untuk meninggalkan ke dua sahabatnya, tetapi apa yang dikatakan kakaknya benar, bahwa selama ini Arofah tidak pernah di hukum karena terlambat, karena para guru dan santri sangat menghormatinya.
...πππππ...
...TBC...
__ADS_1