TASBIH CINTA

TASBIH CINTA
Cowok norak


__ADS_3

Kia dan Anggi mengelilingi pesantren sambil mencari kantin. Mereka tak memperdulikan para santri yang menatap mereka aneh, karena Kia menenteng roknya yang terasa ribet, Kia tak pernah memakai rok panjang sebelumnya, jadi Kia merasa kesulitan untuk berjalan.


"Ki, turunin rokmu itu! kamu di lihatin banyak orang tau." Anggi menatap sekelilingnya.


"Mereka bukan lihat aku, tapi lihat kamu yang dandanannya kayak badut." Kia tetap tak mendengarkan ucapan Anggi.


"Kia...!" Anggi cemberut lalu berhenti melangkah sambil menghentakkan kedua kakinya.


"Udah ayo!" Kia menarik lengan Anggi.


"Kamu tega sama aku Ki, masak aku yang super perfect kayak gini malah di bilang kayak badut." Anggi mengikuti langkah Kia meskipun ia lagi kesel.


"Ki..., " Anggi menghentikan langkahnya dan menarik lengan Kia.


"Apaan sih Nggi," Kia cemberut, lalu menoleh ke arah Anggi yang sedang tersenyum menatap ke arah pintu gerbang asrama putra.


"Lihat Ki, ada pangeran disana?" Anggi melihat putra Kyai Syarif melangkah menuju asrama putra. Anggi begitu kagum dengan ketampanan Alkan.


"Cowok norak kayak gitu aja kau kagumi, udah ayo pergi." Kia menarik lengan Anggi tak memperdulikan Anggi yang sedang kesel.


"Kiaaaa! kamu nyebelin banget sih, kau ngerusak kesenanganku saja. Apa tadi kau bilang? cowok norak? ku sumpahin kau jatuh cinta padanya." Anggi kesel karena Kia tak memperdulikannya.

__ADS_1


"Nggak akan! tipeku bukan cowok kayak gitu, dia nggak ada menarik-nariknya sama sekali." ucap Kia.


"Nah, itu kantinnya." Kia menunjuk tulisan kantin pada Anggi.


"Kamu jangan boros Ki...! disini uang jajan kita di jatah, bukan orang tua kita yang ngejatah, tapi kata ayah ini adalah peraturan pesantren. Sehari uang jajan kita nggak boleh lebih dari 50 ribu.


"What?" Anggi kaget.


"Biasa aja kali Ki! nggak usah kaget kayak gitu! setelah Shalat zduhur, nanti kita antre ambil makanan didapur pesantren.


"Apa kamu bilang? ngantre? lama-lama aku bisa gila jika terus-terusan disini. Lebih baik kau saja yang ngantre, sekalian ambilkan untukku!" Kia menuju tempat duduk kantin.


"Ih..., kamu itu nyebelin amet sih Ki?" ucap Anggi.


"Udah sana! aku kan lebih tua, jadi kamu harus nurut." Kia tersenyum.


"Ucapan itu... aja yang kau andalkan." Anggi meninggalkan Kia melangkah menuju penjaga kantin.


"Mbak, aku pesan minumannya ya dua." Ucap Anggi.


"Ya udah, silahkan duduk dulu ya dik! tapi inget, jangan lama-lama! karena sebentar lagi hadiran sholat zhuhur, kalian harus cepet ke musolla sebelum azdan berkumandang." Rizma tersenyum.

__ADS_1


"Iya mbak." Anggi melangkah menuju kursi yang di duduki oleh Kia, lalu duduk disebrangnya.


Setelah beberapa saat Rizma datang dan membawa nampan yang berisi minuman, dan meletakkannya didepan Kia dan Anggi.


"Kalian anak baru?" tanya Rizma.


"Iya, memangnya kenapa Mbak?" tanya Anggi, sedangkan Kia hanya cuek tak memperdulikan pertanyaan Rizma.


"Nggak! cuma biasanya kalau jam segini para santri udah pada ambil wudlu' untuk melaksanakan hadiran sholat dzuhur. Jika telat biasanya di hukum." Rizma menatap Kia dan Anggi bergantian.


"Terima kasih Mbak atas perhatiannya." Anggi tersenyum.


"Sama-sama," jawab Rizma.


"Ayo Ki..., ambil wudlu'." Anggi menarik lengan Kia setelah Kia meminum juz jeruk yang di bawa Rizma.


Kia mengikuti langkah Anggi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sedangkan Rizma hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Kia dan Anggi.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2