
" Hei.. della " sapa vanya sinis.
"Joy apa setelah ini kamu ada waktu kosong " tanya della yang tak suka dengan keberadaan vanya didekat joy.
"Sepertinya schedule ku padat hari ini, maaf kan aku del " jawab joy yang melirik kearah vanya yang sedang kesal terhadapnya.
" yahhh., padahal aku ingin makan bersama kamu " ujar della kecewa mendapatkan penolakan dari joy.
Marchel hanya mendengarkan percakapan sahabatnya dengan della karena dalam pikiran marchel dipenuhi rasa kesal dengan sikap marthin terhadap clarissa.
" Ya udah nanti kabari aku jika kamu ada waktu joy " ucap della yang memegang pipi kiri joy.
sabar van.. gak boleh marah okey... huftt.. batin vanya.
"Tu kamu dipanggil manager mu.. sono pergi.." ujar vanya mengibaskan tangannya didepan della.
Della pun pergi meninggalkan joy yang belum menjawab ucapannya. Dengan raut wajah kesal della menghampiri managernya yang sedang sibuk melihat hasil pemotretan yang baru diambilnya.
"Ada apa hah " ucap della kesal .
"Lihat ini.. kau terlihat sedang kesal dipemotretan ini " ucap manager della yang sudah muak bekerja dengan della.
"Maksud kamu apa..! aku udah cantik gini dibilang jelek gitu.." ucap della memukul lengan managernya lalu berjalan ke kursinya.
Berbeda dengan meja yang ditempati marthin terlihat wajah ceria yang nampak dirona wajah marthin.
" Aku udah kenyang " ucap marthin yang menolak suapan dari clarissa yang membuat suapan yang seharusnya untuk marthin jadi dirinya yang memakannya.
" benaran.. " tanya clarissa yang membuat assisten marthin berpikir jika marthin hanya takluk ke clarissa.
Gue yakin jika pawangnya marthin clarissa.. ha ha.. tapi siapa clarissa bahkan tuan andres pun bisa tersenyum didepannya.. gumam hati assisten mince.
Assiten marthin terus menatap kepada dua orang yang didepannya yang masih dengan rasa heran. Mince sudah lama bekerja menjadi assisten marthin tapi ini baru pertama kali marthin bersikap manja didepannya berbeda dengan marthin yang selama menjadi bosnya.
" kamu kenapa lagi.." tanya clarissa yang sedang memakan makanannya.
" gak pa pa.. aku hanya bingung dengan pria yang kamu suka kenapa dia bodoh sekali tidak melihat ketulusanmu selama ini,," ujar marthin yang memegang kedua pipi clarissa dan mencium rambut clarissa yang dibalas dengan senyuman clarissa.
" udah ceritanya,, " ucap clarissa yang menjadikan marthin terkekeh kembali berjalan ke tempat dimana komputer yang digunakan untuk menyimpan hasil foto yang diambil.
Marthin hanya menggelengkan kepalanya lalu menjauh dari clarissa.
"Ada apa dengan tatapan mu,," tanya clarissa memincingkan matanya melihat tatapan mince terhadapnya.
" Jangan tanya jika kamu mau bilang jika aku adalah pacar marthin.. Aku sahabatnya jadi jangan berpikir sejauh ini okay.." ujar clarissa yang dianggukkin mince.
" Ah.. tidak bukan begitu, cuma he.." Belum selesai melanjutkan perkataannya marthin sudah memanggilnya yang membuat diri mince sangat kesal.
" Iya.. ada bos " tanya mince assisten marthin yang melihat gambar hasil jepretan dari marthin.
" Duduk dan lihat gambar foto ini.." perintah marthin dengan tatapan kesal karena ini bukan tugasnya.
__ADS_1
" Gak usah sok ngeluh.. cepat kerjakan " perintah marthin.
" Baiklah.." jawab assisten mince yang tak bisa menolak perintah bosnya.
Saat marthin sedang sibuk dengan camera nya marchel mencoba mendekati clarissa tapi melihat clarissa yang asyik dengan ponselnya, Marchel mengurungkan niatnya sebenarnya marchel sudah enggan duduk bersama joy dan vanya yang membuat mood nya tambah kesal.
" Apa liat-liat, senang tuh diajakin makan bareng " ucap vanya bernada kesal.
Kali ini joy harus ektra sabar jika menghadapi vanya yang sedang marah terhadap dirinya karena della.
" memang salah jika aky sedang melihat cewek cantik sedang kesal.. he he " ujar joy yang membuat dirinya harus menerima pukulan dilengannya.
Joy pun menyeringai kesakitan mendapar pukulan dari vanya yang sebenarnya tidak terasa oleh joy.
" aww.. sakit van.. " ucap joy mengusap lengan yang dipukul vanya.
" begitu aja sakit.." ujar vanya yang bangkit dari kursinya.
" mau kenapa kamu.." tanya joy yang tak dihiraukan vanya.
Vanya tak menjawab
Vanya terus berjalan mendekati clarissa yang duduk sendiri.
*****
lu kenapa sih chel.. dari tadi menatap clarissa.. ettttt,, jangan bilang lu cemburu clarissa dekat dengan marthin.," ucap joy yang langsung mendapat tatapan dingin dan kesal terhadapnya.
Marchel hanya terus menatap dua gadis yang sedang fokus berbincang-bincang yang sedikit menimbulkan tawa dari diri mereka sendiri.
"Sa, apa kamu punya hubungan dengan marthin " tanya vanya ragu
" aku hanya sahabatnya, kami emang akrab sehingga banyak yang mengira kami pacaran.," ujar clarissa
" ohh.,tapi sepertinya marthin menyukai mu.." ucap vanya.
" iya aku tau.." ucap clarissa terdengar santai.
" Hah.. serius sa.." ucap vanya yang tak percaya jika marthin menyukai.clarissa.
" Tapi hanya sebagai sahabat.." ucap clarissa yang mentoel hidung vanya.
Clarissa berjalan mendekati marchel untuk meminta marchel untuk mengganti pakaiannya yang akan diambil gambar dirinya dan joy serta della.
" Bersiaplah untuk pengambilan gambar terakhir jangan terus menatap ku begitu.." ucap clarissa yang membuat marchel gelagapan mendengar ucapan clarissa pada dirinya.
Clarissa melanjutkan langkahnya mendekati marthin yang disambut pelukan dipinggangnya yang membuat della murka.
"Bagaimana hasilnya.." tanya clarissa yang menggelengkan kepalanya melihat sikap marthin terhadap dirinya.
" Apa kau ingin membuat semua orang mengira aku pacar kamu.." ucap clarissa kembali yang melepaskan tangan marthin yang membuat marthin terkekeh.
__ADS_1
" Tidak, aku hanya merindukan mu sangat.." ucap marthin yang kembali fokus dengan cameranya.
Mereka pun melanjutkan pemotretan kembali banyak gambar yang diambil. Untuk edisi limited majalah ily bulan depan.
Setelah selesai mereka pun berpamitan satu sama lain kecuali della yang menatap sinis clarissa.
" Dasar wanita j*l**g.. " ucap della yang membuat vanya hampir menampar pipi della tapi clarissa dengan cepat menarik tangan vanya.
" udah van.. biarin saja.. lagian dia itu iri.. ha ha.. " ucap clarissa dengan gelak tawa yang membuat della semakin kesal dan pergi begitu saja.
"Tu liat pergi dengan sendiri kan, orang seperti itu jangan dilawan kalo dilawan malah dia kesenangan.. " ujar clarissa yang diangguki vanya.
" Baiklah.." jawab vanya yang masih cemberut karena joy.
" Terus muka lu jangan ditekuk terus kalo joy itu sangat mencintai mu jadi percayalah ke joy.. " ucap clarissa yang tak ingin vanya berlama-lama marah ke joy.
" hmmm.. "vanya pun tersenyum mendengar ucapan clarissa yang menurutnya ada benarnya.
" Gitu donk.. kali gitu tunggu aku dicaffe depan lobby perusahann ini, aku akan menemui tuan andres untuk kontrak joy dan marchel.." ucap clarissa yang berkata bohong tentang urusan kontrak joy dan marchel yang sebenarnya clarissa sudah menanda tangani kontrak tersebut jauh hari.
Clarissa ingin menemui andre ingin menghajar kakaknya yang membuat dirinya hampir ketahuan dalam penyamarannya.
" Okay.. " ucap vanya yang sudah merapikan tas bawaanya.
" katakan pada mereka yah.. aku pergi sebentar.." ucap clarissa pergi berjalan menuju ruangan andres kakaknya.
Marchel yang melihat kepergian clarissa pun menanyakan ke vanya apa yang membuat clarissa pergi dengan terburu-buru.
"Mau pergi kemana dia.." tanya marchel yang mengagetkan vanya.
"histtt.. kenapa tiba-tiba nongol.. clarissa mau menemui tuan andres.." jawab vanya yang menatap marchel kesal.
" Untuk apa.." tanyanya kembali.
" Membahas kontrak kalian lah, Apa lagi.." ujar vanya yang menerima uluran tangan dari joy yang tiba-tiba mendekati vanya.
"Ada apa.. ayo kita pulang," ucap joy yang membawakan tas bawaan vanya.
" kata clarissa kita harus nunggu dia sebentar dicaffe dekat lobby perusahaan ini selama dia menemui tuan andres membahas kontrak kalian.." ujar vanya yang berjalan pergi dan disusul marchel.
*-*-*-*-*
***JANGAN LUPA LIKE AND VOTE UNTUK TERUS DUKUNG CERITA NOVEL AKU.
MOHON MAAF JIKA MASIH ADA KATA YANG KURANG TEPAT.🙏🙏🙏
~ THANK YOU ~
❤ 감사합니다 ❤
^ ^dukungan dari kalian lah yang menjadi semangat aku untuk terus menulis*** ^^
__ADS_1