Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 10


__ADS_3

Siang itu, Zafran dan Daniel sedang bertugas di jalanan. Mereka berdiri di bawah teriknya matahari. Tapi, itu tidak membuat mereka mengeluh. Itulah tugas dan tanggung jawab yang mereka emban sekarang.


"Zaf, kapan ya kita akan naik pangkat?" tanya Daniel sambil membayangkan ketika dirinya akan dinaikkan pangkatnya.


Zafran menepuk bahu Daniel. "Sabar. Jalani saja ini dulu."


"Humm...kau benar, Zaf. Aku ingin dinaikkan pangkatnya bersamaan denganmu. Aku rasa itu menyenangkan." ucap Daniel penuh harap.


"Ya. Berdo'a saja agar kau dan aku dilantik secara bersamaan." sahut Zafran.


Mulut mereka berbicara tanpa memandang lawan bicara. Mata mereka hanya terfokus ke jalanan.


Mereka berdua berdiri tepat di dekat lampu lalu lintas. Saat lampu merah tiba ada seorang pengendara wanita yang membuat Daniel memekik senang.


"Bukankah itu Reva?"


Zafran celingak-celinguk. "Mana?" tanyanya penasaran.


"Astaga, Zaf! Padahal hanya berjarak beberapa meter darimu." ujar Daniel geleng-geleng kepala.


"Biarkan." balas Zafran bodoamat.


"Mau kemana, hah!?" tanya Zafran saat melihat Daniel beranjak dari tempatnya.


Daniel hanya tersenyum sambil membetulkan letak topi dinasnya. "Mau menyapa calon ibu ratu dulu." jawab Daniel langsung melangkahkan kakinya mendekati pengendara motor yang dia pastikan itu Reva.


"Hai." Daniel menyapa Reva tepat di sampingnya.


Reva menoleh sambil mengerutkan dahinya. "Ya?"


"Apakah kau lupa denganku? Sungguh?" ujar Daniel tidak percaya atas respon yang diberikan oleh Reva.


"Hehe. Tidak!" jawab Reva menyengir.


"Huft! Syukurlah." ujar Daniel mengelus dada.


"Ada apa, Kak?" tanya Reva sambil melihat lampu lalu lintas yang masih betah di posisi merahnya.


"Tidak apa. Cuma menyapa saja. Sendirian?"


Reva menganggukkan kepalanya di balik helm. "Iya, Kak."


"Lha, memangnya si gadis bar-bar kemana? Biasanya kalian selalu menempel bak perangko." heran Daniel.


"Gadis bar-bar?" beo Reva.


"Iya. Gadis bar-bar."


"Siapa, Kak?"


"Astaga! Aku lupa. Emmm...gadis bar-bar itu si Ceisya? Ya, Ceisya!"


"Oh, Ceisya." jawab Reva ber'oh.


"Iya. Dimana dia?" kepo Daniel.


"Pulang, Kak." jawab Reva jujur.


"Pulang?" tanya Daniel.


"Iya pulang." jawab Reva. "Sudah dulu ya, Kak. Lampunya sudah berubah warna hijau. Duluan, Kak Daniel." pamit Reva langsung melesat begitu saja meninggalkan Daniel yang masih berdiri di tempatnya dalam keadaan bingung.

__ADS_1


Daniel langsung kembali mendekati Zafran dengan wajah orang seperti ling-lung.


"Kenapa dengan wajahmu itu? Sangat menjengkelkan!" seloroh Zafran.


"Entahlah, Zaf."


Zafran yang bodoamat memilih diam dan menyimpan pertanyaan-pertanyaan di benaknya.


Sementara si tempatnya, Ceisya baru saja keluar dari mobil sang Ayah saat mereka baru saja tiba di rumah sakit.


"Piji, ayok, cepat!" ujar Ceisya saat sang adik masih betah di dalam mobil.


"Ck! Sabar kenapa sih, alien." sahut Rizki kesal melihat sang Kakak yang tidak sabaran.


"Sya!" tegur sang Ayah yang langsung membuat Ceisya menyengir.


Ceisya yang sudah agak jauh dari posisi mobil terparkir kembali balik melangkahkan kakinya mendekati dua orang laki-laki dua generasi itu.


"Ayok! Udah kangen sama Bunda."


Ceisya langsung menarik kedua lengannya Ayahnya dan sang adik kemudian memeluknya. Seolah-olah dirinya yang di apit dan menjadi bahan rebutan.


"Dasar manja!" cibir Rizki.


Ceisya memeletkan lidahnya ke arah sang adik seolah berkata "Biarin."


Rizki hanya pasrah saat lengannya digandeng oleh sang Kakak. Dia yang biasanya protes kini lebih memilih diam karena badannya berlalu lemas. Ya, akibat perbuatan sang Kakak berefek hingga saat ini.


Saat baru memasuki kawasan rumah sakit, tiba-tiba Faisal sang Ayah melepaskan gandengan Ceisya di tangannya.


"Why, Ayah?" tanya Ceisya.


"Sudah. Kalian duluan saja. Ayah mau mengurus administrasi Nenek kamu sebentar. Nanti Ayah nyusul." ujar Faisal memberi penjelasan agar anak sulungnya tidak tersinggung.


Pletakk


"Aduh! Ayah tega banget deh sama anak sendiri." Ceisya mengelus dahinya yang baru saja di jitak oleh sang Ayah. Sebenarnya tidak sakit. Tapi, bukan Ceisya namanya kalau tidak membesar-besarkan masalah.


"Ngawur. Bunda kalian tidak akan pernah ada yang nyaingin."


"Hehehe...di belakang aja Ayah berani. Coba di depan Bunda?" ledek Ceisya.


"Anak nakal! Sanah!"


Ceisya langsung berlari sambil menyeret tangan sang adik sebelum mendapatkan amukan dari Ayahnya.


"Piji, kau kenapa diam dari tadi?" tanya Ceisya sembari mendongakkan kepalanya sedikit ke atas.


"Entahlah, alien. Rasanya badanku lemas akibat perbuatanmu. Kalau aku sakit kau harus tanggung jawab!"


"Hehehe...tenang adikku sayang. Kau lupa ya kalau Kakakmu ini kuliah jurusan kedokteran." sahut Ceisya bangga.


"Kedokteran gigi. Memangnya bisa?"


"Hehe...tidak tau."


Dua sejoli yang faktanya Adik Kakak itu terus mengobrol di sepanjang perjalanan menuju ruang rawat inap sang Nenek. Membuat para perawat dan Dokter di sana menjadi iri dibuatnya. Jika dilihat mereka sudah seperti pasangan yang baru saja kasmaran. Bagaimana tidak, ukuran tubuh Rizki yang memang tinggi mengalahi sang Kakak. Sedangkan Ceisya hanya sebatas bahunya saja. Belum lagi tangan Ceisya yang mengandeng erat lengan sang adik. Ditambah sesekali mereka tertawa kerena obrolan mereka.


"Di sini?" tanya Ceisya saat Rizki berhenti tepat di depan pintu ruangan.


Rizki hanya mengangguk dan mengajak Kakaknya masuk ke dalam.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum." ujar keduanya.


"Wa'alaikumsalam." jawab seorang wanita paruh baya yang masih tetap cantik di usianya yang sudah menginjak kepala empat. Dan kecantikannya itu menurun ke anak sulungnya.


"Bunda."


Ceisya langsung menubruk tubuh Bundanya dan memeluk erat. "Kangen." ujarnya sambil mengusel-uselkan kepalanya di dada sang Bunda.


"Manjanya anak Bunda." sahut Naina sang Bunda sambil mengelus sulur rambut Ceisya yang berada di dekapannya.


Ceisya mendongakkan kepalanya menatap Naina tanpa melepaskan pelukannya. "Nenek, Bun." netra mata Ceisya terhenti saat melihat sesosok wanita yang sudah berumur yang terbaring di atas ranjang dengan infus yang melekat di tangan kirinya.


"Iya. Coba bicara sama Nenek."


Ceisya melepaskan pelukannya kemudian melangkahkan kakinya mendekati ranjang.


"Nek..."


Ceisya menggenggam salah satu tangan Neneknya yang terbebas dari infus.


Tidak lama kemudian sang Nenek mengerjapkan kedua matanya dan yang orang yang pertama dia lihat adalah sang cucu. Neneknya tersenyum. Kemudian berbicara dengan nada yang sudah tidak teratur. Namun masih bisa diartikan kalau mendengarkannya dengan baik.


"Cucu Nenek."


"Iya, Nek. Ini Ceisya cucu Nenek." jawab Ceisya.


"Kamu sehat, Sayang?"


Lihatlah! Ingin rasanya Ceisya menabok pelan bokong Neneknya. Di saat sakit bisa-bisanya dia menanyakan kabar cucunya yang tentu saja sehat wal'afiat. Buktinya bisa menapakkan kakinya di lantai.


"Sehat dong. Nenek juga harus sehat ya? Katanya kan mau ketemu Ceisya. Nih aku udah di samping Nenek."


"Sekarang Nenek sudah tenang saat melihat paras cucu Nenek ini."


"Nenek! Jangan bicara seperti itu." ujar Ceisya cemberut.


"Lha, memang benar toh. Nenek hanya mau bertemu dengan cucu Nenek yang nakal ini. Apakah masih nakal, hem?" goda Neneknya.


Secepat kilat Ceisya menggeleng. "Tidak, Nek. Ceisya tidak nakal lagi kok."


"Kamu berbohong, cu. Lihatlah bola mata kamu bergerak gelisah. Ada apa, hem? Apa yang sudah kamu lakukan saat baru saja sampai di rumah?" tebak sang Nenek yang sudah nafal betul tabiat sang cucu.


Sebelum Ceisya berbicara, dia sudah di sela oleh Rizki.


"Iya, Nek. Alien nakal ini berbuat ulah. Kau tau apa yang baru saja dia lakukan, Nek?" tanya Rizki.


"Memangnya apa yang sudah dilakukan oleh alien kesayanganmu ini?"


Ceisya melototkan kedua bola matanya ke arah Rizki. Sedangkan Nenek dan Bundanya semakin penasaran saat Rizki menggantungkan kalimatnya.


"Nakal, Nek, Bun. Sangat nakal!" Rizki memandang penuh smirk. "Sehabis aku pulang sekolah dia sudah menyamar menjadi alien sungguhan dan Mbak Kunti. Rasanya jantungku hampir copot akibat perbuatannya itu. Lihatlah! Efeknya masih terasa sampai sekarang." adu Rizki.


Nenek dan Bundanya yang tahu kelakuan Ceisya hanya menghela nafas berat.


"Hei, kau. Beraninya kau mengadu kepada Nenek dan Bunda, hah! Kau pikir mereka akan berpihak padamu? Oh, tidak semudah itu adikku!" ujar Ceisya setengah berteriak.


"Lihatlah, Nek! Dia sudah seperti alien sungguhan. Matanya seperti Mbak Kunti yang melotot." ejek Rizki kemudian bersembunyi di balik tubuh Naina, takut akan mendapatkan amukan dari alien kesayangannya.


"Berani-beraninya kau menghina Kakakmu, hah! Sudah bosan hidup rupanya!"


"Aduh..duhh..alien, lepaskan tanganmu dari kepalaku. Astaga! Kau begitu kejam. Arghhhh...Nenek, Bunda tolong aku dari amukan alien!" teriak Rizki saat Ceisya menyerangnya dengan brutal tanpa ampun.

__ADS_1


"Ayok, Sayang! Kau pasti menang! Cucuku memang hebat!"


__ADS_2