Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 56


__ADS_3

Di dalam kamar bernuansa biru-abu terdapat dua orang gadis yang tengah bercerita, curhat, dan masih banyak lagi. Mereka saling bertukar kabar, mengikis rindu persahabatan mereka.


Dipenuhi dengan gelak tawa, Ceisya tampaknya sangat gembira. Sesaat ia melupakan rasa di da da yang begitu menyiksa lantaran pria yang ia tunggu tak kunjung tiba.


"Eh, bentar, bentar. Jadi, kamu sama...?"


Ceisya menganggukkan kepalanya. "Yups."


"Wah! Hebat, emejing." pekik Reva.


"Trus trus. Sekarang dia ke mana?" tanya Reva sesaat setelah Ceisya menceritakan semua peristiwa yang ia alami. Untuk Reva, Ceisya tidak menutup-nutupi. Tidak ragu Ceisya menceritakan semuanya secara keseluruhan meskipun ada sedikit yang mungkin harus jadi privasinya.


Gadis itu mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Gadis itu juga tidak tau di mana keberadaan pria itu.


"Kasian loh ya. Beberapa kali aku gak sengaja ketemu, mukanya suram amat." ujar Reva lagi.


Melihat tatapan Ceisya yang menyiratkan akan ketidaktahuannya membuat Reva harus sedikit menjelaskan.


"Waktu kamu dikirim ke kota S, dia keliatan gimana ya. Susah jelasinnya. Berapa kali nanya aku, yaudah aku bilang aja gak tau. Hehe. Itu kan yang dibilang Tante sama Om. Jangan bilang ke siapa-siapa tentang kamu."


Ceisya menghela nafasnya lega. "Syukur deh."


"Hubungan kamu sama Kak Daniel gimana?" tanya Ceisya mengalihkan topik. Rasanya tidak nyaman selalu membahas tentang pria itu.


Terlihat rona merah di wajah sahabatnya itu. Ceisya menebak hubungan mereka pasti berjalan dengan lancar.


"Ya gak gimana-gimana, Sya. Eh, ya. Besok berangkat naik apa. Kamu mau naik taksi atau bareng aku motoran?"

__ADS_1


"Bareng kamu aja."


"Beneran? Emangnya kamu gak capek? Kan baru aja keluar dari rumah sakit. Nanti malam pegel-pegel lagi."


"Gak pa-pa kok, beneran. Bareng kamu aja ya?" rengek gadis itu membuat Reva tidak tega melihatnya.


"Huumm... yaudah deh."


"Yeayyyy... makasih, beb." Ceisya berhamburan ke pelukan Reva. Keduanya sama-sama tertawa dengan bebas.


Reva menginap, malam harinya selesai makan malam mereka kembali ke atas. Entah apa yang dilakukan keduanya, suara cekikikan mereka bahkan terdengar ke lantai bawah.


.


.


.


"Gak kebayang gimana banyaknya tugasku nanti." Ceisya tampak menerawang, kepalanya ia gadahkan ke atas, memandang langit-langit kamarnya yang berwarna abu-abu.


"Sabar. Kamu pasti bisa. Ayok! Semangat bestie." Reva memberi semangat sambil tangannya yang ia kepalkan.


Ceisya hanya tersenyum melihatnya. Oke! Mulai sekarang gadis itu pasti akan sibuk berkutat di hadapan laptopnya. Yang pastinya akan bergadang untuk merampungkan tugas-tugasnya yang tertinggal.


Tampaknya Ceisya tidak punya waktu untuk istirahat nanti, bahkan weekend pun ia akan sibuk. Mengejar ketertinggalan, semoga gadis itu bisa mengejar. Semoga nanti ia tidak akan tertinggal lagi, ketertinggalan yang akan membuat kuliahnya semakin lama.


Sebulan, bayangkan saja, sebulan ia tertinggal matkul.

__ADS_1


"Bantuin ya? Dikit aja..."


"Oke, kalau aku gak sibuk ya? Pasti aku bantuin kok. Bismillah aja, semoga ketertinggalanmu bisa dikejar. Aamiin."


"Aamiin." keduanya sama-sama berdo'a meng'amin'kan.


Saat tengah mengobrol, tiba-tiba suara Rizki, sang adik dari balik pintu menyuruhnta untuk turun, sarapan.


Keduanya sama-sama keluar. Lalu turun ke lantai bawah, menemukan Bunda Nai dan Ayah Faisal sudah duduk di meja makan.


Reva menundukkan kepalanya hormat sambil tersenyum kemudian mengambil duduk di samping Ceisya, sementara Rizki tampak mengambil duduk di samping Bundanya.


"Ayo, sarapan!" ujar Ayah Faisal mempersilahkan.


"Iya, Om." balas Reva sedikit canggung.


"Om, Tante. Ceisya katanya mau ikut Reva naik motor. Gak pa-pa?"


Ayah Faisal melirik anak sulungnya. "Benar, Sayang?"


"Iya, Yah. Gak pa-pa kan? Lagian Ceisya juga udah sehat kok."


"Hmm... yaudah deh. Kalau gak jadi, kabarin Ayah aja ya? Biar Ayah yang antar kalian berdua."


"Iya, Yah. Ayah tenang aja, gak bakalan kenapa-kenapa kok akunya."


Sesaat semuanya larut, menikmati sarapan di meja makan. Setelahnya Ceisya dan Reva bersiap-siap untuk berangkat. Terlihat keduanya berpamitan. Ceisya memeluk kedua orang tuanya secara bergantian. Disusul Reva yang menyalami dengan sopan.

__ADS_1


Keduanya sama-sama membaca do'a agar diperlancar perjalanan mereka menuju tujuan aman dan selamat. Baru setelah itu Reva menarik gasnya hingga motornya melaju membelah jalanan dengan Ceisya di jok belakang duduk dengan tenang.


Beberapa kali mereka berhenti, singgah untuk istirahat, dan mampir di warung makan.


__ADS_2