Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 9


__ADS_3

Sebelum memasuki rumahnya, Ceisya terlebih dahulu memandangi halaman rumahnya. Suasana yang sangat dia rindukan. Apalagi mendengar ocehan sang Bunda.


Ceisya berjalan menuju pintu yang setengah terbuka itu. Menarik nafasnya dalam sebelum mengucapkan salam.


Saat baru saja ingin berteriak, Ceisya dikejutkan oleh suara laki-laki yang entah dari mana muncul.


"Tidak usah berteriak, Sayang. Tidak akan ada yang mendengarnya." tegur laki-laki itu.


Ceisya hanya menyengir saat kelakuannya tertangkap basah bahkan sebelum melakukannya. "Hehe...Ayah tau aja."


"Apa sih yang tidak Ayah ketahui?"


Ceisya mendekat dan memeluk tubuh Ayahnya.


"Anak Ayah manja! Kalah sama adek kamu." goda Faisal sang Ayah sambil mengelus rambut Ceisya.


Ceisya melepaskan pelukannya dan menatap sang Ayah kesal. "Adek tuh cowok, Yah. Jadi, wajar aja. Lagian mana mau dia manja-manja. Takut nanti para cewek pada kabur." ujarnya.


"Oh, iya. Bunda dimana, Yah?" tanya Ceisya mengalihkan pandangannya melihat sekeliling rumahnya.


"Bunda sudah dari tadi malam di rumah sakit. Ayah pulang sebentar karena mau jemput anak Ayah ini." Faisal menjepit hidung Ceisya dengan jari jempol dan telunjuknya.


"Ish! Kok baru sekarang ngasih tau kalau Nenek sudah dari tadi malam di rumah sakit." balas Ceisya cemberut.


"Tidak mau mengganggu waktu istirahat kamu. Gih ke kamar! Istirahat dulu. Nanti siang kita baru ke rumah sakit."


"Hemmm...iyadeh."


Dengan langkah gontai Ceisya berjalan menuju kamarnya.


Siangnya sekitar pukul setengah dua siang, Ceisya keluar dari kamarnya dengan raut wajah segar karena sehabis mandi.


Menuruni anak-anak tangga dan berjalan menuju dapur. Perutnya keroncongan. Membuka tudung saji dan menemukan makanan kesukaannya di sana.


Dengan semangat Ceisya menyendokkan nasi dan menaruhnya di atas piring. Baru setelah itu dia menaruh lauk-lauk di atas piringnya.


Sementara itu, seseorang baru saja sampai di rumahnya. Masih dengan berpakaian seragam sekolahnya, dia keluar dari kamarnya. Saat baru menapakkan kakinya di beberapa tangga terakhir, telinganya mendengar suara dentingan sendok dari arah dapur.


"Tumben Ayah sama Bunda baru makan siang jam segini?" gumamnya sambil melihat ke arah jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah tiga.


Dengan penasaran dia melangkahkan kakinya menuju dapur. Netra matanya terhenti tatkala melihat sesosok manusia yang mempunyai postur tubuh sama dengan sang Kakak.


"Tidak mungkin kan si alien itu pulang? Apa mungkin itu alien sungguhan yang menyerupainya?" ujarnya yang masih bergumam tidak jelas kemudian bergidik membayangkan ada alien sungguhan yang memasuki kawasan rumahnya.


"Tapi, kalau dilihat-lihat itu seperti alien sungguhan. Lihatlah itu! Cara makannya saja sudah seperti orang yang tidak makan satu tahun."


Dengan langkah hati-hati dia mulai mendekati sesosok yang dia kira alien itu. Saat sudah tepat berada di belakangnya, dia kembali berpikir.


"Astaga apa-apaan kau, Rizki!" ujarnya sambil membalikkan badannya sempurna. Pulang sekolah membuat otaknya sedikit geser. Apalagi dia yang menjabat sebagai Ketua Osis di SMA Kelapa Gading. Sudah dipastikan posisinya akan berat. Apalagi dia harus mengurusi tentang kompetisi yang akan segera diselenggarakan di sekolahnya.


Saat dia membalikkan badannya lagi dan untuk memastikan sesosok itu nyata ataukah tidak, sosok itu langsung menghilang.

__ADS_1


Rizki mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang.


"Astaga! Tadi ada. Sekarang?!" batinnya meneguk kasar savilanya.


Keringatnya bercucuran deras saat merasakan hawa dingin menerpa lehernya.


"Tidak ada!" ucapnya saat sudah memeriksa di sampingnya.


Saat dia akan menoleh tepat ke arah depannya...


"Baaaaaaaaaa!!!"


"Arghhhhhh!!! Alien!!!" Rizki terlonjak kaget kemudian langsung berjongkok sambil menenggelamkan kepalanya di antara tekukan lututnya


Sunyi. Itulah suasanya sekarang.


Ceisya menggigit bibir bawahnya berusaha agar suara tertawanya tidak keluar.


"Rasakan kau bocah prik! Salah siapa berani mengataiku alien. Hahahaha...aku rasa setelah ini kau akan demam 7 hari 7 malam. Atau malah lebih parah seperti masuk rumah sakit jiwa ataukah panti jompo. Maybe?!" batin Ceisya sambil terkikik saat melihat ekspresi dari sang adik.


"Ya Allah. Aku jadi tidak tega melihatnya ketakukan. Tapi, salah siapa. Mental cowok kok kayak kiyewek. Astaga! Aku ingin tertawa. Hahahahaha...hahahaha..."


Timbullah senyuman smirk yang tercetak jelas di bibir Ceisya. Melihat ketidakberdayaan Rizki membuatnya semakin ingin menyiksa mental adiknya itu. Jahat bukan? Tidak apa. Mwehehe...


Mati-matian Ceisya menahan tawanya agar tidak kelepasan.


"Hihihihihihi..."


"Hihihihihii..."


Semakin Rizki menutup kupingnya, semakin jelas juga suara Mbak Mbak berpakaian putih itu. Malahan tengkuknya terasa dingin saat angin dingin menerpa tengkuknya. Ditambah rumahnya yang sepi karena Bundanya berada di rumah sakit dan sang Ayah yang dia kira juga masih di rumah sakit.


"Ya Allah. Aku belum mau mati! Aku masih muda, masih harus mengejar cita-citaku menjadi abdi negara. Dan juga aku belum nikah! Baru saja bertemu dengan bidadari hati sekarang kok malah begini?" lirihnya yang masih terdengar di telinga Ceisya.


"Oooohh, rupanya begini ya kelakuanmu di saat aku tidak berada di rumah ini?" ucap Ceisya memecahkan suasana yang mencekam bagi Rizki.


"Haaahhh???"


"Apa-apaan! Bahkan aliennya bisa bicara?! Ya Allah. Hampuni segala dosa-dosa hamba yang telah hamba perbuat selama bernafas di muka bumi ini."


"Astaga! Lancang sekali kau mengatai Kakakmu ini alien!" teriak Ceisya membuat Rizki langsung sadar.


Perlahan Rizki mengangkat kepalanya dan matanya melihat sesosok gadis yang tengah berkacak pinggang sambil menatap dirinya horor.


"A-alien." ujar Rizki terbata-bata. "Kau kah itu?"


"YA! Ini aku yang kau panggil alien. Kenapa, hah!?" amuk Ceisya.


"T-tidak. Apakah kau benar alienku?" tanya Rizki sekali lagi dan langsung mendapat jitakan dari Ceisya. "Ini sakit. Berarti bukan mimpi!" gumamnya.


"Memang ini bukan mimpi bodoh! Astaga! Kenapa bisa aku punya adik seperti mu ini." keluh Ceisya.

__ADS_1


Dengan tubuh yang sedikit bergetar Rizki bangkit dari posisinya.


Melihat sang adik yang terkena sawan, Ceisya menjadi tidak tega. Apalagi melihat wajah Rizki yang sudah memucat.


Definisi Kakak yang teramat kejam.


"Ini beneran alienku?" tanya Rizki berulang kali. Kali ini di memberanikan diri untuk memegang pipi Ceisya. "Ya! Ini alienku. Bukan alien sungguhan yang pesawatnya terdampar di bumi."


"Kau begitu tega, Kak." ujar Rizki dengan wajah yang memelas. Entah kenapa saat ini dia tidak punya kekuatan untuk memarahi Kakaknya yang sinting itu. Gara-garanya Rizki terkena sawan. Biasanya Rizki akan mengamuk atau bahkan membalas perbuatan sang Kakak. Tapi sekarang?


"Sungguh?" tanya Ceisya menatap iba adiknya.


Rizki menganggukkan kepalanya.


"Oh, astaga!" Ceisya menepuk pelan dahinya. "Kemarilah! Kakak berikan kamu pelukan gratis."


Greppp


Dapat Ceisya rasakan tubuh sang adik yang masih bergetar walau tidak separah tadi. Heummm...sepertinya bercandanya kali ini sungguh kelewatan. Tapi, Ceisya bahagia melihat adiknya sengsara. Walau dia merasa iba.


"Sepertinya kau akan terkena demam 7 hari 7 malam sungguhan." canda Ceisya sambil mengelus punggung belakang Rizki yang berada di pelukannya. Ralat. Ceisya lah yang berada di pelukan sang adik karena porsi tubuhnya terlalu kecil dibandingkan porsi tubuh Rizki.


"Dan kau harus bertanggung jawab, Kak." sahut Rizki mengurai pelukan.


"Astaga! Wajahmu seperti mayat di dalam peti jenazah!" pekik Ceisya saat melihat wajah Rizki.


"Ya ya ya. Rasanya aku ingin membalas perbuatanmu. Tapi, aku sedang tidak berdaya sekarang."


"Lain kali saja! Sana! Ganti bajumu. Lihat! Seragam mu sampai basah karena keringat."


"Heumm...baiklah, Kak. Aku ke kamar dulu. Rasanya badanku lemas karena perbuatanmu!"


Ceisya terkikik pelan. Namun, hanya sesaat karena telinganya sudah di tarik oleh seseorang.


Ceisya bersiap-siap untuk menyeprot pelakunya.


"Nakal, hem? Lihat! Adik kamu sudah seperti itu! Pulang ke rumah bukannya adem ayem malah merusuh." ujar Faisal dengan nada pelan dan senyuman yang khas.


Ceisya malah menyengir sambil menunjukkan wajah polosnya. "Hehe...Ayah, lepasin jeweranmu ini yah? Bisa copot nanti kupingku, Yah." pinta Ceisya dengan senyuman imutnya.


Jeweran yang malah seperti kapas. Tidak terasa sakit sedikitpun yang Ceisya rasakan.


"Tidak akan Ayah lepaskan gadis nakal!" ujar Faisal menyeret Ceisya ke ruang tengah. "Rizki, kembalilah ke kamarmu. Ganti baju, mandi. Habis itu baru makan siang."


"Iya, Yah. Aku ke kamar dulu."


Dengan langkah gontai Rizki berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Tunggu bentar, Yah! Ceisya belum minum habis makan siang. Nanti pencernaannya tidak subur karena tidak di siram air putih." ucap Ceisya yang terus di tarik pelan oleh Ayahnya.


"Duduk! Tungguh di sini. Biar Ayah yang akan mengambilkan air putih."

__ADS_1


Ceisya hanya berdiam diri di sofa ruang tengah sambil menunggu sang Ayah yang akan membawakannya air putih.


__ADS_2