
"Assalamu'alaikum." ucap salam Ceisya.
"Wa'alaikumsalam."
Ceisya yang saat itu belum sampai di ruang tamu seketika bingung. Ada apa ramai-ramai? Tapi, suaranya bukan berasal dari Omnya yaitu Fairuz.
"Ah, ya. Ini dia." ujar Ayah Faisal meminta Ceisya untuk mendekat.
"Sayang, ini Umi Hanum sama suaminya Aryo. Kamu ingat?"
Ceisya yang saat itu duduk di tengah-tengah antara Ayah dan Bundanya menggeleng. Berusaha mengingat tapi tidak berhasil. Dia menatap wanita paruh baya di depannya, jilbab panjang melekat di kepalanya dan Ceisya melihat ke arah pria di samping wanita itu.
"Ini loh, Sayang. Sahabat Papa yang tinggal di kota S, dulu kita juga pernah mengunjungi beliau." jelas Ayah Zaki membuat Ceisya seketika ingat.
"Yang pemilik pesantren terbesar di sana bukan, Yah?" tanya Ceisya memastikan.
"Tepat sekali." jawab Ayah Zaki mengelus surai rambut Ceisya. "Salim dulu, Nak, sama Abi Umi."
Ceisya menurut, dia bangkit dari duduknya dan mendekati pasangan suami itu.
"Maaf, Umi. Aku sempat lupa." ujar Ceisya sedikit menyengir.
"Tidak apa, Sayang. Umi maklum kok." balas Hanum sambil mengusap pelan rambut Ceisya yang tidak tertutupi apapun.
"Umi apa kabar?" tanya Ceisya menghilangkan kecanggungan yang melanda.
"Alhamdulillah, baik. Oh ya. Dengar-dengar kamu lagi kuliah ya? Bagaimana kuliahnya, lancar?"
"Alhamdulillah, lancar, Mi."
"Kapan-kapan main ke pesantren ya." ajak Hanuk membuat Ceisya tersenyum kikuk. Merasa minder karena diajak mengunjungi pesantren yang isinya semuanya wanita-wanita cantik dan tertutup aurat. Sedangkan dirinya?
"Insya Allah, Umi." jawab Ceisya seadanya takut mengecewakan karena jawabannya.
"Umi sama Abi tunggu kedatangannya ya." sahut Aryo yang sedari tadi melihat kedekatan mereka.
"Hehe, iya, Bi."
Selang setengah jam mereka bercengkrama, akhirnya Hanun dan Aryo berpamitan pulang. Kedatangan mereka ke sini bertepatan adanya acara yang harus mereka hadiri. Jadi, sekalian berkunjung ke rumah sahabatnya.
"Maaf ya, Sal. Kami harus pamit pulang dulu. Takut kemalaman nanti sampai ke rumah." ujar Aryo tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Ar. Aku paham, kamu juga harus mengurusi pesantren di sana."
"Terima kasih, Sal, atas jamuannya."
"Sama-sama." mereka para lelaki berpelukan.
"Sampai jumpa di lain waktu ya, Nai." ujar Hanum yang memang sudah lama akrab dengan Bunda Nai.
"Iya. Titip salam dengan anak-anakmu di sana." balas Bunda Nai sembari membalas pelukan.
__ADS_1
"Insya Allah, kalau tidak lupa. Maklum, umur sudah tidak muda lagi." Hanum sedikit tertawa.
"Hahahaa...sama saja kok." balas Bunda Nai menimpali.
Kini saatnya Hanun berpamitan pada Ceisya.
"Umi pulang dulu ya, Sayang. Kamu jaga kesehatan di sini."
Ceisya mendekat dan memeluk Hanum sebagai tanda perpisahan mereka.
"Pasti, Umi. Umi juga harus jaga kesehatan di sana."
"Umi tunggu kedatangan kamu di sana ya." sekali lagi Hanum berharap.
"Tidak janji ya, Umi. Soalnya sibuk kuliah juga."
"Baiklah, Umi tidak akan memaksa."
Setelah kepulangan Hanum dan Aryo, kini Ceisya duduk bercengkrama dengan kedua orang tuanya.
"Kamu kemana aja, hmm?" tanya Bunda Nai lembut.
"Tadi diajakin main ke rumah teman, Bund." jawab Ceisya jujur. Memejamkan matanya kala tangan lembut itu membelai sayang dirinya.
"Oh ya. Piji mana Bun, Yah?" Ceisya mendongakkan wajahnya.
"Ada di kamar. Mungkin lagi belajar atau sudah tidur."
"Aku ke kamar ya, Bun, Yah?"
"Iya, Sayang. Ganti baju saja jangan mandi malam-malam." Ceisya mengangguk karena dia tahu itu semua juga untuk kesehatan tubuhnya.
Beberapa minggu kemudian, Ceisya telah sibuk dengan kuliahnya. Dan Zafran juga telah sibuk dengan tugas-tugasnya dalam menertibkan masyarakat.
Saat ini seperti biasa Ceisya duduk di kursi taman sambil membaca buku tebal yang dia letakkan di pangkuannya.
Dan seperti biasanya juga, Ceisya selalu didekati oleh Rangga. Kadang membuat Ceisya jengkel. Seperti saat ini. Rangga selalu mengajaknya keluar.
"Maaf, Ga. Aku sudah ada janji dengan seseorang." sedikit berbohong tidak apa lah.
"Siapa? Cowok atau cewek." kepo Rangga.
"Siapapun itu yang terpenting urusanku." jawab Ceisya lalu menutup bukunya dan bangkit, berlalu meninggalkan Rangga.
"Kau selalu menolakku, Ceisya. Kenapa? Apa aku kurang sempurna bagimu?" ujar Rangga melihat kepergian Ceisya.
"Kau terlalu memaksa. Ceisya tidak suka dipaksa ataupun didekati. Dia gadis yang berbeda dari perempuan-perempuan di luaran sana."
Sontak Rangga berbalik menemukan Reva di belakangnya. Dia menatap sorot mata Reva yang mengisyaratkan kejujuran.
"Apakah iya?"
__ADS_1
"Tentu saja. Jadi, jangan membuatnya marah ataupun merasa risih di dekatmu. Lihatlah! Masih banyak perempuan lain di luar sana." ucap Reva sedikit memberi petuah.
"Termasuk dirimu?" Rangga menatap nakal ke arah Reva.
Mata Reva melebar sempurna. Dia mencubit lengan Rangga sehingga membuat pria itu mengaduh.
Sebelum berlalu, Reva berkata. "Ingat! Jangan coba-coba mendekati Ceisya lagi dan yakkkk...!!! Singkirkan tatapanmu itu dariku. Kau bukan kriteria laki-laki idamanku!" pekik Reva dengan jengkel.
Rangga hanya tersenyum tipis. Tidak ada niatan untuk mendekati wanita yang sudah ada pemiliknya.
Rangga berjanji. Setelah ini dia akan berhenti mengejar Ceisya. Di harus meminta maaf kepada gadis itu.
Ceisya yang tengah dilanda kesal akhirnya memilih untuk pulang ke kosannya saja. Dia memasang helmnya dan bersiap untuk tancap gas.
"Sya, tungguin!!" teriak Reva sambil berlari cepat menuju parkiran.
Ceisya menoleh dan menemukan sahabatnya itu berlari-larian memanggil namanya. Sampailah Reva di dekat Ceisya. Nafasnya ngos-ngosan dengan keringat yang keluar dari dahinya.
"Kenapa?" tanya Ceisya heran.
"Huuuhhhhhh...huuhhhh. Tungguin...napa!" ujar Reva dengan nafas yang tidak teratur.
"Biasa aja kali. Tidak usah berteriak dan berlarian seperti itu." Ceisya memutar bola matanya jengah.
Reva menggaruk kepalanya tidak gatal. "Hehee...aku takut kau sudah pergi duluan."
"Ngebakso yuk!" ajak Reva.
Ceisya melihat jam digital yang melingkar di pergelangan tangannya. "Baiklah. Mumpung hari masih sore." balas Ceisya menerima tawaran Reva.
"Nebeng ya?"
"Udah. Ayok gas kan!" ucap Ceisya.
Dengan semangat empat lima mereka berkeliling mencari warung makan bakso.
Di tengah perjalanan mereka dilanda macet. Entah apa yang terjadi di depan sana. Intinya jalanan sangat macet sehingga membuat mereka tidak bisa menyelinap.
Ceisya yang membonceng menghembuskan nafasnya panjang. Sangat membosankan kalau berdiam diri di jalanan dengan dipenuhi kendaraan yang lain. Panas, gerah, haus, sumpek tentunya.
"Va, lihat gih ada apa di depan sana!" pinta Ceisya sembari menengok ke belakang dimana Reva duduk santai di belakangnya.
"Caranya?" tanya Reva bingung. Mau mengintip dari mananya? Orang sisi kanan kiri sudah penuh.
"Kau berdiri di atas motor." jawab Ceisya enteng membuat Reva memekik sempurna hingga mereka menjadi pusat perhatian pengendara lainnya.
"Kenapa? Bukankah itu jalan satu-satunya." ujar Ceisya lagi dengan segala ide gilanya.
Gila saja berdiri di atas motor. Dia kira sedang konser dengan pengendara sebagai penontonnya.
"Tapi...idemu sangat gilaa bestieeee!!" teriak Reva kencang tidak perduli tatapan aneh yang menatap mereka.
__ADS_1
"Ayo dong. Kau sahabatku bukan? Nah! Kalau kau sahabatku, ayo turuti saranku tadi." lagi-lagi Ceisya membuat Reva memekik. Bedanya sekarang tidak sekencang tadi.