Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 55


__ADS_3

Malam harinya Ceisya berniat untuk menghubungi Reva. Ceisya mendapatkan kontak Reva dari Rizki. Sambil selonjoran ia terlihat menunggu jawaban dari sana. Beberapa kali ia menelfon tapi sepertinya diabaikan. Lagi pula Ceisya maklum karena Reva tidak pernah mau mengangkat telfon dari orang asing, apalagi itu panggilan video.


Dengan cepat Ceisya merubah posisinya menjadi duduk saat panggilannya yang kelima kali baru diangkat.


"Hai, bestie." sapa gadis itu tersenyum saat melihat sahabatnya yang terbengong di seberang sana.


"Sepertinya orang salah sambung. Matiin aja deh." lirih Reva yang masih terdengar.


"Eh! Eh! Jangan dimatiin dong." sela Ceisya cepat.


"Ini aku loh. Apa kamu yang lupa nih? Abis kejedot tembok ya?" lanjut gadis itu bertanya.


"Aku siapa?"


"Kamu Reva."


"Makanan favoritku apa?"


"Cumi bakar, mie bakar, kayu bakar."


"Warna favorit?"


"Blue."


"Hmmm..."


"Gak percaya?"


"Sekarang aku percaya."


"Bagusla--"


"HAHHH!!! CEISYA LO UDAH SADAR??!!"


Ceisya yang duduk anteng sampai terjingkrak kaget mundur ke belakang. Gadis itu terlihat mengelus dadanya, hampir saja ponselnya terlempar ke sudut kamar.


"Mati lo, Re." umpat gadis itu yang sudah mengubah gaya bicaranya.


"Sumpah demi apa gitu lo udah ingat?" teriaknya masih dalam keadaan terkejut.


"Sumpah demi seblak gue."


"Ahahahahaa... garing banget lo, Sya. Eh btw beneran kan?"


"Iyalah beneran. Lo masih gak percaya? Liat nih! Sekarang aku ada di mana?"


Gadis itu mulai bangkit, berubah kameranya menjadi belakang lalu memperlihatkan sekelilingnya.

__ADS_1


"Di kamar? Eh!"


"Iya." Ceisya kembali merubah posisi kameranya, lalu berbaring di kasurnya.


"Kapan?"


"Tadi siang? Main lah ke sini."


"Besok deh aku ke sana. Udah bisa masuk kuliah?"


Ceisya mengangguk membuat Reva sekali lagi menatapnya tidak percaya.


"Lusa udah bisa masuk kuliah."


"Kamu udah sehat?"


"Alhamdulillah. Seperti yang kamu liat sekarang."


"Syukurlah kalau gitu. Tenang aku dengernya. Sempat khawatir sih kamu gak bisa ingat aku."


"Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang mulai kehidupan yang baru. Kuy?"


"Kuy!"


Keduanya sama-sama tersenyum. Mengobrol sepanjang malam, berakhir dengan Ceisya harus mengakhiri obrolan mereka karena harus beristirahat.


Reva berencana akan mengunjungi rumah Ceisya besok. Ceisya juga mengajaknya untuk menginap, lalu mereka akan berangkat bersama ke kost-an. Rencananya mereka juga akan mencari kost-an baru agar bisa tinggal bersama-sama.


Pagi menyapa, Ceisya sudah terbangun dari tidurnya. Mulai membiasakan diri dengan aktivitasnya, mandi, sarapan. Baru saja gadis itu keluar dari kamar mandi, tapi, pintu kamarnya sudah diketuk.


Gadis itu bergegas menuju pintu lalu membukanya perlahan. Ia hanya menyembulkan kepalanya.


"Kamu baru selesai mandi, Sayang?" tanya Bunda Nai meneliti.


"Iya, Bun. Ini mau ganti pakaian."


"Ya sudah. Bunda tunggu di bawah ya? Kita sarapan."


Ceisya hanya mengangguk lalu menutup pintunya kembali dengan pelan. Kemudian berjalan menuju lemari mengambil beberapa pakaian untuk ia pakai.


Tidak membutuhkan waktu yang lama gadis itu akhirnya keluar dari kamarnya. Menuruni anak tangga dengan santai, berakhir sampai di depan ruang makan.


Di sana, sudah ada Ayah Faisal, Bunda Nai, dam juga Rizki yang mengenakan seragam putih abu. Mereka terlihat menanti kedatangan Ceisya.


"Lama banget sih, Kak. Telat nih aku." omel Rizki begitu Ceisya mengambil duduk di seberang berhadapan dengannya.


"Makan ya tinggal makan aja sih. Gak usah nungguin b, yang nyuruh kamu nungguin aku siapa?" semprot Ceisya balik.

__ADS_1


"Sudah, sudah. Pagi pagi bukannya akur malah beramtem. Ayo, cepat sarapan. Ayah harus ke kantor." lerai Ayah Faisal.


"Rizki tuh, Yah."


Keduanya saling menunjuk, menatap tajam.


"Kalian sama aja. Gak ada bedanya. Nih! Cepat makan." ujar Bunda Nai menaruh sarapan di piring Ceisya.


"Iya, Bunda." jawab keduanya.


"Bun, Reva mau ke sini katanya." ujar Ceisya disela kunyahannya.


"Kapan?"


"Hari ini. Mungkin nanti agak siangan baru sampai."


Selesai sesi sarapan, kini di rumah hanya tersisa Ceisya dan sang Bunda. Sementara Ayahnya ke kantor dan Rizki berangkat ke sekolah. Selesai ujian pun masih sekolah karena diadakannya class meeting.


Saat ini Ceisya dan Bunda Nai tengah duduk di ruang tamu. Mereka terlihat menghabiskan waktu bersama dengan bercerita.


Saat asik berbagi cerita, tiba-tiba terdengar suara bel pintu rumah.


Ceisya melirik sang Bunda yang saat itu juga meliriknya penasaran.


"Mungkin Reva, Bun." tebak Ceisya lalu bangkit, berjalan cepat menuju pintu utama.


Saat pintu terbuka, dan benar saja ternyata itu adalah Reva. Sahabatnya itu tersenyum hangat menyapanya.


Mereka berdua berpelukan sebentar sebelum masuk ke dalam.


"Kok gak ngabarin kalau udah sampai?"


"Hehe. Ini kan udah sampai jadi gak usah deh."


"Reva, apa kabar?" ujar Bunda Nai.


"Alhamdulillah, kabar baik, Tan. Tante juga apa kabar, sehat kan?" gadis itu mengalami tangan Bunda Nai.


"Alhamdulillah, baik juga."


"Bunda, aku ajak Reva langsung ke kamar ya?"


"Huum... iya, Sayang. Gih! Kalau ada apa-apa atau mau ngemil bilang aja ya ke Bunda. Reva?"


"Iya, Tante. Siap!"


"Yaudah. Yuk, ke atas." ajak Ceisya.

__ADS_1


__ADS_2