Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 46


__ADS_3

"Maaf, Sya, kalau ini membuatmu kesakitan. Aku tidak akan memaksa, mungkin ini sudah jalan kita."


"Maaf, aku tidak bisa mengingat." balas gadis itu tidak enak.


"Tidak apa. Aku paham, mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu. Aku akan pulang, kembali ke kota M. Tapi, jangan khawatir, aku akan selalu menantimu."


"Tapi...??"


"Iya, aku tau. Jangan khawatir, aku akan berjuang sampai di titik akhir juang."


"Sepertinya kita harus pulang?"


"Emm... baiklah." jawab Ceisya lalu bangkit.


Mereka berdua berjalan menuju tempat Azril dan Umi Hanum. Canggung memang. Mereka berjalan dengan jarak.


"Udah selesai?" tanya Umi Hanum.


"Iya, Umi. Selanjutnya mau ke mana?" tanya Zafran.


"Pulang? Atau masih mau singgah ke tempat lain?" tawar Umi Hanum.


"Umi, Ceisya mau ke taman air mancur itu." celetuk Ceisya.


"Kamu mau ke taman, Dek?" sahut Azril bertanya.


"Iya, Mas. Mampir ya?" bujuk gadis itu.


"Iya, Iya. Kita ke taman sekarang. Bang Zafran tidak keberatan?"


"Tidak. Yaudah, ayo kita ke taman." balas Zafran menurut.


"Baiklah."


Tujuan mereka selanjutnya adalah taman, taman yang terdapat air mancur. Kemarin Ceisya melihatnya sekilas, jadi, ia penasaran makanya meminta ke sana.


"Kamu ngobrolin apa aja sama Zafran?" tanya Umi di dalam perjalanan.


"Bukan apa-apa, Umi. Hanya mengobrol biasa aja." jawab Ceisya.

__ADS_1


"Yang sabar ya. Umi do'ain agar kamu cepat sembuh."


"Aamiin. Makasih, Umi."


"Sama-sama, Sayang."


Dua mobil berwarna sama yaitu hitam berhenti di sebuah parkiran taman. Ceisya langsung keluar begitu mobil berhenti membuat Umi Hanum dan Azril hanya tersenyum.


"Sayang, apa yang akan terjadi selanjutnya?" tanya Umi Hanum pada Azril.


"Azril tidak tau, Umi."


Mereka hanya melihat Ceisya yang begitu antusiasnya berlari menuju kursi lalu duduk di sana disusul Zafran, Azril, dan Umi Hanum.


"Apa kamu puas?" tanya Umi Hanum.


"Iya, Umi. Ceisya suka pemandangannya. Dingin, apalagi liat air mancurnya. Keren!" puji gadis mengacungkan jempolnya.


"Umi, Adek. Mau makan apa? Biar Azril beliin." seru Azril sambil melihat jajanan yang dijual di taman.


"Apa aja, Mas. Mau batagor." pinta Ceisya yang langsung diangguki oleh Azril.


Mereka kembali saat sudah selesai membeli jajanan. Azril langsung memberikan batagor pesanan Ceisya tadi lalu meberikannya ke Umi Hanum juga.


Saat jajanannya sudah habis, Ceisya langsung mengajak berjalan-jalan di sekeliling taman.


"Lelah?" tanya Zafran yang langsung diangguki oleh gadis itu. Tangan pria itu terulur mengambil sapu tangan di saku celananya lalu memberikannya pada Ceisya.


"Pulang ya? Sudah puas kan?" Ceisya hanya mengangguk menanggapi. Ia sudah cukup puas dengan hari ini. Berbelanja, ke pantai, dan terakhir singgah ke taman.


"Umi, Ceisya mau pipis." bisik gadis itu.


"Ah ya? Yuk! Itu di sana ada toilet umum."


"Ceisya kenapa, Umi?" tanya Azril kepo.


"Katanya mau buang air kecil. Di seberang sana ada toilet umum."


"Yaudah, sekalian Azril juga mau buang air kecil."

__ADS_1


"Abang mau di sini atau ikut?" lanjut Azril lagi bertanya.


"Ikut saja, sekalian berjaga-jaga mau nyebrang jalan raya." balas. Zafran.


"Baiklah."


Kini keempatnya keluar dari area taman, mereka berjalan kaki menuju sebrang jalan sana. Ceisya dan Umi Hanum dituntun saat menyebrang jalanan. Cukup lama akhirnya mereka bisa menyebrang jalanan yang ramai.


Zafran menunggu di luar, pria itu bersandar di tembok sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


Pria itu langsung berdiri tegak saat Azril datang, tidak lama kemudian disusul Ceisya dan Umi Hanum.


"Sudah?"


"Iya."


Mereka kembali menyebrang jalana untuk pergi ke parkiran area taman. Zafran dan Azril berdiri di kedua sisi wanitanya.


"Hati-hati!" peringat Zafran.


"Iya, Bang." sahut Azril membantu menyebrang jalanan.


Ceisya dan Umi Hanum terpisah, Umi Hanum lebih dahulu menyebrang dibantu oleh Zafran sementara Ceisya tertinggal di sebrang sana bersama Azril.


Cukup lama mereka menunggu jalanan kembali sepi. Tidak lama jalanan kembali sepi, baik Ceisya dan Azril langsung bersiap untuk menyebrang.


Tidak disangka ada sebuah motor yang tiba-tiba melaju kencang entah dari arah mana datangnya. Seperti ugal-ugalan, pengemudi motor itu membawa motornya dengan kecepatan tinggi.


"Awas, Dek!" Azril mendorong Ceisya agar tidak tertabrak. Sementara dirinya disenggol hingga lengannya terasa ngilu.


"CEISYA!!!" teriak Zafran berbarengan dengan Umi Hanum. Keduanya langsung berlari mendekati Ceisya yang terbaring di sisi jalan.


"Sayang, kamu tidak apa-apa??" tanya Umi Hanum khawatir.


Sementara Zafran langsung sigap melihat plat nomor pengendara itu. Saat sudah tau, pria itu kembali mendekati Ceisya. Wajahnya terlihat begitu khawatir.


"Umi, kepala Ceisya sakit." ujar gadis itu mengeluh. Tangannya terulur menyentuh kepalanya. Darah, ya darah keluar saat kepalanya terbentur.


Perlahan-lahan kesadaran gadis itu hilang. Penglihatannya langsung gelap.

__ADS_1


__ADS_2