Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 40


__ADS_3

"Aaarrrgggghhhhhhh...!!!"


Seisi rumah dibuat geger oleh teriak dari dalam kamar. Baik Ayah Faisal, Hanum, dan Aryo langsung bergegas berlari menaiki anak tangga. Mereka begitu khawatir. Hanun yang saat itu sedang berada di dapur pun langsung meninggalkan kegiatan memasaknya. Begitu juga dengan Ayah Faisal dan Aryo yang saat itu sedang menikmati pagi mereka dengan segelas kopi hangat sambil membaca koran.


Mereka semua langsung menerobos pintu kamar yang terbuka lebar itu menampakkan seorang gadis yang meringkuk di atas kasur. Rambutnya yang acak-acakan serta suara tangis bersahutan.


"Ada apa, Sayang?" tanya Ayah Faisal khawatir segera mendekat, menarik anaknya itu ke pelukannya.


"Hikssss..." gadis itu hanya memangis.


Hanum melirik putra keduanya yang berada di ambang pintu.


"Azril, ngapain kamu di sini?" tanya Hanum dengan suara lembutnya.


Segera pria dua puluh empat tahun itu membetulkan baju yang ia pegang. Wajahnya terlihat waswas.


"Nggak ada, Umi. Azril hanya ingin mengambil baju ganti saja yang tertinggal di lemari. Azril lupa kalau ada yang nempatin kamar Azril. Maaf, Umi..." sesal pria itu.


Semalam ia dikabari Hanum bahwa kamarnya ditempati untuk sementara. Karena sudah terbiasa ia jadi lupa. Khilaf tentunya.


"Yasudah, tidak apa-apa. Kamu pakai aja kamar Umi sama Abi." usul Hanum.


"Baik, Umi. Azril keluar sekarang." pria itu pamit permisi meninggalkan rasa tidak enak hati.


Sementara itu, Ceisya masih terlihat menangis, ia meringkuk dipelukan sang Ayah. Traumanya membuat dirinya sulit untuk berinteraksi dengan pria asing, terkecuali sang Ayah dan orang-orang yang sudah ia kenali betul.


Maklum, saat ia berkunjung ke kediaman Aryo dan Hanum, saat itu Azril sedang menempuh pendidikannya yang membuat pria itu tidak selalu hadir di rumah.


Hanum mendekat, meminta izin pada Ayah Faisal untuk mencoba menenangkan Ceisya. Setelah mendapat izin, Hanum langsung meminta kedua pria itu keluar.

__ADS_1


"Sayang, ini Umi, Nak." Hanum mengelus kepala gadis itu.


"Tidak apa-apa. Dia bukan orang jahat. Dia anak Umi, dia baik, tidak akan menyakiti kamu kok." bujuk perempuan itu.


Gadis itu mendongakkan kepalanya, wajahnya terlihat sembab dengan mata yang memerah, nafasnya terdengar memburu, keringat membasahi tubuhnya.


"Tenang ya, ini Umi kok. Jangan takut."


Perlahan tangisan gadis itu mulai mereda, nafasnya juga sudah mulai teratur.


"Umi..."


"Iya, Sayang. Jangan takut ya." Ceisya menganggukkan kepalanya.


"Anak Umi sudah bangun ya? Sekarang mandi dulu ya, habis itu baru sarapan, minum obatnya."


Tidak lama kemudian gadis itu keluar dengan handuk yang membungkus tubuhnya. Hanum mendekat, perempuan itu menyerahkan pakaian pada Ceisya, pakaian yang sudah ia siapkan saat gadis itu masih berada di dalam kamad mandi.


"Sekarang kita turun ya? Umi sudah membuatkan sarapan untuk kita semua." ujar Hanum lalu menuntun Ceisya turun ke bawah.


Sesampainya di bawah, Hanum langsung memangil yang lainnya, menyuruh mereka sarapan.


Tubuh Ceisya terlihat bergetar saat melihat sosok pria yang tadi di dalam kamarnya sedang duduk menunggu kehadiran mereka.


Hanum sentiasa menenangkan Ceisya, membisikkan kalimat-kalimat yang dapat membuat gadis itu tenang.


Selesai sarapan mereka semua berkumpul di ruang tengah. Mengobrol bersama, anggota mereka bertambah yaitu anak kedua Hanum dan Aryo yang bernama Azril. Pria itu duduk tenang di samping Aryo.


"Sayang, kenalin ini anak Umi sama Abi. Namanya Azril. Kamu bisa memanggilnya Kakak, Abang, Aa, Mas, panggil namanya juga boleh. Senyaman kamu aja, Sayang." Hanum mulai memperkenalkan Ceisya dengan anak tengahnya itu.

__ADS_1


Ceisya hanya mengangguk paham. Gadis itu tampak tidak banyak bicara lebih tepatnya irit bicara.


"Anak Ayah udah enakan?" sahut Ayah Faisal bertanya.


Ceisya menatap Ayahnya lalu tersenyum tipis. "Lumayan, Yah."


"Syukurlah. Besok pagi-pagi Ayah sudah harus kembali, Ayah jadi tidak tega melihat kamu di sini, Sayang."


"Ayah tenang aja. Di sini ada yang jagain Ceisya kok. Ada Umi dan Abi." ujar gadis itu berusaha untuk tidak membuat sang Ayah khawatir.


"Iya, benar, Sal. Tenang aja, Ceisya aman di sini." balas Aryo menempis rasa khawatir sahabatnya itu.


"Kamu baik-baiklah ya di sini. Semoga dengan Ayah titipkan kamu disini, kamu sudah bisa lebih tenang, mudah-mudahan sembuh. Ayah tidak berharap banyak, tapi, Ayah berdo'a aja."


"Makasih, Ayah." gadis itu langsung memeluk Ayahnya yang berada di sampingnya.


"Sama-sama anak Ayah."


Mereka semua terus bercengkrama, Ceisya juga sudah tidak sehisteris tadi pagi saat bertemu Azril.


"Azril, kamu tidak mengajar?" tanya Hanum.


"Tidak, Umi. Lagi kosong hari ini jadi Azril memilih untuk diam di rumah saja." jawab pria itu.


"Nanti ikut Abi keliling pesantren, mau tidak?" sahut Aryo menawarkan.


"Hanya keliling di tempat santri putri aja kok. Sekalian nanti Abi ajarkan kamu beberapa ilmu untuk menambah wawasan." lanjutnya lagi.


"Boleh, Bi. Tapi, Ceisya tidak terlalu suka memakai jilbab."

__ADS_1


__ADS_2