Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 23


__ADS_3

Baik Ceisya maupun Zafran hanya berdiam diri di dapur. Ceisya sebagai tamu menjadi bingung karena dia belum hafal sudut-sudut rumah Zafran. Sedangkan si tuan rumah seakan bodoamat.


"Kenapa kau diam saja sih, Om?" ujar Ceisya dengan nada kesal.


"Lahh...memangnya aku harus ngapain?"


Ceisya memutar bola matanya sempurna. Seperti di pikirannya, para pria memang tidak tahu menahu perihal memasak.


Matanya mencari letak keberadaan kulkas. Ceisya berjalan menuju sudut dapur saat telah menemukan keberadaan benda yang dia cari.


Di dalam kulkas Ceisya tidak dapat menemukan bahan untuk membuat sate ayam. Apalagi daging ayam kampung. Seperti mereka harus berbelanja daging ayam kampung saja karena bahan untuk membuat nasi goreng telah tersedia.


"Dimana kita akan mencari daging ayam kampung, Om?' tanya Ceisya sembari menutup pintu kulkas.


"Percuma kau bertanya kepadaku." sahut Zafran.


"Apa sih yang kau tau?!"


"Aku? Aku bisa menembak musuh tepat sasaran." jawab Zafran seadanya.


"Kau cocoknya menjadi Tentara saja dari pada menjadi Polisi."


"Kalian sedang apa di sini?" tegur Mama Tina saat melihat kedua manusia berbeda gender itu seperti sedang berdebat.


Ceisya melongos pergi meninggalkan Zafran yabg berdiri di dekat kulkas. "Kak Emi mau dibuatkan makanan, Tan." jawab Ceisya seraya mendekati Mama Tina yang berada di dekat tangga.


"Sepertinya Kakak kalian sedang mengidam. Dia terus saja begitu kalau sudah jam segini atau malam hari. Biasanya tengah malam dia meminta suaminya untuk membelikan rujak di pinggiran jalan." cerita Mama Tina mengingat malam kemarin.


Ceisya tampak meringis pelan membayangkannya. "Semua orang hamil begitu ya, Tan?"


Mama Tina tersenyum ke arah Ceisya. "Tidak semuanya seperti itu. Hanya sebagiannya saja. Nanti kamu pasti akan mengerti kalau sudah waktunya tiba."


Ceisya yang tidak mengerti mengubah arah pembicara. "Aku mau tanya, Tan. Dimana ya ada yang jual daging ayam kampung. Soalnya Kak Emi ingin dibuatkan sate ayam yang dagingnya dari ayam kampung." tanya Ceisya karena biasanya ibu-ibu pasti tahu seluk-beluknya.


"Ayam kampung ya? Perasaan ada deh di ujung jalan sini. Cuman masalahnya jalanan di sana sedikit rusak." jawab Mama Tina sedikit mengetahui. "Atau kalian langsung beli di pasar saja. Di sana sudah pasti ada. Tapi, ya begitu. Harus mengantri karena persediaan ayam kampung itu tidak banyak."


"Yaudah deh. Biar nanti belinya di ujung jalan saja." ujar Ceisya memutuskan.

__ADS_1


"Iya, itu lebih bagus. Selain menghemat uang, juga menghemat energi....nanti perginya diantar oleh Zafran saja."


"Harus, Tan. Soalnya Kak Emi mau kami berdua yang memasakkannya makanan."


"Baiklah. Zafran, ajak Ceisya mencari ayam kampung di ujung jalan sini. Kalian bisa memakai motor Mama kalau mau cepat. Kalau memakai mobil nanti susah mau putar balik, dan juga jalanannya tidak memungkinkan."


"Iya, Ma." jawab Zafran pasrah.


"Pamit dulu ya, Tan." Ceisya menyalami tangan Mama Tina sebelum berangkat.


Sambil menunggu Zafran mengeluarkan motor dari garasi, Ceisya terlebih dahulu keluar dan menunggu di halaman rumah. Ceisya tidak membawa tas dan ponselnya karena takut nanti akan merepotkan.


"Pegangan." ujar Zafran memperingatkan. Jalanan yang mereka lalui sudah cukup rusak saat mendekati tempatnya.


Ceisya mengeratkan pegangannya di ujung baju Zafran. Sedari tadi dia terus mendumel. Bukan karena masalah kotor atau pun jijik. Tapi, Ceisya sungguh tersiksa di belakang sana.


Setelah melalui perjalanan yang penuh akan lubang dan batu, akhirnya mereka telah sampai. Ceisya cukup terkesan dibuatnya. Suasananya sangat adem dan nyaman seperti berada di sebuah desa. Maklum saja, tempatnya sangat sepi, hanya ada beberapa rumah saja di sekitarnya.


Tidak lama keluarlah seorang pria paruh baya yang mengenakan baju yang sedikit kusam. Maklum saja seorang peternak.


"Maaf, Pak. Saya mau tanya, apa benar ini rumah yang biasanya jual ayam kampung?" tanya Zafran sopan.


Si bapak tersenyum. "Iya benar. Apakah kalian mau membeli ayam di perternakan Bapak?"


Zafran menoleh ke arah Ceisya lalu tersenyum. "Betul, Pak."


"Yasudah, kita ke belakang saja yuk! Kalian bisa pilih-pilih yang mana." si Bapak mempersilahkan.


"Mari, Pak." jawab Zafran sambil mengikuti langkah si Bapak.


Sekilas mulus jalanan di samping rumah yang menghubungkannya ke belakang. Tapi, saat sudah sampai di belakang rupanya cukup bersih tidak seperti yang mereka bayangkan kalau kandang ayam itu sangat kotor.


"Silahkan dilihat-lihat dulu mau yang mana. Nanti kalau sudah selesai tinggal kasih tau Bapak ya?"


"Baik, Pak. Terima kasih." jawab Zafran dan Ceisya kompak.


Ceisya dan Zafran berpisah untuk melihat-lihat ayam kampung tersebut. Ceisya melihat di sisi kanan sementara Zafran di sisi kiri.

__ADS_1


"Ihh! Om!" pekik Ceisya membuat Zafran langsung berlari ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Zafran cemas.


"Ayamnya buang air besar di dalam." ujar Ceisya heboh.


Zafran, pria itu seperti jatuh dari atas menara. Sebegitu hebohnya kah Ceisya saat melihat ayam buang kotoran di dalam kandang.


"Ihhh, Om! Sini deh!" rengek Ceisya saat melihat Zafran bersikap acuh.


Zafran membalikkan badannya dan melihat Ceisya. "Kenapa lagi?"


"Hehee, tidak. Yang ini saja, Om. Dia baru saja selesai buang air besar. Pasti nanti bersih."


Pemikiran dan otaknya memang sedikit berbeda sesuai dengan yang Zafran perkirakan. Kadang Zafran begitu heran melihat respon yang diberikan Ceisya berbeda-beda. Serius, o'on. Menurutnya Ceisya begitu menggemaskan saat sedang dalam mode o'on.


"Namanya ayam mana bisa bersih kalau belum di potong." ujar Zafran.


"Yasudah, potong sekarang saja, Om." seloroh Ceisya.


"Kalau mau memotong ayam itu tidak bisa sembarangan. Pertama, harus laki-laki yang memotongnya dan tentunya niat." jelas Zafran yang sudah berpindah profesi.


"Do'a makan bisa, Om?"


Pletakkk


Zafran menyentil dahi Ceisya saking gemasnya. "Astaga! Aku tidak habis pikir dengan otakmu ini." ujarnya sambil menyentuh dahi Ceisya. "Di sini, isinya apa? Kenapa pemiliknya sangat o'on."


"Hehee...sudah jelas isinya tengkorak kepala dan ya masih banyak lainnya termasuk otak berhargaku. Jadi..." Ceisya menjeda lalu dia menangkap jari telunjuk Zafran yang masih betah di dahinya. "Kepalaku tidak boleh disentuh sembarangan."


"Aku hanya menyentuh dahimu bukan kepalamu asal kau tau itu." balas Zafran merengut.


"Itu sama saja, Om. Dahi juga bagian dari kepala."


"Justru dahi dan kepala itu berbeda. Kau tidak lihat? Kepala itu ditumbuhi rambut sedangkan dahimu tidak. Berarti itu bukan bagian dari kepala. Memangnya kau mau, dahimu ditumbuhi rambut yang panjang seperti rambutmu ini?" Zafran membelai ujung rambut Ceisya.


Ceisya sedikit mundur ke belakang. "Yasudah. Kalau dahi bukan bagian dari kepala. Biar nanti aku akan memisahkan dahimu itu, Om. Lalu...mau kau simpan dimana dahimu itu? Ckckck! Kau begitu menyebalkan, Om." ujar Ceisya berdecak. "Pasti dulu saat sekolah kau suka membolos ya?" tanya Ceisya sambil menyipitkan kedua matanya.

__ADS_1


__ADS_2