
Terpisah satu dua hari rasanya masih sangat wajar dan kalau rindu tinggal jenguk dan ditemui. Lalu bagaimana yang sekarang? Zafran tampak uring-uringan di asramanya. Dirinya yang mendapat tugas malam hari dan siangnya free pun tidak tau harus melakukan apa-apa. Dua bulan ditinggal apa kata dunia tentang keadaan Zafran. Apakah pria itu akan mempunyai jenggot dan kumis? Ah, tidak mungkin! Rambutnya saja sebulan sekali dia cukur sampai hampir botak. Mana mungkin mempunyai kumis, beda lagi kalau yang seniornya yang sudah menikah. Perut buncit dan badan gempal. Itu adalah ciri khas abdi negara yang sudah menikah. Apakah setelah menikah, mereka terus disogok oleh istri menggunakan makanan? Makan, makan, makan. Apakah ada faktor yang lain sehingga mereka hidup makmur sampai penampilan saat muda dan yang sekarang jauh berbeda.
"Kamu sudah makan siang?" tiba-tiba seniornya datang lalu duduk lesehan bersandar di dinding bercat abu.
Reflek Zafran yang saat itu tengah berbaring langsung terduduk dengan tegak dan mengangkat tangannya hormat. "Siap, belum." jawabnya tegas.
"Santai aja. Oh ya, siang ini mau ke mana?" Zafran menganggukkan kepalanya lalu menurunkan tangannya.
"Di sini aja, Bang, sambil latihan." ya, memang Zafran memilih untuk berdiam diri saja di asrama. Bukan berarti hanya berdiam diri saja, bisa kena marah dia kalau berleha-leha.
"Oh, ya sudah. Saya pamit dulu. Kamu santai-santai saja di sini sambil menunggu tugas malam hari."
"Siap!" Zafran menghembuskan nafasnya panjang. Kembali dirinya membaringkan tubuh kekarnya di lantai keramik beralaskan tikar kecil dengan terdapat bantal di sana untuk dirinya berbaring.
Pria itu memandangi atap langit-langit yang polos. Pikirannya melayang pada kegiatan esok hari yaitu pembinaan pada calon Akpol yang baru-baru ini mendaftarkan diri. Dirinya diberikan tugas untuk membina langsung junior-juniornya. Sikap tegas dan garang harus dia perlihatkan, tidak lupa sikap disiplin, tepat waktu, serta tanggungjawab.
"Makan siang datang!" seru seorang pria yang seumuran dengannya. Dialah Daniel, sahabat seperjuangannya.
Daniel masuk ke dalam asrama yang pintunya terbuka lebar, sambil meletakkan beberapa kresek di lantai keramik. Kemudian pria itu membukanya satu per satu.
__ADS_1
Zafran tidak langsung bangkit, melainkan hanya melirik saja tanpa minat.
"Hei, apa kau tidak lapar?" tanya Daniel melihat reaksi sahabatnya itu yang hanya diam mengatupkan bibirnya rapat.
"Tidak lapar." balas Zafran memalingkan mukanya.
"Cih! Sombong sekali. Sudah seperti tulang fosil yang bergerak."
Sontak Zafran melebarkan matanya sempurna saat mendengar ejekan dari sahabatnya. Dirinya menatap tajam Daniel, namun, sayangnya sahabatnya itu malah memalingkan muka dengan menatap makanan di hadapannya.
"Sudah, sudah, lebih baik ini makan saja. Kau akan mati kalau tidak makan seharian. Apalagi pikiranmu itu terbang ke tempat Ceisya yang sekarang."
"Mentang-mentang Reva ada di sini." sindir Zafran mendapat balasan cengiran dari Daniel.
"Hehe, beruntung kan? Makanya jangan cari pacar yang gemar sekali belajar."
Geplak
Zafran yang kesal langsung bangkit dan tujuan pertama ialah kepala Daniel. "Pendidikan itu perlu, bodoohh! Kau mau hidup di dunia dengan di bodohi oleh orang-orang pintar? Tidak mau kan! Jadi, diam saja. Dan sepertinya kau harus mengulang sekolah lagi dari dasar, biar otakmu itu bekerja dengan baik."
__ADS_1
"Wahhh! Jangan ngomong sembarangan. Aku itu pintar ya! Kau belum lihat saja bagaimana pintarnya aku. Apalagi dalam bidang kesenian." Daniel yang tidak terima langsung menyombongkan dirinya.
"Iya, pintar menari!"
"Hahaha, aku rasa kau cocok untuk menari tari jaipong atau tari reog. Dan tubuhmu itu pasti sangat lentur." sambung Zafran lagi mengejekk Daniel hingga membuat sahabatnya itu murka.
"Kurang aj@r! Makan tuh tari reog." Daniel menyumpal mulut Zafran dengan ayam yang sudah dia lumuri sambal. Alhasil Zafran yang kurang suka makanan pedas langsung menjerit sambil memaki Daniel. Dengan cekatan dia langsung mengambil air mineral yang masih bersegel dan langsung membukanya. Tegukan kasar langsung terdengar saat air itu masuk melewati kerongkongannya.
Tawa Daniel langsung menggelegar di dalam ruangan yang hanya memiliki luas seperempat itu. Daniel bahkan sampai memegang perutnya saat terasa kram akibat banyak tertawa.
Sedangkan Zafran hanya mampu menahan sabar sambil mengumpat dalam hati. Rasanya tidak terima, tapi, kalau dibalas pasti akan memperpanjang masalah.
"Tunggu balasan dariku nanti malam!" ujarnya dengan mata yang mengkilat tajam memandang Daniel yang malah enak-enaknya menyantap makanannya. Karena merasa geram, Zafran langsung merebut makanan Daniel dan langsung memakannya sampai habis. Terjadilah aksi rebutan makanan di antara keduanya.
.
.
.
__ADS_1
Hai, buat yang baca ini, kalian boleh lanjut baca ulang di part 64 setelah promosi bab novel my teacher ya. Di situ udah dimulai bab baru karna sebelum cerita ini udah sempet aku revisi.