
Zafran menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kasur kamarnya.
Seminggu yang lalu dia bertugas di luar kota dan sekarang baru pulang ke rumahnya. Sudah sekitar 3 hari dia berada di rumahnya. Zafran diberikan cuti oleh sang Ketua sekitar 2 mingguan. Lumayan cukup baginya.
Tok tok tok
Zafran yang baru saja menutup matanya langsung tersentak. Dia berjalan gontai menuju pintu.
Ceklek
"Ada apa, Ma?" tanya Zafran saat melihat sesosok wanita yang hampir mirip dengannya.
"Ada adik sepupu kamu tuh di bawah." jawab Tina, Mama Zafran.
"Mau ngapain?"
"Mama juga tidak tahu. Mending kamu temuin dia gih!"
"Hemmm...iya deh. Bentar, aku mandi dulu."
"Iya. Jangan lama-lama."
Segera Zafran membersihkan dirinya dan berganti baju dengan pakaian santai.
Saat sudah sampai di lantai bawah, Zafran menemukan adik sepupunya yang duduk anteng di sofa ruang tengah sambil menikmati cemilan di dalam toples.
Zafran duduk tepat di samping adik sepupunya itu. Dia menyomot keripik singkok yang berada di tangan adik sepupunya.
"Eh...Bang." sentaknya kaget baru sadar Zafran sudah berada di sampingnya. Dia terlalu fokus ke arah televisi yang menayangkan sinetron ku menangis saat adegan si wanita di hampir di tabrak oleh mobil tapi sang wanita hanya melongo memandangi mobil yang bergerak cepat ke arahnya. Dikiranya tatapan melototnya itu punya kekuatan supernatural yang bisa menghentikan laju kendaraan mobil.
"Cowok kok nontonnya begituan?" ledek Zafran sambil mengunyah keripik singkok hasil curiannya tadi.
"Bukan aku ya, Bang. Itu tadi Tante yang buka salurannya pas aku baru datang." kilahnya.
"Sama saja. Tapi, kau menikmatinya bukan?" ledek Zafran lagi langsung mendapat sumpalan keripik singkok di dalam mulutnya.
"Enak ya buatan Tante?" ujar Rizal adik sepupu Zafran. Anak dari adik Mamanya.
Pletakk
"Aduhh! Kau tega sekali, Bang." keluh Rizal sambil mengusap dahinya.
"Dasar tidak punya sopan santun sama orang tua!" cibir Zafran.
"Tapi, kan Abang bukan orang tua! Sejak kapan Abang menikah dan punya anak? Apa jangan-jangan...! Tante, Bang Zafran kaw...hmpttt."
"Sialan kau bocah! Tutup mulutmu itu!" amuk Zafran yang tadinya menyumpal mulut Rizal menggunakan bantal kecil di sampingnya.
"Haaahhhh...haaaahhhhh. Kau sudah gila, Bang!" sungut Rizal dengan nafas yang memburu.
"Cih! Mau apa kau datang ke sini?!" tanya Zafran.
Rizal hanya menyengir. Tadinya dia lupa dengan maksud dan tujuannya berkunjung ke rumah Tantenya. "Bang, minta tolong boleh?" rayu Rizal.
"Sudah ku duga pasti ada apa-apa." tatap Zafran sengit. "Mau minta tolong apa kau? Jangan meminta sesuatu yang di luar nalar seseorang." ujar Zafran memperingatkan. Karena sewaktu dulu dia pernah diminta Rizal untuk bekerja sama dengannya supaya para fansnya pergi saat dia kepergok sedang berada di sebuah mall. Bukan apa-apa. Tapi, Zafran lah yang kerepotan. Dia harus melawan para-para remaja cewek yang mengejar adik sepupunya itu.
__ADS_1
"Kau tenang saja, Bang. Kejadian seperti itu tidak akan terulang lagi." balas Rizal. "Aku mau minta tolong, Bang. Begini, Mama sama Papa kan lagi di luar kota..." jeda Rizal beberapa detik.
"Besok kan ada acara di sekolah. Dan acaranya harus membawa orang tua atau walinya. Karena Mama Papa tidak ada di rumah, jadi, aku mau minta tolong sama Abang untuk menemaniku." jelas Rizal.
"Ini acara kompetisi antar sekolah dengan sekolah lain. Banyak kegiatan di sana. Jadi, tugas Abang cuma duduk anteng di kursi karena kan aku anggota osis yang tugasnya cuma mengawasi jalannya kompetisi agar berjalan dengan lancar."
"Rasanya ingin mengikuti lomba-lomba itu. Tapi yah..."
"Hanya itu saja?" tanya Zafran yang mendapat anggukan dari Rizal.
"Bagaimana, Bang. Apakah bisa?"
"Untuk hari besok sih Abang bisa karena masih dalam waktu cuti."
"Yess. Terima kasih, Bang. Besok kita berangkatnya bersama ya?"
"Hemmm...terserah."
"Oke deh. Kalau begitu aku pamit dulu ya, Bang."
"Hati-hati di jalan. Jangan mengebut, helmnya di pakai!" Peringat Zafran.
"Aman, Bang."
"Tante, Rizal pulang duluan ya!" teriak Rizal.
"Tidak mau makan siang dulu, Zal?" tanya Tina menyahut dari dapur.
"Tidak usah, Tan. Rizal udah janjian sama teman. Yasudah, kalau begitu Rizal pamit ya."
"Iya. Hati-hati di jalan!"
Zafran menjatuhkan dagunya di atas bahu kanan Tina dan memejamkan matanya.
"Masak apa, Ma?" tanya Zafran sambil menghirup aroma masakan sang Mama tanpa membuka matanya.
"Masak telur dadar gulung saus asam manis sama tumis tahu tauge." jawab Tina sambil menuangkan minyak goreng ke dalam wajan.
"Huummm...aku tunggu di meja makan, Ma."
"Iya. Dari tadi kamu cuma gangguin Mama lagi masak aja."
Zafran hanya menyengir kemudian langsung pergi menuju meja makan.
.
.
.
Selesai belanja di salah satu supermarket, Ceisya dan sang Bunda langsung memutuskan untuk pulang.
Kemarin sore Ceisya baru saja sampai di rumahnya.
"Bunda, ini tidak ada yang ketinggalan kan?" tanya Ceisya sambil melihat belanjaannya di troli.
__ADS_1
"Sepertinya tidak ada. Yasudah, yuk kita ke kasir!"
Ceisya dan sang Bunda langsung menuju kasir.
Brukkk
"Kamu tidak apa-apa, sayang?" tanya Bunda Nai khawatir sambil membantu Ceisya berdiri.
"Iya, Bun." Ceisya menepuk pelan roknya yang terkena debu.
"Maafkan anak saya, Bu." ucap Bunda Nai meminta maaf. Ditatapnya wanita yang seperti seumuran dengannya tengah menatap mereka jengah.
"Mata itu di pakai. Jangan cuma dipajang aja!" hardiknya murka.
"Maaf, Tante. Tapi, saya benar-benar tidak sengaja menabrak anda. Lagi pula Tante tidak ada yang luka kan? Bahu anda tidak koyak kan? Saya rasa itu tidak." jawab Ceisya frontal.
Bunda Nai yang melihat sang anak tidak bisa menahan emosinya memegang bahu Ceisya.
"Jangan menahanku, Bunda!"
Bunda Nai langsung kicep. Tidak berani melawan sang anak kalau sudah emosi. Entahlah. Kalau sudah anak sulungnya bertindak, Bunda, Ayah, dan adiknya tidak bisa berkutik.
"Begitu kah caramu meminta maaf, anak kecil?"
"Lalu...apakah saya harus membawa anda ke rumah sakit? Atau anda mau langsung ke rumah sakit jiwa saja!" balas Ceisya dengan berani menatap wajahnya.
"Heh! Makin berani ya kamu!"
"Saya dan Ibu saya sudah meminta maaf secara baik. Lalu...apakah begini respon yang anda berikan? Saya rasa permintaan maaf saya tidak berguna. Maka dari itu, permintaan maaf tadi saya tarik kembali." Ceisya tersenyum sinis bak Ibu tiri yang jahat.
"Kurang ajar!"
Bunda Nai langsung menangkap tangan yang hampir menampar anaknya. Berani-beraninya menampar seorang anak perempuan kesayangannya.
"Anda yang keterlaluan. Memang benar ya, umur seseorang tidak menjaminnya menjadi dewasa. Bahkan, anda sudah seperti bocah yang masih labil." tatap Bunda Nai tajam. "Bahkan, anda tidak bisa mengontrol emosi. Beraninya main kasar sama anak gadis!"
Wanita tersebut langsung menarik tangannya kasar. Cengkraman tangan Bunda Nai di pergelangan tangannya menimbulkan efek perih.
Ceisya tersenyum sinis.
"Gina." panggil seorang pria.
Wanita tersebut langsung menoleh.
"Ada apa ini?" tanyanya melihat istrinya.
Gina menunjuk Ceisya dan Bunda Nai. "Mereka menyakitiku, Mas. Lihat! Tanganku sampai memar." adunya.
"Apakah kalian berdua sudah bosan hidup? Beraninya melukai istriku!" ujar Geri.
"Memangnya kau malaikat izrail yang bisa mencabut setiap nyawa manusia? Tidak bukan?" balas Ceisya.
"Dasar gadis tidak punya sopan santun!"
Ceisya tergelak. "Aku? Hahaha...aku rasa matamu rabun, Tuan. Sudahlah. Aku malas berurusan dengan kalian pasangan suami istri yang sama-sama jahat." ujar Ceisya sambil menggandeng lengan sang Bunda. "Kita pergi, Bun. Di sini banyak manusia-manusia purba yang terkenal di eranya." Ceisya langsung mengajak Bundanya pergi.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, Ceisya tidak bisa berhenti mengoceh. Bahkan, Bunda Nai saja pusing dibuatnya.
"Bisa-bisanya mereka mengancam kita, Bunda. Hahahaa...aku rasa dia manusia ter-aneh sedunia. Tingkat percaya dirinya besar sekali. Bahkan, bumi dan langit saja tidak marah sewaktu kita injak dan oksigennya kita ambil tanpa membayar pajak."