
Sisa makanan dan piring kotor kini sudah bersih di atas meja. Sementara kedua orang itu masih ingin duduk santai menikmati dinginnya AC yang menyeruak.
Zafran meneliti jarum jam di tangannya yang menunjukkan pukul 19.45. Masih ada tersisa waktu sekitar satu jam untuknya.
"Keluar yuk!" ajak Zafran sembari bangkit dari duduknya. Mengulurkan tangan ke arah Ceisya yang masih duduk anteng.
"Pulang?" tanya Ceisya dengan ragu menyambut uluran tangan pria itu. Tangannya digenggaman dengan erat seolah-olah takut untuk melepaskan untuk kedua kalinya.
"Jangan kenceng-kenceng megangnya." tegur Ceisya mengikuti langkah kaki Zafran yang lebar.
"Maaf." sesal pria itu mengendurkan genggaman tangannya.
Setelah sampai di dalam mobil dan memastikan sabuk pengaman aman. Zafran segera menancapkan pedal gas mobilnya melewati jalanan yang cukup ramai.
Sebenarnya Ceisya cukup kepo ke mana pria itu akan membawanya pergi. Memejamkan matanya erat saat melewati jalanan yang cukup gelap. Hal itu membuatnya teringat akan kejadian dulu.
Zafran yang menyadari akan ketakutan Ceisya segera menenangkan dengan menggenggam tangan gadis itu.
"Jangan takut. Aku ada di sini." ucap Zafran membawa tangan Ceisya untuk ia kecup.
Hati Ceisya berdesir diperlakukan seperti itu. Membuat hatinya sedikit tenang dan memberikan sebuah senyuman yang memabukkan.
Selama dalam perjalanan, jemari-jemari lentik itu tidak pernah nganggur. Zafran terus menggenggamnya dengan erat sambil sesekali mengecupnya. Sungguh! Hal itu membuat darah Ceisya berdesir.
"Ini kan...?" Ceisya tidak dapat menyelesaikan perkataannya saat mobil yang dikendarai Zafran berhenti di sebuah pasar malam. Tempat yang menjadi salah satu kenangan mereka dan Zafran ingin mengulangi itu.
"Suka?" tanya Zafran memandang dalam.
__ADS_1
Ceisya hanya mengangguk menanggapi. Rasanya ia sangat bahagia. Melupakan sejenak beban tugasnya.
Zafran keluar dari mobilnya lalu mengitari pintu satunya dan menyambut Ceisya.
"Tunggu bentar, beli tiketnya dulu." ujar pria itu membawa Ceisya ke tempat pembelian tiket.
"Taraa... udah dapet 2 kan? Sekarang kita masuk. Kamu mau menaiki apa aja boleh."
Ceisya memandangnya gembira, dengan senyumnya yang lebar ia menatap pria itu membuat Zafran sedikit salah tingkah.
"Udah yuk, kita naik rollercoaster mau?"
Ceisya menganggukkan kepalanya sebagai respon. Kini keduanya sudah duduk berdampingan, sabuk pengaman sudah terpasang. Sementara Zafran tampaknya menyesal telah mengajak Ceisya menaiki permainan itu. Sedikit ragu namun ia memantapkan hatinya.
"Tangan kamu dingin, Om? Takut ya?" tanya Ceisya tersenyum menyadari tangan Zafran menjadi dingin seperti es.
"Enggak tuh." balas Ceisya menahan tawa.
"Siap-siap, Om!" bisik Ceisya tepat di telinga Zafran.
"Siap, Sayang." balas Zafran tersenyum, dalam hatinya ia merutuki begitu jahilnya gadis itu.
Permainan dimulai. Satu kali putaran masih oke oke saja. Dua kali putaran Zafran sudah mulai merasakan tidak enak pada perutnya yang terasa bergejolak ingin memuntahkan isi perutnya namun ia masih bertahan. Wajahnya sudah pucat, beda hal dengan Ceisya yang anteng-anteng saja duduk sembari berteriak bebas. Tertawa dengan lepas.
Sampai putaran ketiga sepertinya pria itu sungguh sudah tidak tahan dengan rasa yang menyiksa ditubuhnya.
Zafran membekap mulutnya merasakan gejolak itu kembali datang.
__ADS_1
"Sayang... huekkk... be-berhenti aja ya?" pinta Zafran.
"Yaampun. Lucu banget, astaghfirullah." ujar Ceisya malah tertawa. Tapi, akhirnya ia menyetujui.
Saat ini keduanya duduk di kursi kayu memanjang. Dengan setia Ceisya memijat tengkuk Zafran yang saat ini pria itu memuntahkan isi perutnya. Hanya sedikit karena tadi cepat menanggapinya.
"Sok banget ngajakin naik rollercoaster. Padahal sendiri aja mabok." sindir Ceisya sambil memberikan sebotol minuman air putih.
"Y-ya maaf. Tadi kan keceplosan. Mumpung kamu seneng mana bisa aku ngelarang." alibi Zafran memberi alasan.
"Udah?" tanya Ceisya prihatin.
"Iya. Ughhh..." Zafran merentangkan tangannya ke atas demi memulihkan tenaganya.
"Pulang aja ya?" ujar gadis itu memberi solusi.
"Eh! Jangan dong. Kan masih banyak yang belum. Ayok! Aku temenin naik komedi putar, trus naik bianglala, trus ke rumah han---"
"Jangan yang itu." potong Ceisya dengan cepat menolak.
"Hehehe, iya enggak kok."
"Naik komedi putar dulu ya? Terakhir baru naik bianglala bentar trus ke yang lain."
"Ayok!"
Yang awal-awalan Zafran menolak, kini ia terlihat antusias. Menaiki komedi putar bersamaan dengan anak kecil lainnya. Cukup satu kali putaran akhirnya keduanya memilih turun karena waktu tidak cukup, belum lagi menaiki permainan yang lain.
__ADS_1
Cahaya yang remang-remang, kabin yang bergerak berputar. Keduanya asik menikmati pemandangan dari atas bianglala. Sesekali melempar senyum lega. Rasa canggung yang sebelumnya ada kini hilang sirna berganti dengan rasa yang begitu menghangatkan hati keduanya.