Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 53


__ADS_3

Setelah mendapatkan izin dari dokter yang menangani Ceisya, kini gadis itu telihat lebih ceria. Dibantu Zafran yang mendorong kursi roda dan diikuti Bunda dan adiknya di belakang, Ceisya tampak tersenyum berulang kali. Sebenarnya sih tidak perlu pakai kursi roda. Tapi, si Om yang ngeyel banget maksa Ceisya agar menggunakan kursi roda. Katanya biar gak capek.


Ceisya hanya pasrah duduk di kursi roda yang di dorong Zafran menuju taman.


"Tante kalau mau ke kantin silahkan aja. Biar Zafran yang menjaga Ceisya." ujar pria itu mencari kesempatan berduaan.


"Enggak kok. Tante di sini aja liatin kalian."


"Bunda, aku pengen makan bakso di kantin rumah sakit kayaknya enak. Temenin ya, Bun??" bujuk Rizki yang mulai peka kondisi.


"Hummm... yaudah, Bunda temenin."


Tampak pria itu bernafas lega, memandang adik dari gadis pujaannya dengan tatapan berterima kasih.


"Bunda tinggal ya? Kalau ada apa-apa panggil aja."


"Iya, Bun. Tenang aja kok, ada yang jagain Ceisya juga." jawab gadis itu tenang.


Selepas kepergian Bunda Nai dan Rizki, pria itu tampak sedikit leluasa. Mendorong kursi roda itu hingga sampai di kursi taman.


"Eh! Jangan bangkit. Duduk diam aja disitu." ujar Zafran mulai protektif.


"Ayolah, Om. Aku hanya ingin duduk di kursi itu aja." balas Ceisya mulai jengah.


"Sama aja kan sama-sama duduk."


"Tau ih! Ngeselin kamu, Om." gerutu Ceisya mulai kesal.


"Jangan ngambek dong. Mukanya jangan ditekuk gitu. Gemes deh." pria itu gemas sendiri.


"Makanya, orang aku mau duduk doang di situ apa salahnya sih?"


"Gak salah kok. Yaudah, iya aku yang salah." pria itu pasrah membiarkan Ceisya duduk di kursi taman. Pria itu ikut membantu.


"Pindah deketan doang ini, Om. Bukannya pindah alam." celetuk gadis itu gemas.


Zafran tidak menanggapi perkataan Ceisya.


Mereka duduk berdampingan. Hanya sunyi yang dirasakan tanpa adanya suatu obrolan.


"Mau pulang, Om." adu Ceisya membuat Zafran meliriknya dalam.


"Tolong matanya dikondisikan." tegur Ceisya tanpa digubris oleh pria itu.


"Kamu mau pulang?"


"Iya, Om. Mau banget. Di sini bosan, masakannya gak enak. Hambarr." keluhnya mendramatis.


"Tapi, kalau disuapin enak gak? Apalagi disuapin aku ya?"


"Pede!"


"Emang."


"Ngeselin."

__ADS_1


"Iya."


"Hmmm..."


"Pulang dari rumah sakit gimana kalau aku ajakin kamu ketemu seseorang?"


"Siapa? Calon istrimu?"


"Malahan udah ketemu."


"Wah! Selamat ya, Om. Boleh deh kapan-kapan dikenalin."


"Kamu udah kenal."


"Oh ya. Kalau boleh tau siapa?"


"Di hadapanku ... Ceisya Aliyana Raquel, calon istriku."


Bluss


"Kok malu?" ledek Zafran.


"Siapa yang malu?"


"Kamu. Itu pipinya merah."


"Cuaca panas, Om." kilah gadis itu.


"Kalau gitu ayo kita masuk."


"Ke kamar..." jawab pria itu asal.


"Dih! Omes."


"Kok omes sih. Hayolohhh lagi mikirin apa?"


"Gak, enggak mikirin apa-apa. Lagi mikirin kenapa langit bisa biru."


"Karena langit indah seperti namamu."


"Namanya doang?"


"Iya. Untuk orangnya sepertinya belum."


Mereka terus bercanda ria. Mengobrol bersama mengingat kenangan indah. Zafran tetiba berubah menjadi bucin.


"Cincinnya gak bisa lepas ya?" tanya Zafran yang kini menggenggam tangan Ceisya. Menggenggam jari lentik itu.


"Kayaknya sih, Om."


"Apa karena kekecilan?" tebak pria itu.


"Enggak loh, Om. Malahan pas."


"Bukan cincinnya sih yang kekecilan. Tapi, kamunya aja yang makin gemoy. Pengen unyel-unyel sekarang juga."

__ADS_1


"Jangan!"


"Kenapa?"


"Ada orang ramai."


Kini pria itu menatap mengerlingkan matanya. Senyum indahnya tercetak jelas.


"Kalau sepi berarti boleh?"


"Jangan juga. Dosa!"


"Iyadeh. Jadi pengen cepet halalin biar gak dosa."


"Panas. Mending masuk aja yuk! Udah puas kan?" lanjut pria itu berucap.


"Iya, Om."


Zafran kembali mendorong kursi roda yang Ceisya duduki menuju ruangan ia dirawat. Sesampainya di sana rupanya Bunda Nai dan Rizki belum juga kembali dari kantin.


Zafran membantu Ceisya menaiki ranjang. Mengatur posisi berbaring agar nyaman.


"Om, kamu gak pulang?" tanya Ceisya menatap lekat.


"Jadi, ceritanya lagi ngusir aku nih?" balas pria itu menyindir.


"Nggak, bukan gitu, Om. Om kan udah dari pagi di sini. Emangnya gak dicariin Tante Tina?"


"Orang udah gede kenapa dicariin?"


"Kan manusia. Kalau hantu udah gak perlu dicariin. Emangnya kamu mau jadi hantu, Om?"


"Mau kok, mau banget. Hantu yang terus menghantui kamu." gombal Zafran.


"Dih! Sejak kapan kamu jadi genit gini, Om?"


"Sejak saat ini dan seterusnya. Aku harap kamu gak keberatan."


"Gak keberatan kok. Lha wong gak ngangkat apa-apa."


"Kalau diangkat jadi istri aku apa kamu keberatan?"


"Iya."


"Kenapa?"


"Aku kan masih muda."


"Bagus dong. Biar nanti jadi Mama muda. Trus nanti kalau anaknya dewasa jadi mirip Kakak Adek bukan Ibu anak."


"Masalahnya bukan itu, Om."


"Trus apa?" tanya Zafran kepo. Ia menarik kursinya lebih mendekat.


"Maaf, Om. Tapi, kamu terlalu tua untukku."

__ADS_1


__ADS_2