
"Assalamu'alaikum." seru keduanya bersamaan. Lalu tidak lama kemudian pintu rumah itu terbuka menampakkan seorang wanita separuh baya menampilkan ekspresi tersenyum.
"Wa'alaikumsalam."
"Tante, apa kabar?" tanya Ceisya sambil menyalami punggung tangan Tina, mama Zafran.
"Alhamdulillah, sehat. Tumben baru ke sini, Tante udah kangen banget loh sama kamu. Kamu sehat kan?" kedua perempuan itu berpelukan sembari cepika-cepiki.
"Ma, aku ada di sini loh." sahut Zafran merasa terabaikan. Dirinya hanya menghela nafas panjang.
"Eh iya, Mama lupa. Ayo, masuk!" ajak Mama Tina langsung menuntun keduanya masuk ke dalam rumah.
"Papa ada, Ma?" tanya Zafran saat sudah berada di dalam. Ikut duduk menemani Ceisya di ruang tamu.
"Ada di dapur. Bentar ya? Mama panggilin dulu."
Wanita separuh baya itu langsung melipir, meninggalkan Ceisya dan Zafran di ruang tamu.
"Om, aku pulang aja ya?" sungguh, rasanya seperti di medan perang. Debaran jantung yang kuat diselingi tangannya yang tiba-tiba mendingin dan berkeringat.
"Ketemu sama Papa dulu." balas Zafran. Melihat tangan Ceisya yang memucat membuatnya berinisiatif untuk menggenggamnya.
"Dingin banget. Udah kayak mau perang." bisik Zafran terkikik pelan.
Saat itu juga Ceisya langsung melayangkan tatapan tajamnya. Bukannya menghibur eh malah semakin membuatnya takut. Ya, jujur saja gadis itu merasa takut. Apakah pertemuannya ini bisa disebut sebagai perkenalan kepada ayah mertua?
"Hehe, iya, iya. Becanda, Sayang. Jangan takut gitu, Papa gak makan orang kok. Kamunya aja yang berpikiran yang enggak-enggak." tangannya mengelus-elus lembut punggung tangan Ceisya yang kini berada dalam genggamannya.
"Om, ini ngapain ngenalin aku ke Papa Om?" tanya Ceisya dengan segudang penasaran.
Zafran mendekatkan wajahnya tepat di depan telinga Ceisya. Lalu pria itu berbisik. "Mau ngenalin calon menantu." bisiknya dengan nada sensual membuat Ceisya reflek menaikkan satu bahunya karena merasa geli. Wajahnya tiba-tiba memerah, malu.
"Aku gak mau!" tolak Ceisya langsung mendapatkan delikan mata dari Zafran.
__ADS_1
"Kamu lupa? Kamu itu udah jadi milik aku. Nggak ada laki-laki lain yang boleh deketin kamu. Cincin kamu itu sebagai tanda."
"Hilih! Belum halal udah bilang kamu milik aku." cibik Ceisya secara terang-terangan.
"Oke kalau gitu! Bulan depan kamu aku halalin. Berani?" tantang Zafran.
"Dikiranya nikah itu gampang apa. Gak mau aku!" tolak Ceisya.
"Terus kamu maunya gimana?"
"Aku--"
Ghemmm
Sontak perdebatan keduanya terhenti saat sebuah deheman khas laki-laki menyapa gendang telinga mereka. Baik Ceisya maupun Zafran langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Seketika bibir Ceisya yang cerewet itu kini tertutup rapat diiringi bola matanya membelalak sukses.
"Mau sampai kapan kalian bertengkar?" kembali laki-laki separuh baya itu mengeluarkan suara. Ceisya bahkan sampai menutup matanya rapat.
"Papa?" sentak Zafran. Tubuhnya memutar seiring dengan pergerakan laki-laki yang dipanggilnya Papa itu duduk di hadapan mereka.
"Lancar, Pa. Kerjaan Papa juga gimana? Nggak ada masalah kan?"
"Alhamdulillah, enggak. Kamu bawa siapa?"
Ceisya sedari tadi menunduk saat Papa Zafran mulai mendudukkan dirinya di kursi hadapan mereka. Gadis itu tidak berani menatap laki-laki separuh baya itu. Baginya sama saja, baik anak maupun ayah sama-sama garang. Zafran yang menurutnya garang di saat pertama kali mereka bertemu, begitu juga dengan Papanya.
"Ceisya, Pa."
"Ceisya!"
"Iya, Bang!?" Ceisya menutup mulutnya keceplosan. Dirinya sangat malu, bisa-bisanya ia memanggil Papa Zafran dengan sebutan Abang.
Zafran yang mendengarnya hanya mendudukkan kepalanya menahan tawa, ia menggigit bibir bawahnya agar suara tawanya tidak terdengar. Sih, kenapa gadis di sampingnya itu sangat lucu.
__ADS_1
Sedangkan Papa Zafran yang bernama Jio itu hanya menatap tidak percaya akan gadis yang dibawa putranya itu.
"M-maaf, Om. Salah ucap." jelas Ceisya menundukkan kepalanya takut.
"Ya, tidak apa-apa. Kamu anak sekolahan?" tanya Papa Jio membuat Ceisya berani mengangkat kepalanya dan menatap sosok laki-laki yang menurutnya sedikit menyeramkan itu.
Ceisya hanya menggelengkan kepalanya pertanda tidak.
"Terus?"
"Saya masih kuliah, Om." jawab Ceisya cepat.
Tidak disangka Papa Jio memegang pelipisnya karena mendengar jawaban dari gadis itu.
"Ya, itu. Sama saja, kamu masih anak sekolahan."
"Beda kok, Om. Sekolah ya sekolah, kuliah ya kuliah. Lagian tugasnya beda-beda, sekolah itu sering jamkos sedangkan kuliah itu banyak tugas deadline."
Papa Jio melirik Zafran sekilas, seolah-seolah bertanya, Zafran mendapatkannya dari mana. Sedangkan Zafran yang ditatap itu hanya mengalihkan pandangannya, berusaha tidak melihat kodean dari Papanya.
"Beda itu. Maksudnya tuh..." Papa Jio menjeda perkataannya, bingung mau menjelaskan apa.
"Sudahlah, lupakan saja. Kamu, kenapa menundukkan kepala sedari tadi?" tanya Papa Jio mengubah topik pembicaraan mereka.
"Muka Om seram. Saya jadi takut." jawab Ceisya begitu jujur.
Sedangkan Papa Jio? Jantungnya aman? Seperti kondisi anak dan papa sama saja. Sama-sama merasakan bingungnya mau menanggapi perkataan gadis yang menurut mereka berbahaya. Sama-sama merasakan emosi yang sudah berada di ubun-ubun dan bingungnya mereka tidak bisa marah. Aneh bukan?
.
.
.
__ADS_1
maaf, candaannya recehš¤£sereceh dirikuuušš