Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 22


__ADS_3

Di dalam perjalanan mereka hanya saling diam. Ceisya yang penasaran akhirnya tidak dapat bisa menyembunyikan penasarannya itu.


"Om, kita mau kemana?" tanya Ceisya sambil melirik Zafran yang fokus mengemudi.


"Mau menemui Kak Emi bukan?"


Ceisya menganggukkan kepalanya. "Apakah masih jauh?"


"Huum...lumayan."


"Huft!" Ceisya menghembuskan nafasnya berat. Zafran hanya meliriknya sekilas, setelah itu dia kembali fokus mengemudi. Sebagai seorang polisi tentu saja keselamatan adalah hal yang paling utama.


Perjalanan mereka memakan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 1 jam setengah. Selang beberapa waktu akhirnya mereka telah sampai di depan rumah minimalis dua lantai.


Zafran melepaskan seatbeltnya. "Sudah sampai." ujarnya kemudian melihat Ceisya.


"Ehh, dia tertidur." lanjutnya melihat Ceisya yang tertidur lelap.


"Tidak bisakah saat kau bangun sifatmu seperti ini? Sedikit kalem mungkin."


Zafran terkekeh pelan. Lama Zafran memandang Ceisya yang tertidur lelap.


"Hei, bangun kebo." Zafran mengguncang lengan Ceisya pelan berharap gadis itu cepat bangun.


"Eughhhhh..."


"Ck! Seperti putri tidur saja." Zafran berdecak melihat Ceisya yang hanya menggeliat kecil.


Tidak menyerah, Zafran membangunkan Ceisya dengan berbagai cara. Salah satunya menoel-noel pipi Ceisya.


"Lima menit lagi, Bunda." racau Ceisya menyebut Bundanya tanpa membuka kedua matanya.


"Sudah sampai. Apakah kau mau bermalam di mobil sempit ini?"


Sontak saja Ceisya membuka kedua matanya saat mendengar suara berat dari seorang pria. Bukankah tadi di mimpinya itu adalah sang Bunda.


Gubrak


"Akhhh...kenapa kau mendorongku, hah?!" ujar Zafran kesal sambil mengusap kepalanya yang terbentur dashboard mobil.


"Haa?"


"Aku dimana?" beo Ceisya dengan wajah ling-lungnya.


"Kau tidak ingat? Sungguh?" tanya Zafran kaget.


Ceisya menautkan kedua alisnya mengerut. Sesaat kemudian dia menyengir, menatap Zafran dengan wajah polosnya.


Yang Ceisya ingat saat membuka kedua matanya tadi, wajah Zafran sangat dekat dengannya. Spontan Ceisya mendorong Zafran hingga pria itu mengaduh kesakitan saat kepalanya terbentur.


"Maaf, Om." ucap Ceisya tidak enak hati karena telah melukai pria itu.


"Lain kali jangan seperti itu." Zafran mengusap-usap kepala bagian atasnya yang terasa berdenyut.


"Sakit ya, Om?" tanya Ceisya tanpa berdosa. Sudah jelas tentu sakit malah ditanya.


"Masih saja ditanya!" Zafran yang kesal keluar dari mobilnya disusul dengan Ceisya.


Ceisya berjalan cepat mendekati Zafran yang baru saja keluar dari mobil. Ceisya cepat menghadang Zafran dengan merentangkan tangannya.


"Kenapa lagi?" tanya Zafran dengan kesal.


"Sakit banget ya, Om?" rupanya Ceisya masih memikirkan itu. Dia calon dokter tentu saja tidak bisa melihat pasiennya kesakitan. Walaupun bukan dokter umum atau apa. Tapi, yang namanya jiwa-jiwa seorang dokter tentu saja dia tidak bisa tinggal diam.


"Tidak lagi." sebenarnya kepala Zafran masih berdenyut walau tidak sesakit tadi.

__ADS_1


"Coba aku lihat, Om. Siapa tau kepala Om robek."


Zafran yang kesal bertambah kesal. Namun, dia tetap menuruti permintaan Ceisya yang mengkode dirinya agar menunduk.


Ceisya membelai rambut Zafran untuk melihat kondisi kepalanya. Raut wajahnya berubah menjadi serius.


Zafran yang diperlakukan seperti itu membuatnya ingin menghentikan waktu barang sejenak. Dia terus menikmati pemandangan indah di depan matanya.


"Sepertinya ini harus di rontgen, Om. Aku takut nanti kau akan gegar otak." ucap Ceisya asal.


Zafran tahu kalau gadis di depannya itu sedang membohonginya. Yang dia lakukan adalah berusaha mengimbangi gadis itu.


"Benarkah?" Zafran pura-pura terkejut.


Ceisya menghentikan aktivitasnya yang menyusap kepala Zafran. Dia menatap kedua bola mata Zafran yang teduh. "Tentu saja."


Selang beberapa menit, Ceisya menghentikan usapannya. "Apakah sudah sembuh?" tanyanya dengan tangan yang sudah terlepas kontak dari kepala Zafran.


"Lumayan." jawab Zafran yang masih mengindahkan posisi tubuhnya hingga jarak mereka lumayan dekat.


"Hayo lagi ngapain di situ?"


Ceisya terperanjat kaget begitu juga dengan Zafran. Mereka menormalkan posisinya berdiri tegap.


"Ekhem." Zafran berdeham. Melihat sesosok wanita yang tengah berbadan dua menatapnya dengan jahil.


"Ngapain berdiri di sana?"


Zafran melirik Ceisya sebentar. "Masuk." ucapnya pelan.


"Bareng, Om."


Ceisya seketika gugup saat melihat rumah minimalis yang dia yakini rumah Zafran.


"Duluan lah."


"H-hai, Kak Emi." sapa Ceisya sedikit gugup.


"Hai, Isy. Bagaimana kabarmu?" tanya Emi menuntun Ceisya masuk ke dalam rumah.


"Baik, Kak. Bagaimana kabarmu dengan kandunganmu?"


"Dia baik. Tapi, akhir-akhir ini sepertinya dia begitu merindukanmu."


Emi membawa masuk Ceisya ke ruang tamu.


"Kak, Mama ada?" tanya Zafran.


"Mama lagi ke rumah tetangga sebentar."


Zafran hanya ber'oh iya. "Temani dia dulu ya, Kak. Aku mau ke kamar sebentar. Lagian dia ke sini ingin bertemu denganmu."


"Isy, kau mau minum apa?"


"Tidak usah repot, Kak. Air putih saja sudah cukup."


"Kau tunggu di sini sebentar ya? Aku mau mengambilkan air untukmu sebentar." Emi beranjak pergi dari ruang tamu meninggalkan Ceisya seorang diri di sana.


Ceisya hanya melihat suasana rumah Zafran. Di dinding ruang tamu terdapat foto berbingkai.


"Cantik-cantik dan tampan-tampan tentunya." pujinya meneliti setiap foto.


"Kau siapa?"


Ceisya terperanjat, spontan dia menoleh ke belakang dan menemukan wanita paruh baya yang masih cantik di usianya.

__ADS_1


"Eh! Tante..." Ceisya sediki gerogi. Dengan gemetar dia menyalami takzim tangan wanita itu.


"Temennya Emi?"


Ceisya mengangguk ragu.


"Oh ya. Siapa?"


"Ceisya, Tante."


"Baiklah, Ceisya. Duduk lagi yuk."


"Iya, Tan."


Tidak lama datanglah Emi dengan membawa nampan. Seperti permintaan Ceisya tadi, Emi benar-benar membawakan segelas air putih.


"Eh, Mama. Baru pulang?" tanya Emi duduk di samping Ceisya.


"Iya. Ini teman kamu?" tanya Mama Tina dibalas anggukan oleh Emi.


"Ke sini sama siapa? Tadi Mama lihat hanya ada mobil Zafran."


"Dia ke sini bareng Zafran, Ma."


"Mama? Mama sudah pulang, Ma." akhirnya yang dicari-cari muncul juga dengan raut wajah segar.


"Kamu tidak mau menjelaskan apa-apa ke Mama, Zaf?"


Zafran duduk di samping Mama Tina. "Apa yang mau dijelaskan, Ma?" tanya Zafran bingung.


"Sudahlah. Punya anak laki-laki kok begini amat?" Mama Tina bangkit dari duduknya. "Kalian temani Ceisya dulu. Mama mau mandi dulu sebentar."


"Iya, Ma." jawab Zafran dan Emi. Sedangkan Ceisya hanya mengangguk.


"Eummm...Isy."


"Ya, Kak?" Ceisya melihat Emi yang memainkan jari-jari tangannya.


"Apa kau bisa masak?"


"Bisa."


"Mau tidak memasak makanan untukku?"


"Eh!"


"Tidak mau ya?" tanya Emi sendu melihat respon yang diberikan Ceisya.


"Mau kok. Memangnya Kak Emi mau di masakkan apa?" tanya Ceisya membuat Emi kembali bersinar. Memang wanita hamil begitu sensitif.


"Nasi goreng telur sosis, sate ayam. Tapi, mau sate ayam kampung."


"Haaa?"


"Tidak mau ya?" sendu Emi.


"Mau, Kak. Jangan sedih lagi ya." ujar Ceisya.


"Baiklah. Kalau begitu aku menunggu masakan kalian berdua di kamar ya. Nanti kalau sudah selesai panggil aku."


"Kami?" beo Ceisya yang masih belum konek.


"Iya, kalian. Isy dan kau Zafran. Aku mau kalian yang memasak makana untukku. Ahh, rasanya tidak sabar. Air liurku serasa mau menetes membayangkannya."


"B-baiklah, Kak. Kau silahkan tunggu di kamar saja."

__ADS_1


"Terima kasih, Isy. Jangan lama-lama ya? Dan kau adikku sayang, kau harus memasak untukku. Ralat, tapi, untuk keponakanmu. Dadahhhh..."


__ADS_2