
"Gak boleh masuk!" ujar gadis sembari mendorong tubuhnya keluar.
"Tanggung. Udah di dalam ini. Gak dibolehin masuk? Kasian!"
"Bukan gitu. Ini beneran cuman berdua? Nanti difitnah."
"Ya, biarin aja. Langsung dinikahin kan?"
"Gak mau!" tolaknya memasang wajah garang yang sayangnya terlihat menggemaskan bagi pria itu.
"Mau."
"Enggak."
"Enggak..."
"Mau."
"Yes, mau ya?"
"Enggak. Tadi kan itu aku sambungin kalimatnya."
"Halah! Pakai alasan segala."
"Ayo keluar. Nanti ada orang."
"Bagus dong." jawab Zafran dengan anteng duduk di kursi ruang tamu.
Ceisya memijat pelipisnya, kepala dibuat pusing. Ini adalah pertemuan perdana mereka yang sedikit canggung. Jelas gadis itu canggung karena mengingat sekian lama mereka tidak bertemu. Eh, padahal belum sampai sebulan ya. Tapi, rasanya sudah seperti satu tahun mungkin?
Pria itu bangkit dan meneliti isi kost-an Ceisya yang umum seperti anak kuliahan pada umumnya. Ia melirik gadis itu yang berdiri di depan pintu kamarnya sembari berkacak pinggang.
Zafran terkekeh kecil membuat Ceisya memasang wajah garangnya. Firasatnya tidak baik ini. Ia semakin menatap horor ke arah pria itu yang berjalan mendekati dirinya.
Selangkah maju, gadis itu juga mundur selangkah ke belakang, begitu seterusnya hingga punggungnya mentok ke dinding luar kamar.
"Mau apa?" ketus gadis itu. Ingin ia marah. Pria itu seakan mempermainkan dirinya, datang sesuka hati dan pergi juga begitu dan datang lagi entah apa tujuannya.
"Mau aku itu... kamu." anggap saja pria itu stres. Untung jangka waktu cutinya masih tersisa.
"Haa??" gadis itu memasang wajah blo'onnya. Otaknya serasa konslet.
"Gak ada. Jalan yuk!" ajak pria itu.
Nafas Ceisya sempat tercekat saat tangan pria itu mengelus lembut kepalanya. Sesaat ia bernafas lega karena Zafran kembali duduk di kursi.
"Gak mau." jelas Ceisya menolak.
"Kenapa?"
"Tugasku numpuk." ucapnya memberi alasan yang tepat.
__ADS_1
"Bentar aja? Besok aku bantuin ngerjainnya." bujuk Zafran.
"Emangnya tau? Ah, gak yakin."
"Apa aku selalu dianggap ragu di matamu?"
Ceisya mengangkat kedua bahunya sebagai respon.
"Ya? Nanti pulang jam sembilan deh."
"Pagi?"
"Emang kamu mau?" bibir Zafran beredut menahan tawa melihat kepolosan gadisnya. Mengada-ngada kalau pulangnya pagi.
"Gak mau." tolak Ceisya dengan polosnya..
"Sembilan malam, astaghfirullah."
"Owh."
Ingin Zafran menangis di tempat. Baru pertama bertemu, harusnya disambut dengan romantis eh malah dramatis begini.
"Oke, aku ganti baju dulu bentar."
Zafran mengangguk menanggapi. Tidak lama ia menunggu sampai akhirnya Ceisya sudah siap.
Mereka berjalan beriringan keluar. Zafran membukakan pintu untuk Ceisya.
"Jalan." ucap Zafran singkat.
"Iya tau jalan. Maksudnya tujuannya mau ke mana?"
"Kamu mau shoping? Kita ke mall kalau gitu."
"No! Aku gak suka shoping, apalagi malam." tolak Ceisya.
"Kalau siang? Mau?"
"Mau, kalau ada temennya."
"Yaudah, besok aku temenin?"
"Katanya mau bantu nugas?"
"Oh iya. Maaf, lupa."
Pertama Zafran memberhentikan mobilnya ke sebuah restoran. Ia merangkul pundak Ceisya membuat gadis itu panas dingin.
"Mau makan apa?" tanya Zafran membawa Ceisya ke sebuah ruangan privat yang telah ia boking tadi.
"Aku kenyang."
__ADS_1
"Yaudah."
Sesampainya di dalam, masuklah seorang pelayan perempuan yang membawa buku catatan kecil.
"Mas, mbak, mau pesan apa?"
"Ini aja, Mbak. dua ya?"
Setelah mencatat pesanannya, pelayan itu kemudian keluar. Meninggalkan keduanya yang duduk canggung.
"Kenapa natapnya begitu?" tegur Ceisya merasa salting ditatap demikian.
"Pengen aja. Gak boleh?" tanya Zafran tanpa berkedip memandangnya.
Ceisya hanya diam mengabaikan pertanyaan itu yang ia rasa susah untuk dijawab.
"Cantik sekali."
"Mana?" beo Ceisya.
"Kamu."
"Gombal!" cibik Ceisya kesal.
"Beneran. Kamu gak kangen sama aku?"
"Enggak." jawab Ceisya berbohong, ia memalingkan wajahnya ke samping.
"Kalau bicara sama lawan, tatap matanya. Gak sopan." tegur Zafran setengah meledek. Ingin tertawa, tapi ia tidak ingin membuat gadis itu semakin malu.
"Kita kan bukan lawan, kenapa harus tatap-tatapan?"
"MasyaAllah, makin cinta aku." seru Zafran menahan sabar.
"Gak boleh!"
"Boleh kok."
Obrolan mereka terhenti saat pesanan mereka telah sampai. Zafran segera mengajak Ceisya mencicipi makanan tersebut.
"Gak lapar." tolak Ceisya sekali lagi.
"Ayo... sekali aja cobain. Makan yang banyak biar cepet gede."
"Jangan ngeledek. Mentang-mentang udah gede, sombong!" cibirnya memajukam bibirnya manyun.
"Hahahaa... aku gak ngeledek loh? Kan faktanya emang gitu. Badan kamu aja kecil, makanya makan yang banyak."
"Gendut dong?"
"Gak pa-pa. Yang penting kan bahagia?"
__ADS_1
Ceisya hanya menganggukkan kepalanya. Ia menurut saat Zafran menyodorkan sesendok makanan ke arahnya. Mengunyahnya dengan terpaksa. Hanya tiga suap yang masuk dan tersisa banyak. Zafran tidak malu memakan bekas Ceisya sampai habis.