
Hai, sebelum lanjut baca ini. Kalian disarankan untuk baca ulang di part 64 . Dari bab itu aku udah update cerita kelanjutan sebelumnya. Karena isinya sempat aku revisi jadi gitu deh ya, dari bab 64 itu isinya baru ya, bukan sama kayak yang lalu.
.
.
Satu bulan dilewati oleh Zafran dengan hampa menahan rindu yang begitu menggebu. Keduanya hanya berkomunikasi melalui ponsel, entah itu telfon ataupun chatting. Dan itu pun sangat jarang karena Ceisya yang begitu sibuk dengan tugasnya. Sering kali gadis itu menangis lantaran capek. Mungkin itu adalah hal yang wajar bagi mahasiswi perempuan. Mereka adalah makhluk spesial yang gampang menangis.
Hari ini, di kampus yang menjadi tempat dia menuntut ilmu untuk sementara waktu. Ceisya sudah siap untuk melakukan zoom meeting di dalam sebuah ruangan komputer. Tidak hanya dirinya, melainkan beberapa temannya juga yang akan ikut. Ya bisa dihitung terdapat belasan mahasiswa di sana. Semuanya adalah orang baru, alias baru kenal saat baru menginjakkan kaki di tempat itu.
Saat ini Ceisya sudah standby di depan komputer. Dirinya tengah mengutak-atik komputernya yang entah kenapa sangat sangat sangat lemot. Gadis itu bahkan berdecak beberapa kali karena zoomnya sedikit rewel.
Gadis itu bahkan tidak menyadari kalau ada sepasang mata yang melihat aktivitasnya itu dalam jarak yang sangat dekat. Setelah penantian panjang akhirnya komputernya itu bisa diajak kompromi. Buktinya sekarang zoomnya sudah bisa, terpampanglah paras cantiknya di depan zoom itu. Karena merasa lega, Ceisya pun menyandarkan belakang tubuhnya di belakang sandaran kursi kayu. Tapi, tiba-tiba gadis itu dibuat terkejut saat punggungnya terasa menyentuh jari jemari. Dan dirinya baru sadar kalau ada orang lain di belakangnya tengah memegang sandaran kursinya. Ceisya bisa melihat orang tersebut dari layar zoomnya yang kini sudah terbuka.
Mau mendongak rasanya tidak mungkin. Takut saja soalnya yang di belakangnya itu adalah laki-laki. Seandainya dirinya mendongakkan kepala, adegan tersebut akan mirip dengan scene film drakor. Ah, mleyot.
Mereka sama-sama terdiam. Ceisya dengan keterdiamannya merasakan gugup. Bukan karena tertarik, tapi, dirinya merasa sedikit risih saat berada di dekat pria asing. Sementara laki-laki itu terdiam entah memikirkan apa. Dia hanya melihat komputer Ceisya yang zoomnya sudah menyala. Tanpa aba dirinya langsung pergi meninggalkan Ceisya dengan raut penuh kebingungan. Tidak jelas!
Zoom meeting pun dimulai. Ceisya tampak serius mendengarkan dosennya menjelaskan materi. Sedangkan mereka yang di dalam ruangan itu juga dipantau oleh dosen pembimbing. Waktu berputar, tidak terasa mereka sudah berada di akhir acara. Doa serta salam mereka ucapkan sebagai penutup zoom meeting tersebut.
__ADS_1
Seperti biasa, kalau ada kegiatan penting pastilah akan ada yang namanya foto bersama untuk dokumentasi.
Mahasiswa yang berjumlah sekitar belasan orang itu sudah berkumpul di luar ruangan yang sama. Mereka ditemani dengan dua dosen lainnya yang membimbing mereka sepanjang acara tadi.
"Sya, sini." ujar seorang pria yang sama.
Ceisya hanya memandangnya tanpa minat. Dirinya lebih memilih untuk melipir, berdiri di pinggir. Semua formasi sudah lengkap, tinggal mengusun letaknya saja. Rupanya Ceisya lebih nyaman berada di pinggiran, berada di ujung sisi kanan. Letaknya sudah diatur, tujuh orang berada di tangga bawah termasuk dengan dua dosen lain, dan tujuh orang lainnya berada di tangga atas. Jadi, bisa dibayangkan. Mereka mengambil dokumentasi di jalan tangga menuju gedung kampus.
Dan Ceisya lebih memilih berada di bawah, di ujung sisi kanan. Saat posisi masih diatur, tiba-tiba Ceisya dikejutkan oleh pria tadi yang kini berpindah posisi di sampingnya. Menyela antara Ceisya dan temannya yang berada di sampingnya. Ceisya hanya mampu mendengus kasar sambil memutar bola matanya jengah.
Namun, gadis itu hanya mampu tersenyum saat kamera bersiap-siap untuk memotret mereka. Rasanya sedikit risih berada di dekat pria dengan jarak yang sangat dekat. Bahu kirinya sampai bertemu dengan lengan pria itu. Hanya sampai di lengan, maklum, Ceisya gadis yang pendek. Untung tidak pendek akal.
"Nah! Gini kan enak dilihatnya. Jadi, kita sama tingginya." mendengar itu, Ceisya sudah mengumpat di dalam hati. Mentang-mentang dirinya pendek. Iya jujur, tapi, jujurnya itu sangat menyebalkan menurut Ceisya.
.
.
.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan, Ceisya bergumam, melontarkan kata-kata umpatan karena kesal. "Songong banget jadi cowok. Gue sumpahin tuh ketiban tangga." gumamnya dengan mulut komat-kamit. Saat ini Ceisya berjalan menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku yang waktu lalu dia pinjam.
Namun, sepertinya hari ini adalah hari kesialan Ceisya. Suara itu terasa mampir di telinganya.
"Sya, mau ke mana? Owh, aku tebak. Kamu pasti mau ke perpus. Aku ikut ya?"
Langkah kaki Ceisya tidak kunjung berhenti. Membuat laki-laki itu berjalan dengan posisi mundur ke belakang.
"Sya, boleh minta nomor whatsapp-nya gak?" pertanyaan pria itu tidak digubris sama sekali oleh Ceisya. Dia hanya diam tanpa berniat untuk menjawab.
"Oh ya, kamu pasti belum makan siang, kan? Ya udah, yuk makan siang bareng aku. Kita ke cafe depan kampus." tutur pria itu lagi tak kenal mundur sebelum mendapati respon dari Ceisya.
Ceisya memberhentikan langkahnya dan mematap wajah pria itu. "Oke." jawab Ceisya hanya satu kata. Satu kata yang berhasil membuat Ardi terperanjat senang.
"Sekalian ajakin teman satu kelas." lanjut Ceisya lagi. Ah rupanya gadis itu ingin melawak.
Ardi berdehem guna menetralisirkan perasaan gugupnya. "Gak bisa kamu aja, Sya? Aku cuma pengen nyobain makan berdua."
"Enggak." tolak Ceisya mentah-mentah.
__ADS_1