Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 72 (End)


__ADS_3

part bucin bertebaran!!!


•••


Angin malam berhembus menembus tubuh Ceisya yang hanya terbalut gaun tidur malam berbahan satin yang ia lapisi dengan bathrobe. Ia berdiri dengan tangan berpegangan pada ganggang pembatas balkon di kamarnya. Suasana malam yang akhir-akhir ini membuatnya tenang dan damai. Gemerlap malam dengan ribuan bintang diterangi sinar rembulan membuatnya memejamkan mata meresapi indahnya malam dengan buaian angin.


Tiba-tiba dua tangan kekar melingkar di perutnya yang membuat Ceisya reflek menoleh ke arah samping. Sosok pria yang memeluknya adalah sang suami yang sudah tiga tahun ini menikah bersamanya. Ceisya benar-benar tidak menyangka kalau waktu berjalan begitu cepat. Menikah, mencapai cita-cita, dan dikaruniai seorang anak laki-laki adalah sebuah anugerah baginya.


"Waktu berjalan begitu cepat." gumam Ceisya sembari memejamkan mata. Merasakan dua tangan kekar itu semakin mengeratkan pelukannya. Nafas kasar yang menyapa lehernya membuat bulu kuduknya merinding. Pelukan inilah yang ia rindukan selama sembilan bulan terakhir. Sebagai istri dari seorang perwira haruslah berkompeten. Ia harus memiliki tiga peran sekaligus. Tiga peran tersebut adalah peran istri sebagai pendamping suami, peran sebagai ibu rumah tangga dan peran sebagai warga masyarakat.


"Masuklah! Ini sudah malam, nanti masuk angin." bisik pria itu sambil memberikan kecupan-kecupan kecil di lehernya.


"Zafri sudah tidur?" tanya Ceisya masih dengan posisi sebelumnya.


"Iya, sudah. Sekarang... waktunya kita istirahat."


Ceisya hanya mengangguk pelan. Tangannya terulur ke bawah untuk memegang tangan yang memeluknya itu.


"Perasaan baru kemarin jadi anak gadis, eh sekarang sudah jadi orang tua aja." kekehnya pelan.


"Tapi, kamu masih seperti anak gadis, Sayang. Setiap hari kamu tambah cantik, yang membuatku tidak bisa berpaling kepada wanita lain."


Tidak dipungkiri, hati Ceisya terasa berbunga-bunga dengan banyak kupu-kupu berterbangan di kepalanya. Tangannya langsung memukul pelan lengan suaminya. "Gombal." gumamnya pelan.


"Mana aku gombal. Ini tuh fakta, Sayang. Beneran kamu tambah cantik, apalagi sekarang." ujarnya dengan nada sensual. Tangan yang awalnya hanya diam memeluk perut rata itu kini kian bergerak pelan mengusapnya dengan gerakan turun naik.


"Mas, tangannya!" tegur Ceisya yang merasa tubuhnya sudah meremang akibat perlakuan suaminya.


Bukannya berhenti, pria itu malah semakin menjadi. Ia menarik tubuh Ceisya dan mendekapnya lebih erat. Wajahnya ia letakkan tepat di samping wajah Ceisya yang otomatis kedua pipi mereka bersentuhan. Rasa rindu yang begitu menggebu-gebu bersarang di hatinya. Pria itu melampiaskan rasa rindunya dengan mengecupi pipi Ceisya berulang kali dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Seperti Zafri butuh adek baru, Sayang..." bisiknya serak.


Kedua bola mata Ceisya langsung melebar sempurna. Tidak! Tidak! Ia belum siap untuk memberikan adik kepada Zafri, putra sulungnya.


"Belum boleh! Zafri masih kecil. Aku takut nanti gak bisa membagi waktu, apalagi perhatian dan kasih sayangku kepada mereka." tolak Ceisya cepat. Ia melepaskan tangan suaminya dan otomatis pelukannya terlepas. Ceisya membalikkan badannya, menatap suaminya.


Pria itu langsung terkekeh karena merasa istrinya akan mengamuk. "Becanda, Sayang. Lagipula aku masih ingin menghabiskan waktu bersama kalian. Tapi, nanti kalau Zafri sudah besar, aku ingin memberikannya adik perempuan." bisik pria itu diakhir kalimatnya.


Yang dilakukan Ceisya saat ini adalah memutar bola matanya jengah. Tingkahnya itu sudah sedari dulu, suka memutar bola matanya.


"Lihatlah! Kau itu suka sekali memutar bola matamu. Apa kamu tidak tau, perbuatanmu itu justru sangat menggemaskan di mataku? Kamu pengen dihukum, hm?" sontak Ceisya menggelengkan kepalanya cepat. Ia hampir lupa.


Namun, sesaat kemudian ia langsung tersenyum. Tangannya langsung ia lingkarkan di leher pria itu, otomatis jarak mereka terkikis. Ceisya tersenyum menggoda, matanya mengunci bola mata suaminya. "Baiklah. Apa hukumannya? Eh, bukan! Harusnya aku yang memberikan hukuman karena kamu sudah meninggalkanku dan Zafri selama sembilan bulan. Bukankah itu sangat kejam, Sayang, hm? Ayolah, apakah kau akan menolak hukumanku?" bisik Ceisya diakhir kalimatnya tepat di depan telinga pria itu. Lalu Ceisya menjauhkan wajahnya dan menatap suaminya yang tampak berseri.


"Hmmm... apakah hukumannya bisa diberikan sekarang?" tanya pria itu tersenyum menyeringai

__ADS_1


"Hukumannya tahun depan." balas Ceisya yang berhasil memancing kegemasan pria itu. Terlalu lama baginya!


"Lama. Aku yang akan memberikanmu hukuman!" serbu pria itu langsung menyerang istrinya.


Ceisya yang tidak memiliki kesiapan langsung gelagapan seketika. Namun, setelah beberapa waktu akhirnya ia bisa menyeimbangkan.


Pria itu langsung menyerangnya. Menyatukan dua benda kenyal itu. Terasa lembut dan sangat manis. Awalnya yang terkesan menuntut itu kini kian melembut. Ceisya bahkan ikut terlena akan permainan suaminya. Jarak yang selama ini mereka rasakan mulai terkikis pelan, seiring dengan rindu mereka yang begitu membuncah. Mereka salurkan lewat penyatuan kedua bibirnya.


Hanya ada terdengar suara hewan-hewan di luar dan suara dedaunan yang terkena hembusan angin. Rasa dingin itu menghilang berganti dengan rasa panas dan sedikit menggebu-gebu.


Disela-sela ciumannya, Ceisya sempat menitikkan air matanya. Selama sembilan bulan itu ia tersiksa menahan rindunya. Berjuang membesarkan putra sulungnya sendirian selama sembilan bulan itu. Tiap malam ia menangis lantaran rindunya yang teramat. Setiap malam itu juga ia selalu mengusap bingkai foto mereka. Dan setiap malam itu ada air mata yang terkuras. Rasa letih sepulang bekerja terasa hilang saat pulang dan bertemu dengan malaikat kecilnya. Namun, rupanya hal itu tidak bisa menyembuhkan rasa rindunya. Sedikit terobati, namun tidak sepenuhnya.


Malam ini, ia lampiaskan semuanya. Rindu, hanya satu kata yang memiliki makna tersembunyi.


Pria itu sampai melepaskan ciumannya saat merasakan ada lelehan bening yang terasa asin yang tidak sengaja terasa di lidahnya. Pria itu menangkup kedua pipi Ceisya yang masih menangis meneteskan air mata entah itu air mata kesedihan ataukah air mata kebahagiaan.


"Hei, kenapa menangis?" tanya pria itu lembut sembari menyeka air mata yang mengalir di kedua pipi istrinya.


Ceisya menggelengkan kepalanya. Tangannya langsung menyentuh kedua tangan suaminya yang bertengger manis di kedua pipinya.


"Apa ada yang menyakitimu? Bilang, biar aku yang akan membalasnya. Katakan!"


Ceisya menggelengkan.


"Ada apa? Apakah kamu tidak bahagia?" sontak Ceisya menggelengkan kepalanya cepat.


Ceisya menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya pelan. "A-aku..."


"Iya?"


"Kamu bertanya siapa yang menyakitiku? Kalau aku jawab siapa orang itu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya wanita itu.


"Aku akan mendatanginya dan memberikan balasan yang setimpal karena sudah berani-beraninya membuat wanita yang selama ini aku sayangi dan cintai terluka. Dia akan menyesal karena sudah melakukannya!"


"Kamu! Kamu orangnya, Mas! Kamu yang sudah melukai aku dengan menanamkan rindu yang begitu besar. Apakah kamu tidak sadar, selama itu aku tersiksa. Aku membesarkan Zafri seorang diri tanpa kehadiranmu. Setiap malam aku menangis saat melihat semua foto-fotomu. Hanya itu! Hanya itu yang bisa mereda sakitku! Tapi, tidak bisa. Aku berharap saat melihat Zafri sama seperti melihatmu. Tapi, semuanya berbeda. Aku sakit, Mas. Aku sakit!" teriak Ceisya melimpahkan semua emosinya. Dadanya naik turun, nafasnya terdengar kasar. Tangannya terkepal erat.


"M-maaf. Aku berlebihan." ucap Ceisya terbata.


Cup


"Mas--"


Cup


Pria itu melayangkan beberapa kecupan singkat di bibirnya. Berharap Ceisya berhenti berbicara yang tidak-tidak.

__ADS_1


"Maaf, karena telah menyakitimu. Dan Terima kasih atas semua pengorbanan yang selama ini kamu lakukan." satu kalimat yang berhasil membuat air mata Ceisya kembali luruh.


"Jika aku orangnya yang membuatmu merasakan sakit. Maka, aku yang akan membalasnya. Aku akan berada di sisimu, menyembuhkan luka yang telah aku torehkan. Menyembuhkan rindu yang telah tanamkan. Apakah semua itu sudah cukup atas balasan kejahatanku?"


Ceisya tidak menjawab. Ia mendongakkan kepalanya ke atas guna melihat wajah suaminya. Netra mata mereka langsung terkunci. Percikan-percikan api kecil itu mulai terasa.


Ceisya sudah berhenti menangis pun sudah merasa lebih tenang. Sontak tangannya langsung menarik kerah baju piyama yang dikenakan suaminya dan kembali melabuhkan ciumannya. Pria itu tidak mau kalah, ia menarik tengkuk istrinya untuk memperdalam ciuman mereka.


Rasa sakit yang berawal kerinduan itu seketika menghilang. Ceisya benar-benar melimpahkan semua emosinya sehingga dadanya kini terasa plong.


Ceisya mengeratkan galungan tangannya di leher suaminya, sedangkan pria itu juga semakin erat mendekap tubuh Ceisya. Tangan kekar sebelah kirinya menarik pinggang Ceisya lebih menempel dengan tubuhnya dan tangan sebelah kanannya memegang tengkuk Ceisya.


Sepuluh menit mereka berdiri. Bertukar rasa dengan begitu syahdu. Karena merasakan hari sudah lumayan larut, pria itu langsung mengangkat tubuh istrinya. Menggendongnya seperti menggendong koala. Pria itu juga menutup pintu balkon yang sebelumnya terbuka lebar tanpa melepaskan ciumannya.


Langkah kakinya berjalan menuju ranjang. Pria itu duduk di atas ranjang yang otomatis posisi Ceisya saat ini tengah duduk di pangkuannya. Serangan lidahnya ia kerahkan, melumatt bibir istrinya dengan rakus namun dalam tempo pelan. Ceisya yang terbuai pun membalas lumataann itu. Ia membuka mulutnya saat merasa lidah pria itu mendesak masuk.


Keduanya saling menyerang. Suhu tubuh yang awalnya dingin itu berubah menjadi panas. Pria itu menarik pinggang istrinya sehingga jarak mereka habis terkikis. Satu tangannya memegang tengkuk istrinya dan menekannya.


"Mmhhh..." desaahaann lembut itu perlahan keluar dari bibir Ceisya saat pria itu melepaskan tautan bibir mereka dan berpindah di lehernya. Memberikannya banyak kecupan kecil di sana yang membuat tubuh Ceisya semakin meremang. Suara-suara merdu itu tidak tertahankan lagi. Beruntung tidak ada Zafri yang tidur bersama mereka karena si kecil Zafri kini sudah tidur sendiri. Saat ada ayahnya, Zafri akan tidur di kamarnya sendiri. Dan saat ayahnya tidak ada, maka, Zafri akan tidur bersama Ceisya. Sesekali mereka tidur dalam satu ranjang bertiga.


Tangan kekar itu langsung bergerak menyentuh tapi bathrobe yang terpasang tepat di bagian depan tubuh Ceisya. Dengan gerakan pelan, tangan itu berhasil melepaskan ikatannya. Saat itu juga ia langsung menarik lepas bathrobe yang terpasang di tubuh Ceisya.


Gaun tidur malam berbahan satin berwarna soft pink itu langsung membuat mata suaminya menggelap melihatnya. Hanya dengan melihat pakaian itu, dadanya terasa berdesir. Darahnya mengalir cepat serta matanya kini berubah menjadi teduh.


"Sshhhh... M-masshh..." desaahhnya begitu terdengar merdu.


"Sabar, Sayang. Malam masih panjang, biarkan aku yang bekerja." bisik pria itu parau.


"Ahhhh..." puncak mereka akhirnya sampai. Entahlah, itu sudah keberapa kalinya. Intinya saat ini Ceisya sudah merasa sangat mengantuk. Begitu mendapatkan pelepasan yang kesekian kalinya, akhirnya matanya terpejam menikmati sisa-sisa kenikmatan mereka.


Pria itu langsung menariknya masuk ke dalam pelukannya sambil menghadiahi kecupan-kecupan banyak di pucuk kepalanya. Lalu kecupan itu turun ke dahi, kedua mata hingga terakhir bibirnya dan meluumaatnya sebentar sebelum ia lepaskan.


"Terima kasih, Sayang. I love you Ceisya Aliyana Raquel, my wife." bisik pria itu tepat di telinganya.


Dengan rasa kantuk yang menyerang hebat, Ceisya membuka matanya sendu. Kedua ujung bibirnya langsung terangkat ke atas.


"I love you too Zafran Arkana Chairil, my husband."


Tamat


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih yg telah menemani cerita Ceisya dan Om Zaf sampai sekarang 🙏Author mengucapkan banyak terimakasih karena udah mau sabar nungguin cerita ini. Mungkin cukup sampai di sini aja kisahnya ya🙏Nanti In Syaa Allah aku akan kasih beberapa bab extra part. Dan In Syaa Allah kalau ada waktu dan semangat menulis, aku bakalan nulis cerita tentang anaknya Ceisya sama Om Zaf. Iya, si Zafri. Nanti aku kabarin lagi ya kalau udah dapat karakter masing-masing. Intinya si Zafri ini sama kayak papanya. Irit ngomong, tapi, dia bakalan ngelakuin dengan tindakan 🙏


Sekian Terima kasih lagi pokoknya🥰 See you next time gaes🥰 sama satu lagi, aku mau minta maaf kalau ada 🙏🥰🥰love you para kesayangan 🥰🥰


__ADS_2