
"Bersih, rapi. Rajin banget bestieku bersihin kost-an." puji Ceisya sesaat setelah mereka sampai.
"Iyadong. Barang-barang kamu ada tuh aku simpen di dalam lemari. Buku-bukunya aku masukin ke kotak." ujar Reva sambil mengeluarkan buku-buku Ceisya yang ia simpan di dalam kotak, di bawah meja.
"Kasian banget terbengkalai."
"Sekarang kan enggak lagi. Kan udah ada tuannya yang siap membacanya."
"Hehe, iya dong. Sumpek gini, emang muat kita tidur berdua di kasur? Muat sih kayaknya soalnya kasurnya juga lumayan."
"Emangnya aku ini raksasa sampai kasur aja gak muat nampung badanku?" tatap Reva tajam merasa tidak terima.
"Hehe, becanda, Re. Udah ah, laper nih. Keluar yuk, jajan." mata Ceisya mengerling sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Baru juga sembuh. Emang udah boleh jajan di luar?"
"Bolehin lah. Aku udha sehat kok. Kalau gak percaya tanya aja pak Haji."
"Etdah, si ucup lagi nyamar jadi cewek." balas Reva cekikikan sendiri.
"Yoklah, Re. Laper nih." ajak Ceisya sekali lagi.
"Istirahat dulu lah. Capek tau abis perjalanan jauh. Lo juga baru sembuh harusnya banyakin istirahat bukannya malah kelayapan."
"Ettt ett... siapa bilang aku kelayapan. Fitnah, dosa besar. Ckckck!"
"Tau juga dosa. Baring bentaran lah, Sya. Istirahatin otot nih agak pegel. Pijitin ya?" pinta Reva.
"Kamu mau pijitin aku? Boleh banget, Re. Ayok sini?" balas Ceisya salah menanggapi.
"Sue. Orang akunya yang minta dipijitin eh malah..." Reva tidak melanjutkan ucapannya melainkan berbaring manja di kasur.
"Hehe, canda bestie. Yaudah lah, istirahat bentar kita." seru Ceisya ikut berbaring di samping Reva. Tidak terasa mereka terlelap dalam buaian mimpi.
1 jam berlalu, Reva terbangun lalu melihat sahabatnya masih tertidur lelap. Gadis itu memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu baru setelahnya membangunkan Ceisya.
Saat Reva masuk kembali ke kamar setelah mandi, dia menemukan Ceisya yang sudah terduduk di kasur dengan wajah bantalnya.
"Katanya lapar. Mandi dulu sana! Abis itu kita keluar cari makan."
__ADS_1
Tanpa membantah, Ceisya mengangguk. Perlahan ia bangkit lalu berjalan gontai mengambil handuk.
.
.
.
"Mau makan apa?" teriak Reva saat dalam perjalanan.
Ceisya yang dibonceng ikut berteriak. "Terserah, Re. Apa aja asal ada nasinya." balas gadis itu.
"Penggemar nasi emang. Hahaha..." Reva tertawa kencang.
Selang beberapa menit mereka berkendara, akhirnya mereka sampai di sebuah warung makan. Mereka memesan nasi pecel lele, nasi uduk, dan beberapa aneka makanan lainnya untuk memenuhi isi perut mereka yang telah meronta-ronta.
Mereka mengambil duduk di pojokan. Tidak lama pesanan mereka sampai. Baik Ceisya maupun Reva langsung menyantapnya tanpa banyak drama.
"Abis ini pulang ya?"
"Mampir deh. Kangen nih sama suasana di sini. Lagian kan hari ini terakhir bebas, besok udah sibuk sama tugasku yang numpuk." lirih Ceisya tidak bersemangat.
"Jangan sedih dong. Semangat lah. Biar nanti aku bantuin meskipun ya gak ngerti sih. Tapi dikit-dikit bisa lah."
Selesai makan lalu membayarnya. Mereka kembali melakukan perjalanan. Entahlah tujuan mereka tidak tau mau ke mana. Intinya jalan-jalan suka-suka saja itu lebih dari cukup. Walau hanya berputar-putar it's okay yang penting bareng bestie ya kan?
Mereka kembali menjajal jajanan di pinggir jalan. Yang penting enak walau makanan jajanan di pinggir jalan selalu dipandang sebelah mata. Yang penting enak, bersih higienis.
Sudah beberapa tempat mereka hampiri, kini saatnya pulang untuk mengistirahatkan tubuh.
Menjelang malam, pintu kost-an diketuk. Ceisya yang saat itu tengah merapikan buku-bukunya menghentikan sejenak. Menatap penuh tanya ke arah Reva yang tengah asik berkutat di depan layar laptop miliknya.
"Biasa. Bentar ya? Aku ambil dulu. Mau ikut gak? Sekalian biar kamu gak penasaran kalau tiba-tiba ada yang ngetuk tiap hari menjelang malam."
"Hmmm... oke-deh." jawab Ceisya ragu lalu mengikuti langkah Reva yang menuju pintu.
Begitu pintu dibuka. "Malam, Sayang. Eh! C-ceisya?"
"Huum... mau masuk gak?"
__ADS_1
"B-boleh?"
"Boleh. Asal bertiga."
Reva mempersilahkan, sementara Ceisya hanya diam membisu.
"Hai, Kak Daniel. Apa kabar, Kak?" tanya Ceisya setelah sekian lama berdiam.
"K-kabar baik. K-ka-mu g-gimana?"
"Alhamdulillah, baik juga, Kak. Kenapa? Jangan gugup gitu. Ulah Reva ya? Re, jangan liatin Kak Daniel gitu dong. Dia kan jadi salting."
"Hah???"
"Hah heh hoh. Jangan bengong. Wuih! Kakak bawa apaan nih? Wuih nasi goreng." celetuk gadis itu membuka bungkusan kantong kresek.
"Dua? Buat aku sama Reva aja ya, Kak?"
"I-iya."
"Kenapa sih, Kak? Kok gugup gitu?".
"E-enggak. Kaget aja liat kamu udah di sini. Padahal kemaren kan--"
"Hehe... nanti deh ya aku ceritain. Sekarang aku makan dulu. Gak pa-pa nih buat aku ya?"
"Iya, Sya. Makan aja gak pa-pa kok Lagian Kak Daniel pasti gak keberatan. Ya kan?"
"I-iya, Sayang."
"Duhhhh... yang ayank-ayank-an. Jadi nyamuk deh. Kasian." celetuk Ceisya tiba-tiba.
"Ayankmu mana?"
"Lagi hibernasi di pulau komodo." jawab Ceisya asal.
.
.
__ADS_1
.
maaf kalau alurnya berantakan 🥰🤗