
4 bulan kemudian, baik Ceisya dan Zafran semakin lengket saja. Zafran, pria itu selalu berkunjung ke kosan Ceisya saat selesai bertugas.
Hari ini weekend, keduanya memutuskan untuk pergi ke pantai. Tidak lupa juga mereka mengajak pasangan sejoli yang masih hangat-hangatnya yaitu Reva dan Daniel.
"Sudah siap semuanya?" tanya Daniel begitu semangat.
"Siap!" jawab Ceisya dan Reva kompak, sedangkan Zafran hanya mengangguk.
Mereka bepergian menggunakan satu mobil. Daniel lah yang menjadi supir sedangkan kedua gadis itu asik duduk di belakang.
"Zaf, apa kau siap?" tanya Daniel seraya menoleh sekilas.
"Entahlah. Aku bukan pria romantis... huftt!!" Zafran menghembuskan nafasnya panjang.
"Turuti saja tutor yang telah aku ajarkan kemarin." sahut Daniel.
"Apakah akan berhasil?" tanya Zafran sedikit curiga mengingat gadis itu termasuk gadis yang polos.
"Pasti berhasil."
"Tapi, dia berbeda. Sedikit polos dan aku rasa... tidak begitu yakin."
"Hih! Sudahlah. Masalah itu belakangan saja. Yang terpenting kau sudah melakukannya."
Zafran hanya pasrah. Dia sempat melirik ke belakang di mana para gadis sedang bercanda ria.
1 jam perjalanan akhirnya mereka sampai di hamparan pasir putih. Daniel memarkirkan mobilnya di tempat yang aman dan tentunya dijaga.
Begitu mobil telah berhenti, Ceisya dan Reva langsung keluar dan berlarian di bibir pantai. Mereka sama-sama melepas sepatunya dan berjalan tanpa menggunakan alas kaki.
Para lelaki hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum melihat interaksi keduanya yang begitu semangat. Mereka saling mengejar dan berakhir duduk di pasir putih itu.
Hari juga sudah semakin sore. Mereka tidak mau melewatkan pemandangan matahari terbenam yang sangat indah.
Zafran dan Daniel duduk terpisah. Mereka juga menyeret gadis mereka. Alhasil Ceisya dan Reva terpisah.
"Bagaimana, apa kau suka?" Zafran memandang gadis yang tersenyum lebar duduk di pasir putih di sampingnya.
Ceisya yang tadinya melihat matahari yang sebentar lagi akan terbenam menoleh ke arah pria itu. Dia tersenyum lebar membuat pria itu gemas dibuatnya
"Terima kasih, Om." ujar Ceisya tersenyun. Menatap garis-garis ketampanan pria itu yang semakin terpancar. Tidak dipungkiri dia begitu memuji ketampanan pria itu.
"Sama-sama."
Keduanya sama-sama menikmati keindahan alam di hadapannya. Perlahan matahari terbenam menyisakan langit jingga di ufuk barat. Seakan-akan pantai itu menelan habis matahari.
__ADS_1
Entah sadar atau tidaknya, kini kepala Ceisya sudah berada di bahu Zafran. Pria itu sentiasa mengusap-usap kepalanya.
"Dingin?" tanya Zafran menyadari tubuh gadis itu sedikit gemetar.
Ceisya hanya mengangguk. Dia merapatkan kedua tangannya di tubuhnya sendiri. Seakan-akan mencari kehangatan.
Zafran dengan sigap melepaskan rangkulannya lalu melepas jaket jeansnya dan memakaikannya ke tubuh gadis itu. Sekali lagi Ceisya mengucapkan terima kasih.
"Masuk ke dalam dulu yuk!" ujar Zafran mengajak Ceisya ke tempat penginapan karena tadi dia dan Daniel sempat menyewa penginapan dua kamar.
Ceisya hanya mengikuti Zafran yang membawanya masuk ke dalam penginapan.
"Istirahatlah sebentar. Nanti Reva akan membangunkanmu." Zafran memasangkan selimut di tubuh Ceisya yang saat itu terbaring di kasur. Sementara itu, Zafran langsung keluar dari sana.
1 jam kemudian Reva masuk ke dalam kamarnya.
"Sya..." panggil Reva pelan seraya menggoyangkan lengan Ceisya.
Ceisya menggeliat pelan. Perlahan matanya terbuka, sedikit menyipit saat matanya menyesuaikan terangnya lampu.
Dia mengubah posisinya menjadi duduk. Melihat Reva yang saat itu juga duduk di pinggiran kasur. Rambutnya sedikit berantakan dan matanya yang masih sayup-sayup terpejam.
"Bangun kebo!" Reva menepuk pipi Ceisya membuat gadis itu seketika membuka matanya lebar-lebar.
Ck...!
Reva hanya mendecak kesal. Dia bangkit dari duduknya dan menyambar handuk lalu melemparkannya ke wajah Ceisya. "Mandi sana!" ujarnya memberi perintah.
"Ish! Tidak usah lempar-lemparan segala lah." balas Ceisya merengut.
"Cepat lah! Waktumu tidak banyak. Aku beri kau waktu 20 menit." Reva menaiki kasur dan memejamkan matanya sejenak. Dia begitu lelah. Tenaganya terasa terkuras. "Oh ya! Pakai baju yang sudah kusiapkan di sana." tunjuk Reva ke arah sofa tanpa membuka matanya.
"Iya, iya." Ceisya melenggang masuk ke dalam kamar mandi. Kemudian dia keluar dengan handuk yang melekat di tubuhnya. Berjalan menuju sofa dan mengambil dua paperbag dan membukanya.
Matanya menyipit melihat pakaian yang dia pegang. Sebuah dress selutut berwarna putih. Dan dia membuka yang satunya, heels kaca setinggi 5 cm.
"Cepat pakai!"
Eh!
Ceisya sontak saja menoleh ke arah Reva yang masih memejamkan matanya. Ceisya kira sahabatnya itu sedang tertidur. Lalu... bagaimana dia sampai tahu?
Ceisya keluar dari kamar mandi dengan dress putih tadi melekat di tubuhnya. Dia menatap dirinya aneh.
"Cepatlah! Kau sudah seperti siput!" ledek Reva menyuruh Ceisya mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Kau mau apa??" tanya Ceisya aneh saat melihat Reva yang mengeluarkan make up.
"Tentu saja meriasmu."
"Eh! Tunggu, tunggu. Biarkan saja begini. Lagi pula aku tidak suka memakai make up." sahut Ceisya tanpa sedikitpun menaruh rasa curiga.
Reva hanya menghela nafasnya panjang. Dia menyerah kalau memaksa Ceisya untuk berdandan. "Baiklah. Kalau begitu kau pakai lipstik ini saja." Reva mengangkat lipstik yang dia pegang.
Ceisya menimbang-nimbang, akhirnya dia mengangguk. "Jangan terlalu tebal." pintanya saat Reva membuka penutup lipstick.
"Ck! Aku akan memakaikannya sebanyak 7 lapis agar nanti kau seperti Tante Tante." gurau Reva membuat Ceisya tertawa.
Rambut Ceisya dibiarkan tergerai begitu saja. Dia juga tidak mengenakan make up. Hanya sedikit lipstik berwarna pink yang menghiasi bibir mungilnya.
"Kita mau ke mana. Oh ya! Kak Daniel dan juga Om di mana?" tanya Ceisya heran.
"Mereka sedang menangkap para pencuri ikan di pantai." jawab Reva asal.
Ceisya tergelak. "Memangnya ada pencuri ikan di pantai di malam yang gelap ini. Apa mereka tidak takut nanti akan tersengat ubur-ubur?"
Sudahlah! Reva tidak mau meladeni Ceisya yang pastinya nanti akan berbuntut panjang.
"Kau... tunggu di sini! Awas saja kalau kabur!" ancam Reva.
"Memangnya aku mau kabur ke mana? Motor saja tidak punya." gumam Ceisya saat melihat Reva meninggalkannya.
"Ck! Sendal apaan ini? Menyusahkan saja!" maki Ceisya yang terlihat risih memakai heels kaca itu.
Suasana di pantai terlihat sangat sepi. Maklum hari sudah malam. Hanya ada beberapa pengujung saja yang masih berada di sana.
Angin berhembus sedikit kencang membuat Ceisya memeluk tubuhnya sendiri. Kenapa juga Ceisya mau menuruti perkataan Reva tadi. Lebih baik dia selonjoran di kasur.
Suasana yang lumayan gelap membuat Ceisya tidak bisa melihat dengan jelas. Hanya ada lampu yang berasal dari penginapan ataupun tempat makan.
Ceisya tersentak saat merasakan tubuhnya dibalut oleh sehelai baju. Dilihatnya ternyata itu adalah jas. Dia membalikkan badannya dan menemukan pria sedang dia cari tadi.
"Om." panggil Ceisya.
Zafran menuntunnya sedikit menjauh dari tempatnya tadi.
"Wahh! Ini indah sekali, Om. Siapa yang berulang tahun?"
…
maaf ceritanya membosankan 🙃😂
__ADS_1