Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 11


__ADS_3

Suara isakan tangis mengiringi proses pemakaman.


Ceisya, gadis itu berusaha menguatkan hatinya saat melihat sang Nenek di masukkan ke liang lahat secara perlahan. Ya, neneknya itu meninggalkannya untuk selama-lamanya. Rasanya baru kemarin Ceisya sempat tertawa dan bercanda ria bersama sang nenek. Namun, saat ini semuanya sudah hilang dan akan tinggal kenangan.


Ceisya juga masih teringat akan permintaan yang selalu Neneknya bilang kepadanya. Menjadi orang yang sukses di bidang kedokterannya. Ceisya akan mengabulkan permintaan terakhir sang Nenek.


Sesi pemakanan sang Nenek berjalan dengan lancar. Setelahnya semua yang orang pulang ke rumahnya masing-masing. Kini hanya tersisa keluarga inti saja.


"Mas, kami pulang duluan ya? Soalnya habis ini aku ada meeting penting. Tidak apa-apa kan?" ujar Fairuz sang adik berpamitan kepada Faisal kakaknya.


"Tidak apa-apa. Sebentar lagi kami pulang. Kau duluan lah."


"Baiklah, Mas. Kalau begitu aku pamit." Fairuz menatap sorot Ceisya yang begitu kosong.


Seakan mengerti, Faisal menjelaskan pada adiknya. "Biarkan saja dulu. Besok saja kalau mau menyapanya."


Fairuz mengangguk. Sebenarnya tidak tega melihat keponakan ke sayangnya terpuruk. Namun, Fairuz juga tidak bisa berbuat banyak. Hanya mendo'akan supaya semua orang ikhlas dengan kepergian Elen.


Tiba saatnya Ceisya akan di ajak pulang.


"Sayang, kita pulang yuk!" ajak Bunda Nai sambil menyentuh bahu Ceisya.


"Tapi, bund. Nanti Nenek takut di dalam sana karena anak-anak cucunya sudah bepergian tanpa menunggu beberapa saat." jelas Ceisya.


"Tapi ini sudah hampir 1 jam lho. Kamu tidak boleh sedih begini, Sayang. Malah sikap kamu yang seperti ini membuat Nenek tidak tenang di sana."


Ceisya mendongak menatap sang Bunda. "Beneran?" tanyanya dengan polos.


"Iya, iya. Sudah, pulang yuk! Kamu tidak lihat adik kamu yang sudah lemas itu." tunjuk Bunda Nai ke arah anak bungsunya yang berdiri dengan lesu. "Dari semalam panas tubuhnya naik turun."


Ceisya menatap Rizki. Dan benar saja. Bibir Rizki kering dan pusat. Ceisya sadar ini juga adalah bagian dari ulahnya


Tidak tega melihat sang adik yang sekuat tenaga berdiri di samping Ayahnya, akhirnya Ceisya mengalah.


"Ayok, Bund! Kita pulang saja. Banyak yang harus di urus bukan?"


Bunda Nai dan lainnya tersenyum melihat tingkah Ceisya.


"Bunda sudah dari tadi mengajak pulang." sindir Bunda Nai langsung membuat Ceisya menyengir.


Ceisya sempat tersenyum ke arah makam Neneknya masih masih basah sebelum dia beranjak dari sana.


Di dalam perjalanan, Ceisya dengan setia memeluk sang Bunda di kursi belakang, sedangkan Ayah dan Adiknya di kursi depan.


"Kuliahnya bagaimana?" tanya Bunda Nai seraya mengelus rambut Ceisya.


Ceisya terdiam sejenak sambil menikmati elusan tangan sang Bunda di kepalanya. "Alhamdulillah, lancar, Bun."


"Tidak mau pulang ke kosan? Ini sudah 3 hari lho kamu di rumah. Memangnya tidak takut tugasnya nanti menumpuk, hem?"


Ceisya menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bun. Nanti kalau tugasnya numpuk ya maraton lah, Bun."


"Jangan diforsir. Bunda takut kamu sakit nantinya."

__ADS_1


"Insya Allah, Bun. Oh, iya. Selama aku tidak ada di rumah, Piji nakal tidak?" tanya Ceisya melupakan kesedihannya.


"Cih! Bilangnya nakal tapi sendiri tidak sadar." sahut Rizki dari kursi depan.


"Aku bukan bertanya padamu! Aku kan bertanya ke Bunda." kilah Ceisya.


"Ya ya ya. Dasar anak Bunda!" gerutu Rizki.


"Aku memang anak Bunda. Lalu kau! Anak siapa?"


"Memangnya aku anak siapa lagi!?"


"Ck! Aku yakin kalau kau Bukan saudara kandungku. Tanya saja ke Bunda. Kau ditemukan di samping pohon pisang dekat perempatan jalan." jawab Ceisya asal.


Melihat perdebatan kedua anaknya, Ayah Faisal dan Bunda Nai hanya menggelengkan kepalanya. "Sudah, sudah. Jangan berdebat terus." lerai Bunda Nai.


"Bunda mahh."


Ceisya segera menenggelamkan kepalanya ke pangkuan sang Bunda. Tidak sadar dia tertidur selama dalam perjalanan. Hingga Ceisya dibangunkan oleh sang Bunda karena mereka baru saja tiba di rumah.


"Langsung mandi ya, Sayang!" ujar Bunda Nai sambil menuntun Ceisya masuk ke dalam kamar.


"Males ah, Bun." jawab Ceisya santai.


"Dibilangin juga. Anak bandel. Sana mandi!"


Ceisya hanya menyengir menampakkan deretan giginya yang putih dan mungil.


***


Seperti biasa Ceisya berangkat menggunakan taksi. Sempat ditawarkan oleh Ayahnya untuk mengantarkannya, tapi, ditolak olehnya.


"Hai, beb."


Reva merentangkan tangannya dan di sambut oleh Ceisya.


"Lama banget. Kangen aku tuh." ujar Reva memeluk Ceisya erat.


"Hehe, maaf. Kebablasan." jawab Ceisya.


"Gak pa-pa kok. Btw aku turut berdukacita ya. Kamu jangan sedih lagi. Nanti dia di sana gak tenang kalau lihat cucunya terpuruk." ucap Reva belasungkawa.


"Makasih, beb. Insya Allah enggak kok."


Reva memicingkan matanya sebelah menatap Ceisya. "Masa sih? Aku lihat-lihat kamu makin kurusan deh. Tuh kan, pasti gak mau makan ya?" selidik Reva.


"Apa iya?" Ceisya segera berlari masuk ke dalam kosannya dan menuju kamar. "Perasaan enggak deh. Gini-gini aja badanku." ucapnya sambil menatap dirinya dari pantulan cermin.


"Gak percaya banget sih sama temen." ujar Reva yang entah kapan sudah berada di samping Ceisya. "Tuh lihat! Pipinya jadi gak chubby lagi deh." Reva menusuk-nusuk pipi Ceisya menggunakan jari telunjuknya.


"Ntar pokoknya harus makan banyak biar pipinya bisa chubby lagi." sambung Reva membuat Ceisya mendelik.


"Yang punya badan aku, kok kamu yang sewot sih?!" protes Ceisya.

__ADS_1


"Bukan sewot loh Syayang. Itu tuh udah bagian dari dirimu yang gak bisa di lepasin. Nanti aku gak bisa nyubit pipi kamu. Emang mau aku nyari temen baru?" ujar Reva.


"Cari aja sana kalau berani!" Ceisya melenggang pergi meninggalkan Reva yang masih berdiri di tempatnya.


"Apa ngambek? Masa sih? Gampang lah ntar di sogok pakai seblak aja." ucap Reva menyusul Ceisya.


"Tidak menerima sogokan!" sahut Ceisya dari arah dapur.


"Astaga! Dia kok tau kalau aku bilang begitu?" ucap Reva mengelus dadanya.


"Sya."


Ceisya yang sedang mencari bahan masakan di kulkas hanya berdehem.


"Sya, ihh." Reva menghentakkan kakinya.


"Apa sih, Re?" tanya Ceisya sambil menoleh sebentar.


"Tau gak?"


"Gak tau." jawab Ceisya.


Reva hanya cemberut sambil mengambil satu kursi. "Beberapa hari yang lalu ada yang nanyain kabar kamu tuh."


Ceisya membalikkan badannya menatap Reva yang sedang berduduk santai.


"Siapa? Ibu kos? Atau temen-temenku?" tanya Ceisya penasaran.


Reva menggelengkan kepalanya.


"Siapa sih, Re?" desak Ceisya.


"Kak Daniel. Dia nanya ke aku kamu kemana."


Ceisya hanya ber'oh saja.


"Btw waktu itu dia minta kontak WhatsApp-ku." senyuman kecil terbit di bibir Reva kala mengingat Daniel yang selalu mengirim pesan kepadanya.


"Ihh! Bapak bapak kok mau sih, Re!?"


"Bapak pala kau! Orang masih muda gitu." sewot Reva.


"Masa sih? Tapi kayaknya udah umur tiga puluhan. Hihihi..." ujar Ceisya terkikik pelan.


"Ngawur. Trus kalau dia Bapak bapak, kau budak budak. Begitu?"


"Yakali budak budak."


"Kan umurmu masih 19 tahun. Ya, masih sebesar biji kacang polong lah." dengan santai Reva meniup-niup kuku tangannya.


"Eleh! Umur 19 tahun juga udah bisa bikin bibit kacang polong." balas Ceisya membuat Reva melototkan matanya.


"Udah pandai ya sekarang? Awas aja!"

__ADS_1


"Becanda doang ih. Dasar baperan." secepat kilat Ceisya melarikan diri sebelum mendapat amukan dari sahabatnya.


"Heiii!!!" teriak Reva.


__ADS_2