
Zafran menuntut Ceisya untuk duduk di kursi, meja bundar yang sudah ia dekor sedemikian rupa. Lilin-lilin menyala menerangi malam yang gulita. Hanya ada cahaya dari jauh yang terlihat.
"Om." panggi Ceisya melihat Zafran yang diam sedari tadi. Hanya ulasan senyum yang terlukis di bibir pria itu. Entahlah. Sepertinya sedang meramalkan kata-kata.
"Ya?" satu kata keluar dari bibirnya.
"Emmm... Reva dan Kak Daniel mana?" tanya Ceisya menyadari pasangan itu tidak muncul di hadapannya.
"Mereka istirahat." jawab Zafran.
Ceisya tidak banyak bertanya. Dia hanya mengangguk saja.
"Makanlah."
Ceisya yang saat itu lumayan lapar langsung melahap habis makanan yang tersedia di atas meja. Dia tidak bertanya dari mana makanan tersebut.
Tidak lama, makanan yang tersedia sudah habis tak tersisa.
Zafran hanya diam memandangi Ceisya yang berpenampilan sedikit berbeda dari biasanya. Walaupun tanpa make up, gadis itu terlihat sangat cantik. Begitu menggemaskan di matanya.
Dia bangkit, memutari kursi hingga mendekati kursi Ceisya. Ceisya hanya memandang heran Zafran yang mengulurkan tangannya.
"Ayok!"
"Ke mana?" tanya Ceisya tetapi juga menerima uluran tangan Zafran.
"O-om, i-ini..." Ceisya begitu menikmati pemandangan di hadapannya. Lilin-lilin berjejer tersusun rapi membuat sebuah lingkaran di dalamnya.
Tidak lama setelah Zafran menjentikkan jarinya, kembang api langsung berletusan di langit gelap. Sontak Ceisya mengadahkan kepalanya ke atas melihat itu. Matanya berbinar-binar melihat pemandangan itu.
Saat Ceisya kembali menundukkan kepalanya, Zafran sudah tidak berada di hadapannya sekarang. Tapi, dia dikejutkan oleh tepukan pelan di bahunya. Ceisya membalikkan badannya sempurna begitu juga dengan mulutnya yang ikut menganga.
Suatu pemandangan yang pertama kali ia lihat. Seorang Zafran, eh Pak Polisi yang menyebalkan itu sedang berlutut di hadapannya sambil tangannya memegang sebuah kotak kecil.
Ceisya sadar, dia sudah jatuh ke dalam pesona Polisi menyebalkan itu. Satu hal yang sangat ia hindari terjadi.
"Sasa."
Ceisya terdiam melamun sesaat kemudian dia sadar saat namanya dipanggil.
"Kau suka ini... dan semuanya...??" Zafran membuka kotak kecil itu kemudian melihat ke atas, kembang api yang masih berletusan di langit-langit gelap.
Ceisya hanya mengangguk tanpa mau mengeluarkan suara. Seakan-akan lidahnya kelu.
"Kau suka ini?" tanya Zafran mengunjukkan kotak kecil di tangannya, memperlihatkan sebuah cincin yang mengkilap.
"Mau memakainya?"
Sekali lagi Ceisya mengangguk.
"Aku punya satu pertanyaan yang harus kau jawab."
"Apa itu?" akhirnya Ceisya membuka suaranya.
Zafran menarik nafasnya dalam. Jantungnya serasa berdetak sangat cepat. Ini bukanlah Zafran. Zafran yang tidak pernah gugup dalam segala situasi. Zafran yang sangat berani mengutarakan pendapat. Hello, ini bukan mengutarakan pendapat. Batinnya berteriak.
Tangannya berkeringat. Penuhnya bercucuran dari dahinya. Padahal cuaca di luar sangat dingin. Tapi, kenapa dia merasakan yang... entahlah.
"Kau mau... kau... kau mau menjadi..."
"Menjadi apa?" alis Ceisya sebelah terangkat.
"Kau mau menjadi... pacarku?"
__ADS_1
Zafran bernafas lega. Namun, tidak mengurangi kegugupannya saat melihat reaksi Ceisya yang biasa-biasa saja.
"Bangkitlah dulu, Om!"
Zafran menurut, dia bangkit dari berlututnya.
"Bagaimana?"
Ceisya tertawa pelan. Hal itu membuat Zafran semakin gugup.
"Apa yang membuatmu bisa melakukan senekat ini?" raut wajah Ceisya berubah dia serius, terlihat sangat serius. Hal yang jarang Zafran lihat.
"Aku?"
"Iya, memangnya siapa lagi?"
"Entahlah. Aku hanya..."
"Hanya apa?"
"Sudah lupakan saja." Zafran memalingkan wajahnya ke samping.
4 bulan Ceisya mengenal pria itu. Namun, ia baru melihat ekspresi yang ditunjukkan Zafran saat ini. Ceisya sedikit terkikik melihatnya. Tapi, tidak mungkin kan dia mengacaukan suasana?
"Lihat aku, Om! Kau berbicara dengan siapa?"
Perlahan Zafran memberanikan diri menatap wajah Ceisya.
"Sekarang aku tanya sekali lagi. Apa maksudmu begini, Om?"
"Aku... aku... entahlah. Aku tidak punya alasan yang tepat."
"Benarkah?"
"Aku menolak!"
"APA!!!"
"Ck! Suaramu pelankan sedikit, Om." Ceisya berdecak sambil mengusap-usap telinganya.
"Maaf... tapi, kenapa?" tanya Zafran.
"Apa salahnya aku menolak? Itu hak-ku bukan?"
Wajah Zafran masam, dia begitu kesal.
"Kau tau apa alasanku menolak?" pancing Ceisya.
"Memangnya apa?"
"Kau tau bukan kalau selama ini aku selalu menolak pria yang datang kepadaku? Alasannya apa? Alasannya aku tidak ingin repot. Aku berkomitmen kepada diriku sendiri, Om."
"Aku hanya ingin fokus ke dunia pendidikan-ku dulu."
Zafran mengangguk paham. Maklum dengan alasan yang diberikan Ceisya. Tapi, setelah ini pasti dia akan malu. Menyesal telah mengutarakan isi hatinya. Tapi, bukankah dia belum mengatakannya?
"Aku ingin bertanya. Apakah kau menyukaiku?"
"Ya. Aku menyukaimu, Om?"
"Mencintai?"
"Tapi, maaf. Untuk mencintai aku belum bisa. Cintaku hanya untuk kedua orang tuaku. Untuk seseorang yang nantinya akan menjadi pendamping hidupku."
__ADS_1
"Aku paham. Maaf, sudah membuat suasana kita menjadi canggung begini."
"Tidak apa, Om. Aku paham. Lalu... kenapa kau bisa melakukan ini semua?"
"Aku hanya ingin mengutarakan isi hatiku. Aku... mencintaimu, Ceisya."
Deg deg
Jantung Ceisya berdetak cepat. Tidak dipungkiri dia sangat mengagumi pria itu.
"Tidak apa kan? Aku harap ini tidak akan membuat hubungan kita renggang."
Ceisya berusaha menipis rasa gugupnya itu. Dia menarik nafasnya dalam. "Aku menolak untuk menjadi pacarmu, Om. Tapi.... kalau..."
"Aku akan menunggumu. Kita akan berkomitmen tanpa harus menjalin hubungan sebagai pacar." potong Zafran cepat. Terbesit rasa takut untuk melepaskan gadis itu.
"Tidak usah menunggu, Om. Aku takut nanti akan sia-sia."
"Baiklah. Aku hanya akan menanti. Menanti di saat yang tepat. Di saat itu aku akan datang kepadamu. Tapi, kalau kau sudah memiliki seseorang itu. Aku akan mundur... aku akan menyimpan semua rasa ini. Tapi, jangan larang aku untuk terus menyimpan namamu di sini..." Zafran membawa tangan Ceisya menyentuh dadanya.
"Kau dengar itu?"
Ceisya mengangguk malu. Dengan cepat dia menarik tangannya itu.
Zafran kembali mengeluarkan kotak cincin yang dia simpan di saku celananya tadi. Mengeluarkan cincin itu.
Zafran menungunjukkan cincin itu tepat di hadapan Ceisya. "Ini... akan menjadi tali sebuah komitmen yang akan kita jalani. Izinkan dia bertengger di jari manismu?"
Ceisya sama sekali tidak menolak saat pria itu mengambil tangannya dan menyematkan cincin itu di jari manisnya. Sangat pas.
Ceisya baru sadar ternyata cincin itu untuknya? Cincin yang Zafran beli ditemani Ceisya. Katanya cincin itu untuk Kakaknya, Emi. Ceisya hanya menurut saat Zafran menyuruhnya memilih cincin yang cocok.
"Terima kasih." Zafran membawa tangan Ceisya, mengecup punggung tangan gadis itu. Dia sangat bahagia. Tidak apa ditolak.
Ceisya tersipu. Wajahnya memerah karena menahan malu. Pertama kalinya dia diperlakukan seperti ini.
"Bolehkah?"
"Haa? Apa??"
Grepp
Zafran langsung menarik dirinya masuk ke dalam pelukan pria itu. Oohh.... sangat hangat apalagi angin berhembus sedikit kencang membuatnya betah di dalam pelukan hangat itu. Haha.
Berulang kali Zafran mengecup pucuk kepala gadis itu. Dia sangat senang. Biarlah ditolak. Biarlah...
Zafran mengendurkan sedikit pelukannya. Menatap wajah Ceisya dalam. Melihat bola mata hitam itu bergerak gelisah. Dia tau kalau gadis itu malu. Apakah Ceisya juga memiliki malu? Oh, tentu saja.
Pria itu mengikis jarak. Tidak melepas tangannya yang berada di pinggang gadsi itu. Dia mendaratkan satu kecupan di kening.
Ceisya memejamkan matanya saat kecupan pria itu semakin turun ke bawah. Gadis itu merasakan benda kenyal yang menempel di bibir mungilnya. Apakah itu first kiss-nya? Tentu saja.
Tidak ingin melewati batas, Zafran segera melepaskan itu. Dia tersenyum sambil jari jempolnya mengusap bibir Ceisya yang basah dan sedikit membengkak akibat ulahnya.
"Manis." ujar pria itu langsung mendapat timpukan di dadanya. Dia terkekeh pelan saat gadis itu malu-malu lalu masuk ke dalam pelukannya.
"GILA! ANAK ORANG WOY JANGAN DIICIP-ICIP!!"
…
he'eh om 🙈
Boom likenya yah gaess
__ADS_1