
"C-ceisya?"
"I-ini, ini k-kamu?" pria itu tergagap. Tangannya terulur untuk memegang tangan gadis itu. Tapi, ditepis.
"Mohon maaf, anda siapa ya?"
Tangan pria itu melemah. Sesingkat itukah pertemuan mereka? Sesakit inikah sakit yang pria itu rasakan. Menahan rindu berhari-hari bahkan hampir berbulan-bulan.
Bisakah dia ditugaskan lebih lama lagi, di kota ini, kota tempat dia menemukan keberadaan sang pemilik hati? Di sini kah rindunya akan terobati?
"Ini aku, Sa. Kamu benar-benar tidak mengenalku?" pria itu hampir meneteskan air mata.
"Emm... maaf, kamu siapa?" sahut perempuan di samping Ceisya.
"Tante siapa? Apakah Ibunya Ceisya?" tanya pria itu.
"Bukan. Saya teman Ibunya. Apakah anda mengenal Ceisya?"
"Sangat." ujarnya tersenyum tipis namun tidak mengurangi raut murungnya.
"Umi, ini ada apa?" sahut Azril yang penasaran.
"Tidak apa-apa, Sayang. Hanya kecelakaan kecil."
"Ayo, Mi, kita pulang. Dek, kamu tidak apa-apa?" tanya Azrik tertuju pada Ceisya.
"Tidak, Mas. Kita pulang ya?"
"Iya, ayo pulang?" seru Azril.
"Tunggu, tunggu! Kalian siapa?" ujar pria itu menahan kepergian Ceisya, Hanum, dan Azril.
Hanum menghentikan langkahnya. "Nak, sebaiknya kamu pulang saja. Percuma kamu bertanya."
"Kenapa? Ada apa sebenarnya?" pria itu mendesak.
__ADS_1
Hanum mengambil kartu namanya di dalam dompet lalu menyerahkannya kepada pria itu.
"Ini! Kalau kamu ingin tau silahkan datang ke tempat itu. Kami harus segera pulang."
Zafran, ya pria itu, dia hanya memandang karty namanya itu. Melihat pasrah kepergian gadis yang ia cari selama ini. Pertemuan mereka yang menggores luka pria itu. Hatinya sakit, sesak.
Pria itu menggelengkan kepalanya berulang kali. Sesaat kemudian ia dikejutkan oleh suara ponsel miliknya. Ah ya. Pria itu sampai lupa tujuannya datang ke mari.
Pria itu mengangkat panggilan telfon.
"Iya, iya. Aku ke sana sekarang." ujarnya lalu menutup panggilan telfon, berlari cepat masuk ke dalam supermarket itu. Kartu nama tadi ia kantongkan.
"Tunggu aku, Sa. Aku akan datang." batinnya tersenyum karena sudah menemukan keberadaan sang pujaan hati. Biarlah pria itu tersakiti asal rindunya terobati. Walau ia belum tau peristiwa apa yang sudah terjadi.
.
.
.
Sepanjang perjalanan pulang, Ceisya terus memikirkan kejadian tadi. Siapa pria itu? Apakah ia mengenalnya. Apakah gadis itu pernah dekat dengan pria lain sebelumnya.
"Kenapa, Sayang?" tanya perempuan itu khawatir.
Ceisya menggeleng. "Tidak apa-apa, Umi. Hanya sedikit sakit." ujarnya.
"Kejadian tadi jangan dipikirkan. Ini akibatnya, Umi takut, Sayang."
Ceisya tidak tega dibuatnya, melihat perempuan disampingnya itu terisak.
"Ceisya tidak apa-apa, Umi." gadis itu terlihat tenang dari sebelumnya.
Azril di kursi depan hanya diam. Beribu pertanyaan bersarang dibenaknya. Mungkinkah pria tadi ada hubungannya dengan Ceisya yang mungkin gadis itu tidak ingat. Kalau iya, apakah Azril harus melepaskan ataukah malah mempertahankan gadis itu. Ia pria baik-baik yang berasal dari keluarga baik juga, baik akhlak maupun perilaku.
Sesampainya di rumah, Ceisya langsung beristirahat. Kepalanya kembali sakit lantaran memikirkan hal tadi.
__ADS_1
Sebelum menuju kasur, Ceisya terlebih dahulu membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Baru setelah itu ia perlahan naik ke atas kasur. Berbaring dengam selimut yang menyelimuti tubuhnya sebatas da da. Tidak terasa perlahan mata lentik itu terpejam. Rupanya sang empu telah masuk ke dunia alam bawah sadar. Berdo'a agar ingatannya segera kembali.
Apalagi mendengar berita perjodohannya. Seketika membuat hatinya tidak rela, entah mengapa. Seakan ada sebuah rantai yang menjeratnya, mengikat tubuhnya. Seperti ada sebuah bisikan membisikkan sebuah kalimat yang membuatnya tidak bisa berpikir tenang.
"Aku mencintaimu..."
"Aku akan menunggumu. Kita akan berkomitmen tanpa harus menjalin hubungan sebagai pacar."
"Tidak usah menunggu, Om. Aku takut nanti akan sia-sia."
"Aku hanya akan menanti. Menanti di saat yang tepat. Di saat itu aku akan datang kepadamu. Tapi, kalau kau sudah memiliki seseorang itu. Aku akan mundur... aku akan menyimpan semua rasa ini. Tapi, jangan larang aku untuk terus menyimpan namamu di sini..."
"Ini... akan menjadi tali sebuah komitmen yang akan kita jalani. Izinkan dia bertengger di jari manismu?"
"Aku mencintaimu..."
"Sasa."
"Om, mau naik itu!"
"Itu hanya untuk anak-anak, Sa."
"Om, takut."
"Sini peluk!"
"Haaahhhhhhhh!!!" Ceisya langsung terlonjak dari kasurnya. Nafasnya memburu, keringat bercucuran. Jarum jam menunjukkan pukul 14.45. Baru sekitar 15 menit gadis itu tertidur.
"Akhh..." gadis itu tiba-tiba memegang kepalanya. Potongan-potongan bayangan muncul di kepalanya hingga membuat gadis itu dilanda rasa sakit.
"C-cincin... apaa??" Ceisya tersadar, dia melihat jari kanannya. Sejak kapan cincin itu bertengger manis? Ternyata cincin itu tidak pernah lepas dari jemari tangannya.
.
.
__ADS_1
.
kasih semangat dong buat Ceisya.😉