
"Kami mau keluar. Abang mau ikut?" tawar Azril.
"Ke mana?" tanya Zafran.
"Jalan-jalan aja kok. Sekalian Abang mendekatkan diri. Umi juga ikut kok." jelasnya.
"Boleh." jawab pria itu.
Tidak lama datanglah Ceisya dan Umi Hanum. Mereka sudah memakai pakaian lengkapnya dan bersiap untuk keluar.
Azril yang melihat itu segera bangkit, dia menepuk pundak Zafran pelan.
"Tunggu sebentar, Bang. Aku mau ganti baju sebentar." Zafran hanya mengangguk. Pria itu tersenyum saat melihat Ceisya dan Umi Hanum datang ke arahnya. Gadis itu benar-benar cantik di mata pria itu.
"Kamu ikut, Nak?" tanya Hanum begitu sampai di ruang tamu.
"Ikut, Umi. Boleh ya?"
"Boleh kok.
"Umi dan Ceisya apa kabar?" tanya Zafran basa-basi.
"Alhamdulillah, baik. Kamu apa kabar?"
"Baik juga, Umi. Ya seperti yang Umi lihat sekarang."
"Oh, ya. Ini diterima, Umi." pria itu menyodorkan paper bag dan langsung diterima oleh Umi Hanum.
"Terima kasih, Nak. Harusnya kamu tidak perlu repot begini."
"Tidak apa, Umi. Zafran tidak repot kok."
Azrik datang dengan pakaian yang berbeda. Sedikit lebih santai dari biasanya.
"Yuk! Berangkat sekarang." ujarnya yang langsung disetujui.
Mereka berangkat menggunakan dua mobil, Zafran sendiri sementara Ceisya dan Umi Hanum bersama Azril.
Tujuan pertama mereka yaitu mall. Membeli beberapa barang lalu setelah itu lanjut lagi menuju pantai.
Kini mereka sudah sampai di hamparan pasir putih. Banyak juga pengunjung yang mengunjungi pantai itu.
Ceisya tampak turun digandeng oleh Umi Hanum sementara dua orang pria itu berjalan di belakang.
Zafran sedikit termenung. Pantai adalah tempat yang begitu banyak menyimpan kenangan. Sampai-sampai dia dikejutkan oleh tepukan di pundaknya. Ternyata itu Azril, mereka akrab dalam waktu yang singkat.
__ADS_1
"Abang kenapa?" tanya pria yang lebih tua satu tahun dari Zafran.
"Tidak apa-apa. Hanya sedikit mengenang saja." jawab pria itu tersenyum melihat tawa indah dari gadis itu yang berlarian di pantai.
"Abang pasti bisa. Buktikan!" Azril memberi semangat untuk pria itu.
Zafran tersenyum melihat Azril yang memberikannya semangat.
Dua orang pria itu akhirnya menyusul Ceisya dan Umi Hanum. Ceisya yang berlarian sementara Umi Hanum hanya diam memperhatikan.
Seulas senyum terbit di bibir pria itu. Dia ingin ikut tertawa bersama Ceisya, ingin mengenang masa-masa indah mereka dulu.
"Mas, ikutan yuk!" ajak gadis seketika membuat Zafran sedikit iri dan juga cemburu. Bisa-bisanya gadis itu hanya mengajak Azrik, sudah begitu panggilannya juga Mas-Masan.
"Ajak Bang Zafran aja, Dek. Mungkin dia mau." ujar Azril menolak.
"Benar begitu?" balas gadis itu.
"Iya, coba aja ajak." seru Azril.
"Aku mau kok. Kamu mau apa, Sya?" pria itu bersemangat.
"Beneran?"
"Beliin es kelapa di sana dong." tunjuk gadis itu ke arah penjual air kelapa.
"Kamu mau minum itu?"
"Iya."
"Yaudah, yuk! Mau ikut nggak?" tanya Zafran.
"Enggak deh. Aku nunggu di sini aja, ya ya ya?" tanpa sadar Zafran tersenyum, gadis itu benar-benar menggemaskan.
"Yaudah kalau gitu. Tunggu di sini ya?" Ceisya hanya mengangguk lalu duduk di hamparan pasir putih. Azril dan Umi Hanum melipir, mereka memberikan ruang.
Tidak lama Zafran datang dengan membawa dua buah kelapa yang sudah dikupas. Pria itu ikut duduk lalu memberikan kelapa itu.
"Makasih."
"Hmm.." pria itu bergumam.
"Sya, apa kamu tau?"
"Enggak." potong gadis itu sembari meminum air kelapa menggunakan sedotan.
__ADS_1
"Jangan dipotong. Kamu tau... pantai dalah tempat yang menyimpan banyak kenangan."
"Oh ya?"
"Iya. Apa kamu beneran tidak mengingat semuanya?"
"Enggak. Ini menyiksaku." curhat gadis itu seketika membuat suasana menjadi melow.
"Aku lebih tersiksa. Menahan rindu tapi tidak bisa bersatu. Menerima takdir yang sudah ditetapkan."
Entah sejak kapan kini keduanya saling berhadapan. Kelapa yang mereka pegang tadi tergeletak di pasir. Saling menatap dalam, berusaha mengartikan dari tatapan keduanya.
Zafran mengambil tangan Ceisya, gadis itu hanya diam pasrah. Seakan-akan pernah merasakan genggaman itu.
Zafran mengelus cincin yang terpasang di jari manis Ceisya. Tersenyum melihatnya.
"Kamu ingat? Ini cincin dari siapa?" gadis itu menggeleng.
Pria itu tersenyum sekali lagi. "Ini cincin dariku... cincin ini yang mengikat sebuah tali di antara kita. Mungkin kamu tidak percaya, tapi, aku selalu ada."
"Pejamkanlah kedua matamu. Ingat! Aku pernah ada di dalam hatimu. Aku menunggu itu di sini. Hati ini sudah terpaut denganmu."
Kedua mata lentik itu terpejam. Berusaha meresapi kata-kata yang diucapkan pria itu.
"Ini... akan menjadi tali sebuah komitmen yang akan kita jalani."
"Aku mencintaimu... Ceisya."
Kedua dahinya mengernyit. Potongan-potongan itu tiba-tiba muncul di kepalanya membuatnya sedikit meringis.
"Kenapa, Sya? Ada yang sakit?" pria itu terlihat khawatir.
"Apa itu? Kenapa kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Ini... ini menyakitkan, aku tidak bisa mengingatnya." air mata gadis itu luruh. Setiap kali seperti ini hanya potongan-potongan ingatan yang ia juga dapatkan. Membuatnya ingin sekali berteriak, gadis itu ingin sekali ingatannya kembali. Mengingat orang-orang yang selalu ada di sampingnya.
Hati pria itu serasa tercubit. Tangannya terulur untuk menyapu air mata yang mengalir itu.
"Maaf, Sya, kalau ini membuatmu kesakitan. Aku tidak akan memaksa, mungkin ini sudah jalan kita."
.
.
.
😪 Om Zaf mau nyerah?
__ADS_1