
Seorang pria tengah berdiri di bandara. Dia menunggu hampir 3 jam lamanya. Berulang kali menelfon nomor yang tidak bisa dihubungi itu entah apa dan kenapa.
"Sudahlah. Mungkin dia sibuk atau lagi ada urusan makanya tidak datang ke sini." ujar Daniel yang saat itu mengantarkan sahabatnya ke bandara.
Sebelum ke bandara, Zafran sudah duluan pergi ke kost-an Ceisya. Tapi, orangnya tidak ada. Mencoba mengetul pintu kost-an di sebelahnya yaitu kost-an Reva, tapi, hasilnya nihil juga karena Reva pagi-pagi telah berangkat ke kampus.
Alhasil dia terpaksa menuju bandara sendirian. Niatan ingin berpamitan dengan indah eh malah buyar.
"Tapi, entahlah. Hatiku tidak tenang tidak tahu kenapa." balas Zafran dengan khawatir. Entah kenapa perasaannya tidak menentu sejak tadi malam.
"Tuh, sudah dipanggil. Lagian pesawat sudah mau take out." peringat Daniel saat sahabatnya itu sudah dipanggil oleh beberapa rekannya karena pesawat sudah mau berangkat.
Ada rasa tidak rela yang pria itu rasakan. Terpaksa dia harus meninggal tempat ini. Tenang, hanya 2 bulan saja kok. Pikirnya.
Zafran pun memeluk Daniel sebagai salam perpisahan sementara mereka. Dia menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu.
"Tolong nanti kau tanyakan ya?"
"Pasti. Fokuslah bertugas di sana. Aku akan memberi kabar nanti di sini."
Zafran mengangguk. Perlahan dia meninggalkan tempat itu seiring kemudian pesawat take out. Hatinya resah tak menentu. Seakan ada bongkahan batu yang menghalangi langkahnya.
Sementara itu
.
.
.
Perlahan mata indah itu terbuka. Hal yang pertama kali dia lihat adalah ruangan bercat putih dengan aroma obat-obatan yang begitu menusuk indra penciumannya. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke samping dengan perlahan dan tidak menemukan siapa-siapa di sana.
Dia memejamkan kedua matanya sekali lagi berusaha mengingat apa yang terjadi kepadanya.
"Sstttss..." gadis itu meringis pelan sambil memegang kepalanya yang berbalut perban putih dengan ada noda merah di sana karena darahnya keluar.
Ceklek
Pintu ruangan serba putih itu terbuka memperlihatkan sepasang suami istri yang masih terlihat awet di usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Sayang..."
"Kamu sudah bangun?"
Pertanyaan itu keluar dari bibir wanita paruh baya yang mendekat ke arahnya. Gadis itu terlihat bingung saat wanita itu terus mencerca berbagai macam pertanyaan.
Gadis itu masih terdiam dengan seribu pertanyaan dibenaknya. Dia menatap heran ke arah pria yang berada di sampingnya seolah-olah bertanya siapa.
"Ini Ayah, Sayang."
"A-ayah?"
"Ayah, Ceisya kenapa, Yah?" Bunda Nai melirik suaminya yang memasang wajah sedih.
__ADS_1
"Sebentar. Biar Ayah panggilkan Dokter." Ayah Faisal memencet tomol darurat.
Tidak menunggu waktu lama akhirnya Dokter pun datang dengan diikuti Suster di belakangnya.
"Seperti dugaan saya, pasien akan kehilangan ingatannya karena benturan di kepalanya yang sangat kuat."
"Tapi, sepertinya ini hanya bersifat sementara. Persoalan pasien tidak bisa mengingat orang-orang di sekitarnya itu hal wajar. Beri pasien waktu untuk memulihkan ingatannya. Apalagi sekarang, anak ibu dan bapak baru saja sadar dari masa krtitisnya."
Ayah Faisal dan Bunda Nai bernafas lega. Setidaknya masih ada setitik harapan untuk memulihkan semua ingatan Ceisya.
"Terima kasih, atas penjelasannya, Dokter."
"Sama-sama. Kalau begitu saja pamit dulu. Kalau ada apa-apa segera panggil saya."
"Baik, Dok."
"Sekarang kamu istirahat dulu ya, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan." Bunda Nai mengelus pelan lengan Ceisya.
Gadis itu hanya mengangguk menurut. Setidaknya saat dia bangun, gadis itu sudah bisa mengendalikan ingatannya.
Tepat pada pukul 19.00 Ceisya dibangunkan oleh sang Bunda karena gadis itu harus meminum obatnya. Beruntungnya saat membuka matanya, Ceisya sudah bisa mengingatnya walau tidak secera keseluruhannya.
Bunda Nai meletakkan mangkuk yang sudah kosong lalu mengambil segelas air dan membantu sang anak untuk meminum obatnya.
"Sudah?"
Ceisya menganggukkan kepalanya. Dia melirik sekitar ruangan dan tidak menemukan keberadaan sang Ayah.
Sebenarnya Bunda Nai ingin sekali menanyakan beberapa hal terkait dengan kondisi Ceisya sekarang kenapa bisa terjadi. Tapi, dia urungkan mengingat pesan Dokter agar untuk tidak menanyakan hal-hal yang membuat pikirannya terganggu, apalagi Ceisya baru saja sadar.
Flashback on
Malam hari itu, hujan mengguyur bumi dengan sangat deras disertai petir yang menyambar dan guntur yang saling bersahutan.
Ceisya, gadis itu baru saja pulang dari kampusnya. Malam hari dia baru bisa pulang karena masih ada sedikit kegiatan yang harus dia kerjaan dan selesaikan.
Di dalam perjalanan pulang hujan tiba-tiba membasahi bumi, Ceisya tetap melanjutkan perjalanan pulangnya karena sudah kepalang tanggung, kost-annya sudah hampir dekat.
Ceisya tiba-tiba berhenti karena motor yang dia kendarai serasa tidak nyaman. Dia melihat sekitar, sepi, itulah suasananya karena kebetulan hujan orang-orang malas keluar rumah apalagi bepergian.
Tempat menuju kost-an Ceisya juga memasuki gang yang jalannya lumayan besar.
Gadis itu menggigil. Dia berusaha merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya. Setidaknya masih ada harapan untuk meminta tolong. Teva, ya sahabatnya itu pasti bisa diandalkan.
Dia berteduh di bawah pepohonan rindang sambil menghidupkan ponselnya.
Saat itu juga datang beberapa kawanan preman mendatanginya. Bibir gadis itu yang pucat kini semakin memucat kala salah satu dari mereka memanggilnya, dan si*alnya wajah preman itu sangat familiar. Oh, gadid itu baru ingat. Mereka adalah kawana preman yang malam itu sempat tertangkap karena sudah mengganggu perjalanan Zafran dan Ceisya saat itu. Rupanya mereka tidak terima karena bosnya dimasukkan ke jeruji besi.
"Hai, cantik."
Ceisya acuh. Dia lebih memilih mengetikkan sesuatu di ponselnya.
"Ehh! Ehh... ada apa kok asik banget dengan ponselnya." dengan cepat preman itu merebut ponsel Ceisya.
__ADS_1
"Balikin!" tubuh gadis itu bergetar. Suasana sepi membuatnya semakin takut. Seumur-umur belum pernah berhadapan dengan situasinya ini.
"Santai dong, cantik. Kami tidak akan menyakitimu. Hanya bermain sedikit mungkin boleh?" seulas seringaian muncul.
Lebih baik kabur. Biarlah ponselnya diambil yang penting nyawanya bisa selamat.
"Mau kabur kemana, cantik?"
Ceisya terus berlari tidak tentu arah. Dia melihat ke belakang untuk memastikan bahwa dirinya telah aman. Namun, siapa sangka. Saat Ceisya berpaling, sudah ada segerombolan preman yang menghadang dirinya di depan.
Depan, Belakang. Gadis itu bingung karena dia dikepung dari dua arah.
Gadis itu semakin bergetar saat tangannya ditarik oleh seorang preman. Dia tidak bisa kabur kemana-mana oke.
"Lepasin!" teriak Ceisya meronta-ronta.
"Hahaha... lepasin? Kamu mahal, Sayang. Jadi, tidak boleh lepas begitu saja."
"Bos, mungkin kita bisa bermain sebentar. Dia tidak buruk bukan?" ujar kawanannya.
"Ide bagus."
"Ikut kita yuk, cantik! Mari, kitamenuju surga dunia." ujarnya sambil tertawa.
"Tidak! Lepasin!" Ceisya meronta-ronta. Dia berusaha lepas dari preman itu.
Srettt
Lengan baju panjangnya ditarik dan koyak begitu saja.
"Tidakk!!"
Plakk
Satu tamparan kasar mendarat di pipi mulusnya.
"Jangan banyak bergerak atau aku akan membunuhmu sekarang juga!" ancam preman itu sambil menodongkan sebilah pisau tajam tepat di depan Ceisya.
Ceisya berusaha untuk tenang. Dia tengah berpikir untuk mengecoh pusat perhatian preman itu. Saat preman itu lengah, saat itu juga Ceisya mengigit lengan preman itu. Saat sudah terlepas, Ceisya langsung kabur.
Dia berlari ke arah tempat yang lumayan ramai agar bisa meminta pertolongan.
"Ya Allah. Tolong selamatkan hamba-mu ini." Ceisya terus berdo'a.
Karena panik, Ceisya langsung menyebrang jalan raya tanpa melihat ada atau tidaknya kendaraaan.
Brakkk
Tubuhnya langsung terpental jauh saat mobil box yang melaju kencang itu menabraknya dirinya.
Samar-samar dia merasakan ramai disekitarnya. Matanya sudah tidak kuat untuk melihat. Dan perlahan suasananya gelap gulita saat gadis itu kehilangan kesadarannya.
Flashback off
__ADS_1