Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 16


__ADS_3

"Alien, apakah kau sudah selesai bertapanya? Ini bahkan sudah menit ke sepuluh sejak aku menungguku dan kau belum juga keluar dari kamar." teriak Rizki sambil mengedor-ngedor pintu kamar Ceisya.


Ceklek


"Wahh! Benarkah kau ini alienku? Ck!" Rizki berdecak saat melihat penampilan Ceisya.


Rambut acak-acakan. Pakaian piyama berwarna coklat polos masih melekat di tubuhnya. Serta matanya yang masih setengah terpejam.


Ceisya bergumam tidak jelas. Mimpinya menjadi terganggu. "Kau wanita iblis! Mau apa kau kemari, hah! Ck! Kemarin kau begitu menyebalkan. bahkan kau hampir saja memukulku." gumam Ceisya tidak jelas.


Hampir semalaman Ceisya tidak bisa tidur. Dia terus mengoceh sepanjang malam bersama Bundanya. Alhasil dia di usir dari kamar oleh sang Ayah karena hari sudah larut malam untuk mendengarkan ocehan anak sulung mereka.


"Astaga! Kau benar-benar, alien! Cepatlah bersiap-siap. Nanti aku akan terlambat jika terus meladenimu begini!" Rizki mendorong pelan tubuh Ceisya masuk ke dalam kamar mandi.


Saat sudah berada di dalam kamar mandi. Dengan teganya Rizki menyipratkan air ke wajah Ceisya hingga gadis itu langsung membolakan matanya.


"Kau!" teriak Ceisya sambil melototkan matanya.


"Ck! Kau cepatlah mandi. Jangan terlalu lama. Aku beri kau 15 menit untuk bersiap-siap."


Selesai memberikan perintah, Rizki langsung keluar dari kamar sang Kakak.


Sementara Ceisya terus-menerus mengoceh sambil mengumpat dan beberapa kali menyebut nama wanita kemarin yang tidak sengaja dia tabrak.


Seperti yang Rizki bilang, 15 menit kemudian Ceisya telah rapi dengan pakaiannya. Rok plisket milo dan blouse putih polos tidak lupa juga sneakers putih melekat di kedua kakinya.


"Bunda, Ayah, kami berangkat dulu ya." pamit Ceisya seusai sarapan di meja makan.


"Iya. Hati-hati di jalan." jawab Bunda Nai dan Ayah Faisal.


"Rikzi, bawa motornya jangan mengebut ya." ujar Faisal.


"Iya, Ayah."


Saat sudah sampai diluar, Rizki segera menyalakan motornya.


"Pegangan, Kak."


Ceisya hanya berdehem kemudian berpegangan di ujung jaket yang Rikzi kenakan.


"Kenapa tidak kau ajak saja Bunda atau Ayah. Kenapa lalu aku?" ujar Ceisya setengah berteriak agar suaranya terdengar.


"Gantian. Dulu Ayah Bunda yang selalu datang ke sekolah saat mendapat undangan." jawab Rizki.


"Alasan! Bilang saja kalau kau mau pamer." celetuk Ceisya.


"Pamer? Pamer apaan?" tanya Rikzi bingung.


"Pamer lah. Secara kan kau mempunyai Kakak yang cantik. Belum lagi aku juga alumni di sekolahmu itu." jawab Ceisya percaya diri.

__ADS_1


"Cantik ya? Aku kira seperti alien." ledek Rizki yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya. Beruntung motor yang dikendarainya tidak oleng. "Ish! Kau nih. Begitu saja sudah marah." ujar Rizki sambil mengusap pinggang sebelah kanannya menggunakan tangan kirinya.


"Salah siapa! Berani-beraninya mengataiku alien. Sudah bosan hidup ya?!"


Terdengar gelak tawa Rizki. "Iya, iya. Tapi, kau kan memang alienku." ucap Rizki terdengar posesif kepada Kakaknya.


"Apakah saat di sekolah ada perempuan yang membuatmu terpesona?" goda Ceisya membuat Rikzi tersenyum tanpa sepengetahuannya.


"Mana mungkin, Kak. Aku harus menjaga image-ku sebagai seorang Ketua Osis." jawab Rizki.


"Sungguh?"


"Iya, Kak."


"Awas saja kalau kau bohong!" ancam Ceisya.


15 menit kemudian akhirnya mereka tiba di depan gerbang sekolah. Acara lomba tersebut dilaksanakan di SMA Kelapa Gading. Halamannya yang luas berserta fasilitasnya yang lengkap memudahkan acara tersebut berlangsung. Sekolah itu juga termasuk sekolah terfavorit di tingkat sekolah menengah atas.


Rizki membawa motornya masuk ke area parkir khusus kelas 12.


"Kepengen sekolah lagi." celetuk Ceisya mengingat masa-masa sekolahnya.


Sementara Rikzi hanya menggelengkan kepalanya dan berlalu meninggalkan Kakaknya. Toh, tidak mungkin akan tersesat. Pikirnya.


Ceisya yang merasa ditinggalkan segera mengejar Rizki. Suasana sekolah sudah sangat amat ramai. Banyak anak murid yang memakai seragam putih abu dan membawa walinya, entah itu orang tua atau Kakak, Abang, Om, Tantenya. Ceisya juga pernah merasakannya sewaktu SMA dulu tepatnya kelas 12. Acara tersebut diadakan setiap satu tahun sekali. Jadi, sudah tidak asing lagi kalau melihat acara tersebut.


Di perjalanan saat sedang mengejar Rizki, Ceisya tidak sengaja bertemu dengan wali kelasnya dulu saat kelas 11.


"Wa'alaikumsalam. Ceisya? Oh ya. Ibu lupa kalau adik kamu sekolah di sini." ujar Bu Dina.


"Hehe...iya, Bu. Saya pamit dulu ya, Bu. Soalnya sudah ditinggalin sama adik saya." pamit Ceisya tidak enak hati.


"Hati-hati."


Ceisya menganggukkan kepalanya kemudian berlalu meninggalkan Bu Dina.


Ceisya setengah berlari mengejar adiknya yang sudah lumayan jauh. Saat sudah dekat, Ceisya langsung saja memukul lengan Rikzi menggunakan tasnya.


Sontak saja Rizki langsung menghentikan langkahnya dan berbalik. Sedikit sakit memang akibat timpukan sang Kakak.


Nafas Ceisya terengah-engah. Adiknya memang tega. Memakai rok membuat Ceisya sedikit sulit untuk berlari.


"Huuhhhhh! Kau mau ku gantung di pohon beringin di depan kelas 11, hah!" amuk Ceisya.


Beruntung tempatnya lumayan sepi karena sudah memasuki lingkungan sekolah area terdalam yaitu ruangan osis.


"Tahu begini mendingan aku pulang saja ke kosan dari pada menemanimu yang tidak tahu berterima kasih ini." sungut Ceisya lagi.


Rizki kelabakan. Pasalnya hanya Kakaknya saja lah yang bisa menemaninya di sini. Sedangkan kedua orang tua mereka tidak ada di rumah karena Faisal mengajak Naina berkunjung ke kampung halamannya.

__ADS_1


"Jangan lah! Nanti siapa yang akan menemaniku di sini? Ayah Bunda tidak ada di rumah." bujuk Rizki dengan nada merengek.


Ceisya acuh. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Rasa kesalnya sudah berada di ubun-ubun. "Tidak! Aku tetap akan pulang. Biarlah kau di sini. Kan masih banyak teman-temanmu yang tidak membawa walinya." balas Ceisya.


"Oh ayolah, Kak. Kau jangan marah lagi ya? Nanti sehabis pulang dari acara ini, aku akan mengajakmu berbelanja. Mau tidak?"


Mendengar kata berbelanja membuat Ceisya sedikit tertarik. Tapi, dia tetap dengan pendiriannya. Biarlah. Toh saldo di rekeningnya masih sama yaitu 8 digit.


"Aku tidak semiskin itu!" balas Ceisya.


"Sate?"


"No!"


"Mie ayam?"


"No, no!"


"Eummm...bakso? Batagor?" Rikzi tampak masih berpikir. Sesaat kemudian dia tersenyum. "Seblak pedas ceker ayam level 15?"


Lihatlah. Membayangkannya sudah membuat air liur Ceisya menetes.


"So? Seblak mau?"


Tanpa ragu Ceisya menganggukkan kepalanya.


"Yaudah. Jangan marah lagi ya?" Ceisya hanya mengangguk terpaksa. Kalau bukan persoalan seblak mana mau dia. "Ayok! Kita ke ruangan Osis dulu. Harus ada yang ingin aku pantau." lanjut Rizki mengajak Ceisya.


Ceisya berjalan tepat di samping Rizki. Sesekali dia tersenyum dan menyapa Guru yang dia temui.


Sesampainya di ruangan Osis, Ceisya mengikuti Rizki masuk ke dalam dan duduk di sofa.


Ceisya menatap ruangan tersebut. Sama persis saat terakhir kali dia masuk ke ruangan itu. Dulunya Ceisya adalah salah satu anggota Osis.


Tidak lama masuklah beberapa anggota Osis yang lain yang tadinya duduk di luar ruangan.


"Hai, Kak." sapa teman Rizki sambil duduk di sofa berukuran panjang sedangkan Ceisya duduk di sofa single.


"Oh, Hai, Reinhard bukan sih?" tanya Ceisya ragu.


"Hehe, iya, Kak. Masih ingat aja." ujar Reinhard.


"Iya dong...wali kamu siapa yang datang?" tanya Ceisya.


"Yang datang Papa, Kak."


"Owh."


"Kita keluar. Acara sudah mau dimulai." ujar Rizki singkat sambil melangkahkan kakinya keluar ruangan diikuti oleh anggota Osis yang lain.

__ADS_1


"Kebiasaan. Kakak sendiri ditinggal!" gerutu Ceisya menyusul Rizki cepat.


"Sabar, Kak." sahur Reinhard sambil tersenyum menahan tawa saat melihat Kakak beradik itu tidak akur.


__ADS_2