Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 67


__ADS_3

Pagi hari yang sedikit mendung itu, seakan-akan menjadi pertanda bahwa nantinya hati seseorang akan sedikit galau merana. Berbekal dengan ketampanan yang hakiki dan profesi yang digemari membuat Zafran penuh percaya diri. Sesampainya di kost-an Ceisya, pria itu sedikit heran karena gadisnya membawa koper berukuran sedang.


"Udah kayak mau pindah aja. Ini koper kenapa dibawa segala?" tanya pria itu yang belum mendapatkan kabar dari gadisnya. Sungguh keterlaluan bukan? Dan Ceisya malah memasang ekspresi polosnya.


"Kan emang mau pindah. Om belum tau ya?" tutur gadis itu sungguh keterlaluan. Dirinya malah bertanya.


"Tau apa?" kening Zafran mengerut dengan alis sedikit terangkat ke atas.


"Oh, berarti aku lupa ngasih tau. Di kampus kan ada pertukaran pelajar, nah, hari ini berangkatnya." jelas Ceisya sedikit random.


"Hubungannya dengan kamu apa?" tanya Zafran yang sebenarnya sudah paham. Namun, dirinya hanya memastikan saja.


"Ish! Masa gak ngerti. Ya aku ikutlah." cibik Ceisya kesal. Sementara Zafran semangatnya langsung down.


"Demi apa kamu baru ngasih tau aku sekarang? Tega kamu." Zafran sedikit kecewa dengan Ceisya.


Ceisya hanya menyengir membuat Zafran segera ingin membawa gadis itu ke penghulu. "Ya, lupa aku tuh, Om. Tapi, intinya kan Om udah tau sekarang."


"Apa aku sebegitu tidak berarti untuk kamu? Apa hubungan kita ini hanya sekedar teman saja? Jawab, Sya! Aku butuh kepastian, dari awal kamu gak pernah ungkapin perasaanmu. Aku hanya butuh sebuah pengakuan yang keluar langsung dari bibir kamu. Apa itu salah?" tutur Zafran sendu. Dirinya bahkan sudah kehilangan kepercayaan diri. Berbulan-bulan dan bahkan mungkin satu tahun, dirinya belum mendapatkan kepastian ataupun balasan dari gadis itu. Pria itu hanya butuh sebuah pengakuan agar dirinya tidak terlalu memakan harapan.


Senyum di bibir Ceisya langsung luntur. Apakah dirinya hanya memberikan harapan palsu? Tapi, maksud dari sebuah perlakuan dan balasannya kepada pria itu, apakah dirinya harus mengutarakan?


"Apa aku juga harus mengutarakannya? Selama kurang lebih satu tahun ini, apa aku pernah meminta Om untuk pergi? Aku hanya takut. Prinsipku dari awal memang gak mau pacaran. Kalau Om keberatan silahkan mundur. Aku memang bukan seperti perempuan di luaran sana dan mungkin aku juga bukan tipemu. Sekarang aku hanya ingin fokus mengejar pendidikan dengan atau tidaknya kehadiran laki-laki. Om laki-laki pertama yang membuatku tidak bisa berkutik. Padahal ada banyak laki-laki lain yang berusaha mendekatiku. Tapi, hatiku gak bisa dibohongi. Sekarang kamu udah tau kan? Tujuan utamaku saat ini pendidikan, bukan hubungan pacaran. Tolong hargai keputusanku. Kalau Om benar-benar serius, tunggu aku sampai benar-benar menyelesaikan pendidikanku. Kalau Om keberatan dengan hubungan yang sekarang, silahkan mundur. Aku gak mau jadi perempuan tamak yang ingin merasakan semuanya. Mungkin itu aja, sekarang... silahkan Om pergi..." ya, kalimat itu benar-benar berat untuk Ceisya ucapkan. Namun, dirinya harus mengatakan itu agar tidak adanya kesalahpahaman antara keduanya. Ceisya hanya takut kalau memberi harapan kepada pria itu. Sekarang dirinya sudah memutuskan untuk lebih memilih pendidikan. Karena sejatinya ilmu adalah yang utama. Urusan pria nomor sekian.

__ADS_1


Zafran tertunduk lesu. Bagaimana dirinya bisa seegois itu? Apakah dirinya yang egois? Mungkin kedua-duanya.


Pria itu mendongak, menatap Ceisya dengan segudang raut penuh harapan.


"Aku bukan tipe pria yang bisa dengan mudahnya menyerah. Aku tidak akan pergi, tapi, akan aku biarkan kamu bebas dengan dunia pendidikanmu. Seperti apa yang kamu ucapkan tadi. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kalau saat nanti kamu sudah benar-benar lepas dengan urusanmu. Hanya satu yang aku inginkan. Tolong komitmen kita jangan hancur. Maaf jika selama ini aku sudah menjadi laki-laki yang egois. Aku akan tetap berada di sisimu, biarpun kamu mengusirku dengan cara yang keras sekalipun. Mungkin kamu perlu istirahat dengan hubungan ini, akan aku beri waktu. Aku bukan marah, ini hanya sebagai antisipasi agar hubungan kita tidak hancur. So, jangan pernah memintaku untuk pergi menghilang dari dirimu."


Kini, keduanya saling bertatapan dengan bola mata mereka yang menyiratkan akan sebuah kekuatan. Netra mata mereka saling bertaut dengan segala perasaan mereka salurkan. Sedikit emosi sudah tersalurkan, membuat hati keduanya terasa plong dan tenang.


"Maaf, Om. Mungkin keputusan ini sudah tepat." Ceisya menundukkan pandangannya. Segera tangan kokoh Zafran langsung meraih wajah Ceisya dan membawanya untuk melihatnya.


"Jangan minta maaf. Keputusan ini memang sudah tepat." kata Zafran sambil mengelus lembut kedua pipi Ceisya. Mengunci bola mata yang bergerak tidak tentu arah.


Pria itu menarik nafas dalam lalu menghembuskannya lewat helaan nafas yang terdengar di telinga Ceisya.


Ceisya hanya membalasnya dengan sebuah angggukan tipis.


Keduanya pun bersiap, Zafran mengantarkan Ceisya ke kampusnya.


Saat sudah sampai, Zafran memberhentikan mobilnya. Keduanya masih juga belum keluar. Pria itu tiba-tiba merubah posisinya duduk menyamping.


"Untuk pertemuan terakhir. Tolong beri aku obat sebagai penawar rasa rindu." pinta Zafran sambil menatap Ceisya dengan permohonan. Wajahnya sudah tidak ceria lagi.


"Heleh! Modus." cibik Ceisya yang jengah langsung memutar bola matanya malas. Alasannya sebagai penawar rasa rindu.

__ADS_1


"Ayolah, Sayang..."


"Ya udah, merem tapi ya!? "


"Siap." Zafran begitu semangat bahkan tidak tau saja kalau dirinya akan dikibulin oleh Ceisya.


Saat pria itu memejamkan matanya erat dan berharap agar Ceisya memberikan suntikan vitamin kepadanya. Eh gadis itu malah tersenyum cengar-cengir tanpa diketahui oleh pria itu.


Pukkk


"Mamam tuh cium."


Klik


Pintu mobil dibuka oleh Ceisya setelah mendaratkan tasnya tepat di bibir pria itu. Sedangkan Zafran yang seakan termakan omongan Ceisya langsung cemberut.


.


.


.


ayo yg mikir kedua pisah👀

__ADS_1


__ADS_2