
Siangnya Ceisya diajak ke lingkungan pesantren. Gadis itu kini sudah berpenampilan berbeda dari biasanya.
"Azril, kamu temani Ceisya dulu sebentar ya? Abi mau ke toilet." ujar Aryo pamit karena harus segera menuntaskan sesuatu yang mendesak.
"Iya, Abi. Akan Azril temani." jawab pria itu.
Selepas kepergian Aryo, kini mereka dilanda canggung. Ceisya yang canggung dengan orang asing sementara Azril canggung karena harus berduaan dengan perempuan, walaupun banyak orang yang berlalu lalang tapi tidak membuatnya nyaman.
"Dek..." panggil pria itu seketika membuat Ceisya memberhentikan langkahnya. Berbalik menatap penuh tanya.
"Saya?" tanya gadis itu formal.
"Iya, kamu."
"Masih kuliah ya?" lanjut pria itu bertanya.
Ceisya kembali berbalik, berjalan kembali mengelilingi lingkungan pesantren.
"Kata Ayah begitu." jawab Ceisya apa adanya.
Oh ya, Pria itu baru ingat bahwa gadis di depannya ini kehilangan separuh ingatannya.
"Apa kamu betah di sini?"
"Mungkin iya mungkin tidak." balas Ceisya.
"Semoga ingatan kamu cepat kembali." ucap pria itu mendo'akan.
"Aamiin." lanjut gadis itu.
"Boleh saya bertanya?"
Ceisya berhenti mendadak.
"Di sana ada kursi, kita bisa mengobrol di sana?" gadis itu mengangguk menerima tawaran pria itu. Mereka duduk di kursi dengan jarak.
"Apa kamu tau tentang perjodohan kita?" gadis itu mengernyitkan dahinya bingung.
"Perjodohan siapa?" tanyanya.
"Kita. Saya dan kamu." sebenarnya pria itu sudah tau tentang perjodohan yang disepakati oleh kedua orang tua mereka. Dan sekarang pria itu mencoba bertanya, mengakrabkan diri.
"Apa benar?" gadis itu menerawang.
"Kamu belum dikasih tau?"
"Belum sama sekali."
"Kalau perjodohan itu benar adanya, apakah anda akan menerima?" tanya Ceisya cukup formal.
"Bismillah. Abi dan Umi insya Allah tidak akan salah pilih. Bisakah kita bicara tidak terlalu formal? Itu sedikit aneh."
__ADS_1
"Bisa?" gadis itu menggantung.
"Kamu bisa panggil saya, Mas."
"Baiklah." ujar gadis itu.
"Apa kamu punya pacar?" tanya pria itu.
Ceisya menerawang. Rasa-rasa ia tidak pernah dekat dengan pria mana pun. "Tidak."
"Syukurlah. Setidaknya dengan perjodohan ini tidak membuat hubungan kalian berantakan."
"Kalau, Mas?"
"Saya? Hidup dilingkungan pesantren membuat saya cukup tau diri artinya batasan. Mungkin sekarang saya sudah melanggar batasan. Berbicara dengan seorang perempuan berduaan."
"Kamu cantik kalau pakai hijab." lanjut pria itu.
"Iyakah?"
"Iya. Teruslah pakai..."
"Insya Allah. Aku jarang memakai jilbab. Rasanya sedikit tidak nyaman."
"Tidak apa. Perlahan-lahan nanti pasti akan terbiasa."
.
.
.
Siang ini rencananya Ceisya akan pergi jalan-jalan mengunjungi kota S. Ia pergi bersama dengan Azril dan juga Hanum. Selama tinggal di kediaman Hanum, Ceisya menjadi lebih disiplin waktu dan pikirannya sudah lumayan membaik. Walau terkadang Ceisya selalu berteriak histeris saat bangun tidur.
"Ril, nanti mampir ke supermarket ya? Umi mau belanja sekalian." ujar Hanum yang duduk di jok belakang bersama Ceisya.
Pria itu hanya mengangguk.
"Sayang, kamu mau belanja sekalian?" tanya Hanum.
"Tidak, Umi. Lagian keperluan Ceisya masih ada. Nanti saja kalau sudah habis." jawab gadis itu.
"Yasudah deh. Nanti kalau habis kamu bilang ya?"
"Iya, Umi, nanti Ceisya bilang." jawab gadis itu.
Tidak terasa kini mobil yang dikendarai oleh Azril telah sampai di parkiran supermarket. Mereka semua segera turun lalu masuk ke dalam.
Hanum menggandeng tangan Ceisya sementara Azril berjalan di belakang mereka. Pria itu terlihat cuek saat melihat tatapan-tatapan para kaum hawa yang melihatnya.
"Azril, kamu pilih-pilih aja keperluan kamu. Kalau sudah selesai baru temui Umi dan Ceisya." ujar Hanum.
__ADS_1
"Baik, Umi." pria itu tidak banyak bicara.
"Sayang, ikut Umi yuk!" Ceisya menurut saat tangannya digandeng berkeliling supermarket. Membeli sedikit keperluan pribadi dan untuk rumah.
"Umi..."
"Iya?" tanya Hanum.
"Apa benar Umi, Abi, Bunda, dan Ayah akan menjodohkan aku?"
Perempuan itu mengerti. Dia sedang berpikir, merangkai kata-kata yang pas.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Sayang?"
"Tidak, Umi. Seminggu lalu Mas Azril sudah mengatakannya. Apa itu benar?"
"Iya, Sayang. Maaf, belum memberitahu kamu. Apa kalian bertengkar?"
"Tidak, Umi. Mas Azril baik."
"Syukurlah. Semoga nanti bisa secepatnya." perempuan itu berdo'a di dalam hati.
Cukup lama mereka berada di sana. Saat sudah selesai mereka langsung menuju kasir, membayar semua belanjaaan. Ternyata Azril juga berbelanja sedikit untuk kebutuhan pribadinya.
"Umi, sini! Kasihin ke Azril biar Azril yang membawanya ke mobil." pria itu mengambil barang belanjaan di tangan Hanum.
"Sayang, ayo kita pulang! Kamu mau singgah ke tempat lain atau ada yang kamu butuhkan?"
"Tidak, Umi. Kita pulang saja."
Mereka keluar dari supermarket itu. Berjalan menuju parkiran di mana Azril memarkirkan mobilnya di sana.
Sedikit lagi mereka sampai di mobil. Tapi, tiba-tiba seseorang berjalan tergesa-gesa sampai-sampai tidak memperhatikan bahwa ada dua orang perempuan yang kini berjalan di hadapannya.
Brukkk
"Maafkan saya." seseorang itu membungkuk mengambil kunci mobilnya yang terjatuh. Lalu setelah itu dia bangkit, membantu seorang gadis yang kini terjatuh.
"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" Hanum membantu Ceisya berdiri.
"Tidak apa-apa, Umi. Ceisya baik-baik saja." balas gadis itu sedikit mengibaskan roknya yang terkena debu.
Seseorang yang menabraknya kini mematung mendengar nama yang sangat dia kenali. Apakah hanya namanya yang sama tapi orangnya tidak?
"C-ceisya?"
.
.
.
__ADS_1
tuh kan apa ku bilang. eh tapi itu siapa ya kira-kira 🤔ada yang tau ga? kalo ada silahkan komen di bawah ya 😉