
"Ayo dong. Kau sahabatku bukan? Nah! Kalau kau sahabatku, ayo turuti saranku tadi." lagi-lagi Ceisya membuat Reva memekik. Bedanya sekarang tidak sekencang tadi.
"Kau pasti bisa Reva sayang. Ayo dong. Ini demi perut kita berdua." pancing Ceisya.
"Tapi---"
"Tidak ada tapi-tapian. Ayok, Reva!" desak Ceisya lagi.
"Yaampun. Beginikah rasanya kalau dijadikan bahan percobaan oleh sahabat sendiri? Sungguh nikmat bestie." ujar Reva pelan.
Terpaksa dia harus naik ke atas motor. Percobaan pertama gagal karena Reva sedikit sawan. Dia terus mengomeli Ceisya yang malah dengan santainya memintanya untuk naik berdiri di atas motor.
"Aku takut, Sya." cicit Reva pelan.
Ceisya yang tengah duduk memegang motornya aman menoleh ke belakang. Dia hanya melihat santai wajah Reva tanpa niat membantu atau meminta agar berhenti.
"Semangat, bestie!" ujar Ceisya malah memberikan semangat.
Mulut Reva tampak komat-kamit seperti membaca mantra. Dan akhirnya dia berhasil berdiri di atas motor.
Terdengar suara teriakan heboh dari pengendara lain saat melihat aksi nekat gadis itu. Bahkan ada sebagian dari mereka yang merekamnya. Ceisya yang menyadari itu langsung menatap mereka tersenyum.
Seolah ada medan magnet yang menarik dewi pencabut nyawa datang, mereka langsung menghentikan aksi merekamnya itu. Bahkan ada beberapa yang menghapus. Entah mengapa.
"Bagaimana?" tanya Ceisya saat Reva duduk normal sambil meringkuk di belakang. Reva menyandarkan kepalanya seolah-olah tubuh Ceisya adalah sandaran yang empuk.
"Huuuhhhhhh...jantungku tidak normal." ujar Reva tanpa mengindahkan posisinya. "Ternyata ada razia di depan. Bagaimana ini?" jelas Reva ketakutan karena dirinya tidak memakai helm. Tapi, yang menjadi permasalahannya bukan hal itu. Jelas Ceisya yang membonceng dan lagi pula Ceisya memakai helm.
"Razia?" beo Ceisya. Sesaat kemudian dia memekik kaget. "Aaaaaaaa...Reva jangan bilang kalau aksimu tadi dilihat. Dan bagaimana nanti kalau kau diberi sanksi?"
Ingin rasanya Reva merobek isi kepala sahabatnya itu. Kenapa hanya dirinya saja yang mendapatkan sanksi hukuman? Sedangkan ide itu semua berasal dari Ceisya.
"Hei! Kenapa hanya aku yang dihukum?" tanya Reva kesal.
"Lalu...siapa yang layak mendapatkan hukuman. Kau dan aku, oke! Ini semua adalah idemu yang gila itu." maki Reva.
"Aku hanya menuangkan ide bukan menyuruhmu!" balas Ceisya tidak mau kalah
"Itu sama aja o'on." sungut Reva.
"Hehee, beda..." balas Ceisya membuat Reva memutar bola matanya malas.
Sekitar 10 menit mereka terjebak, kini kendaraan di depan sudah berjalan perlahan hingga Ceisya bisa menjalankan motornya.
"Sya, bagaimana ini?" ujar Reva sedikit takut. Jangan ditanya bagaimana Ceisya, gadis itu tampak tenang seolah-olah tidak merasa bersalah atau pun khawatir.
"Tenanglah sedikit. Ini hanya razia biasa." jawab Ceisya tenang saat petugas meminta mereka untuk berhenti.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
Sontak Ceisya dan Reva menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Kak Daniel." ujar Ceisya tersenyum, sementara Reva hanya menunduk malu.
"Apakah sudah selesai?" tanya Daniel.
"Sudah selesai, Kak. Jadi, kami boleh pergi?"
Daniel hanya mengangguk mengizinkan. Tatapannya beralih pada Reva. Dia tersenyum melihat gadis pujaan hatinya.
"Hati-hati, Sayang."
Reva mengangkat kepalanya melihat Daniel yang menatapnya dengan penuh damba.
Sementara Ceisya hanya melongo dibuatnya. Apakah ada sesuatu yang sempat tidak dia ketahui? Mungkin saja.
"R-reva, kau...??"
Reva hanya tersenyum kaku. Niat ingin menyembunyikan hubungan mereka eh dengan mudahnya diketahui. "Sudah. Nanti akan ku jelaskan."
"Kau berhutang penjelasan denganku!" Ceisya mengangkat dua jarinya berbentuk V kemudian dia arahkan ke kedua matanya lalu menunjuk ke arah Reva.
"Baiklah, baiklah." jawab Reva pasrah.
Akhirnya mereka bisa beranjak pergi dari jaring razia itu. Sayangnya Ceisya tidak menemukan keberadaan pria yang waktu lalu bersamanya. Rindu mulai mengganggu pikirannya. Selama ini dia hanya berkabar dengan Kakak pria itu. Ya, Emi. Mereka selalu berkomunikasi melalui ponsel.
Mereka memutuskan untuk pulang saat sudah selesai ngebakso. Lagian hari sudah sore. Ceisya juga sudah selesai mengintrogasi Reva.
Sesampainya di kosan, Ceisya langsung membersihkan dirinya dan berniat untuk beristirahat barang sebentar lalu kemudian mengerjakan tugas kuliahnya.
Dengan terpaksa Ceisya bangkit dari kasurnya kemudian mengganti celananya dengan celana panjang karena tadi dia hanya mengenakan celana pendek selutut.
"Siap---" ucapan Ceisya terpotong saat melihat seseorang yang baru saja mengetuk pintu kosannya.
"Hai."
"Ada apa?" tanya Ceisya berusaha menyingkirkan rasa kesalnya.
"Apakah aku mengganggu?" ujar Rangga tidak enak.
"Sedikit." jawab Ceisya jujur.
"Maaf ya. Kedatanganku ke sini hanya ingin meminta maaf."
"Maaf?"
"Iya. Aku minta maaf kalau selama ini sudah membuatmu tidak nyaman. Aku juga mau bilang...aku suka sama kamu, Ceisya. Tidak apa. Aku hanya ingin memberi tahu. Dan aku juga tau kalau kau tidak akan pernah menerimaku. Maka dari itu kedatanganku ke sini hanya ingin meminta maaf. Aku mundur...!"
"Aku tidak akan memaksa. Mulai sekarang aku akan belajar melupakan rasa ini. Rasa yang tidak seharusnya aku alami. Emmm...anggap saja perkataanku ini sebagai angin lalu. Aku tidak ingin membuat hubungan pertemanan kita rusak. Apakah aku masih boleh berhubungan denganmu? Maaf, maksudnya sebagai teman." ujar Rangga panjang lebar.
Ceisya terpaku sebentar. Sesaat kemudian dia bisa mengendalikan dirinya. "Iya. Aku juga minta maaf." ucap Ceisya yang mulai bingung harus mengatakan apa.
"Baiklah. Aku lega sekarang. Setidaknya aku sudah memberi tahu tentang perasaanku. Tidak usah khawatir, aku tidak akan mengejarmu lagi. Aku pamit ya."
__ADS_1
"Iya, silahkan."
Ceisya hanya memandang kepergian Rangga. Dia tersenyum, melihat Rangga yang sudah sadar bahwa dirinya bukanlah seseorang yang tepat.
"Ekhem...sudah selesai bicaranya?"
"Eh!"
Ceisya menengok ke sana sini mencari sumber suara tadi. Tapi, Ceisya tidak menemukannya. Dia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin.
"Aku bukan hantu."
Seorang pria muncul entah dari mana. Ceisya tidak tahu itu.
"Eh! Om! Ngapain ke sini?" tanya Ceisya sedikit gelagapan.
"Aku? Aku bisa muncul dimana-mana."
"Om, tidak kerja?" tanya Ceisya bertepatan Zafran yang duduk di kursi luar kosannya. Ceisya keluar, ikut duduk di samping pria itu.
"Kerja."
"Lalu, kenapa ke sini?"
"Hanya ingin bertamu."
"Haish!?"
"Hari ini aku hanya bertugas di pagi hari. Jadi, sorenya sudah bebas." ujar Zafran tiba-tiba.
Ceisya hanya mengangguk-angguk. Dia menatap Zafran yang saat itu melihat ke arah depan.
"Apakah kau sibuk?"
"Eummmm...tidak juga, Om. Hanya mengerjakan tugas kuliah yang belum selesai. Memangnya ada apa?" tanya Ceisya yang bingung kenapa Zafran bertanya seperti itu.
"Benarkah?" lagi Ceisya mengangguk. "Aku ingin mengajakmu pergi ke pasar malam nanti malam. Mau?" ajak Zafran.
"Pasar malam?"
"Iya, pasar malam."
"Tapi, Om. Malam hari kan hanya satu dalam setiap malam."
"Haaa??" Zafran terbengong.
"Itu tadi katanya pasar malam. Pasar malam kan malamnya banyak. Tapi, kenyataannya malamnya hanya satu."
Zafran tergelak. Dia menatap bengis ke arah Ceisya yang malah menyengir.
"Bercanda, Om. Jangan marah." Zafran menghembuskan nafasnya lega.
__ADS_1
"Baiklah. Aku mau."