Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 50


__ADS_3

Tak tak tak


Bunyi suara sepatu yang bergesekan di luar ruangan itu disertai suara-suara yang terdengar tidak asing di telinganya mendekati ruangan.


"Tok... tok... tok..."


Orang yang berada di dalam langsung kalang kabut, tepatnya sih gadis itu.


"Mmhhhh..." Ceisya langsung mendorong dada bidang pria itu hingga membuatnya mau tidak mau melepaskan aktivitasnya dengan rasa tidak rela.


"Ada orang... Om." beritahu gadis itu setelah berhasil mengatur nafasnya.


"Ck!" pria itu mencibik untuk pertama kalinya disertai dengan wajah masamnya. Sebuah elusan di lengannya membuat pria itu mau tidak mau merubah ekspresi, apalagi melihat wajah teduh dari gadisnya.


"Iya, iya." dengan rasa malas pria itu menjauh, berpindah tempat duduk di sofa berjauhan dengan ranjang.


Tidak lama setelah itu pintu ruangan terbuka menampakkan sepasang suami istri yang masih terlihat awet di usianya yang mencapai kepala empat. Di susul Suster di belakangnya untuk memeriksa keadaan Ceisya.


"Maaf ya, Sayang. Bunda tadi ke kantin sebentar, katanya Ayah kamu lapar makanya makan sebentar di sana." ujar Bunda Nai seraya mendekat.


"Iya, Bunda, gak pa-pa kok." jawab gadis itu santai.


"Loh... Zafran? Kapan kamu di sini?" celetuk Ayah Faisal begitu melihat Zafran yang duduk anteng di sofa.


"Hehe... udah dari tadi kok, Om. Makanya Tante minta saya untuk menjaga Ceisya." balas pria itu tersenyum.


Ayah Faisal berjalan mendekati sofa lalu duduk di samping pria itu. Mereka terlihat mengobrol, berbincang dengan cukup hangat. Seperti sudah mengenal lama padahal ini pertama kalinya mereka mengobrol sehangat itu.


"Om, apa kabar?" tanya Zafran basa-basi.


"Alhamdulillah, baik. Kamu gimana kabarnya?" tanya balik Ayah Faisal.


"Baik juga, Om. Om, apa kita bisa berbicara di tempat lain? Ada hal yang ingin saya sampaikan." pinta pria itu to the point. Baginya waktu adalah waktu yang selalu berputar mengelilingi porosnya, maka dari itu waktu akan terus berputar, dari detik ke menit, dari menit ke jam, berubah menjadi hari, bulan, tahun.


"Oh, ya ya. Di mana?"


"Di depan rumah sakit, Om. Di sana ada cafe. Bisa?" pria itu bertanya menawarkan.


"Bisa, bisa. Yasudah, ayo kita ke sana sekarang." kedua pria itu bangkit bersamaan. Terlebih dahulu mereka berpamitan.


Selepas kepergian perawat yang memeriksa Ceisya, gadis itu meminta untuk duduk di ranjangnya bersandar pada headboard.


Terlihat Bunda Nai yang begitu cekatan mengupas buah-buahan apel.


"Kamu gak pa-pa Bunda tinggal tadi?" tanya Bunda menirau.


"Gak pa-pa, Bun. Aman kok." jawab gadis itu sambil menerima buah-buahan yang sudah Bundanya potong.


"Sepertinya kalian akrab?"


"Nggak juga, Bun. Biasa aja kok malahan."


"Itu hanya perkiraan Bunda saja."

__ADS_1


"Bun, Rizki gak ke sini?" tanya Ceisya disela-sela memakan potongan buah apel.


"Bunda bilang besok aja soalnya dia lagi belajar untuk persiapan ujian semester pertama."


"Huumm... iya juga ya, Bun. Mengingat sekarang sudah kelas 12."


Gerakan tangan Bunda Nai langsung berhenti. Perempuan itu menatap sang anak penuh selidik. Satu hal yang belum ia ketahui bahwa ingatan Ceisya sudah pulih kembali.


"Sayang... kamu??"


"Ceisya kenapa, Bun?" tanya Ceisya yang tidak bisa menahan senyumannya.


"Ingatan kamu, Sayang?"


Jika sudah begini mana mungkin gadis itu berbohong. Lagi pula berbohong itu adalah perbuatan yang dapat menimbulkan dosa apalagi membohongi orang tua. Sudah dipastikan dosanya akan berlipat-lipat kali ganda.


"Hehe..." gadis itu hanya menyengir tanpa dosa.


"Tapi, dokter bilang?"


"Ceisya sengaja, Bun. Untuk surprise... yeayyyy!!" gadis itu tertawa riang.


Mambuat sepasang mata itu meneteskan air matanya.


"Eh! Eh... Bunda, jangan nangis. Apa Ceisya terlalu berlebihan?" gadis itu tampak bersalah.


"Tidak, Sayang. Bunda, Bunda hanya bahagia."


"Bunda akan cubit kamu, Sayang." bukannya mencubit, Bunda Nai malah memeluk sambil memberikan ciuman bertubi-tubi di pipi dan dahi Ceisya.


Rasa syukur membuat perempuan itu tidak bisa berkata-kata lagi. Dia selalu memanjatkan do'a.


.


.


.


Beda hal dengan kedua laki-laki itu, mereka terlihat mengobrol ringan sambil ditemani segelas kopi.


"Apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Ayah Faisal kembali ke topik awal.


Zafran meletakkan cangkir itu ke atas meja, pria itu sedikit merubah gaya duduknya.


"Sebelumnya saya minta maaf kalau sudab lancang terhadap Om."


"Apa benar Om akan menjodohkan Ceisya dengan pria lain??"


"Pertanyaan itu. Hmmm... iya."


"Om, apa keputusan Om sudab tepat?"


"Insya Allah, keputusan yang saya ambil sudah tepat."

__ADS_1


"Tapi, Om."


"Ada apa?"


"Saya... saya menyukai anak Om." pria itu menunduk seusai berkata. Ia tidak lagi mampu untuk mengangkat kepalanya. Merutuki dirinya sendiri yang begitu gegabah. Namun, kertas sudah menjadi abu. Pria itu hanya bisa berharap kedepannya akan menjadi lebih baik.


"Kamu siapa sampai bisa-bisanya menyukai anak saya?"


Tuh kan!


"Kalau bicara dengan orang yang lebih tua itu kepala diangkat. Tidak sopan namanya!"


Sontak Zafran mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk.


"Saya hanya manusia biasa, Om. Yang diberi kesempatan untuk melihat dunia hingga sekarang. Saya hanya seorang berpangkat seorang polisi yang tengah membela negara dari ancaman berbagai bidang." pria itu berterus terang.


"Saya keberatan jika Om mau menjodohkan anak Om dengan pria lain. Saya sungguh keberatan, Om."


"Lalu masalahnya sama kamu itu apa?" Zafran terlihat gugup melihat sisi lain dari seorang Faisal yang dikenal ramah.


"Saya menyukai anak Om. Apa itu salah, Om?"


Cukup berani. batin seorang Ayah dua anak itu.


"Hanya ini yang ingin kamu sampaikan? Jika iya lebih baik kamu pulang saja."


"Om! Tapi, Om."


"Apa?"


"Sebelum Om membatalkan perjodohan itu maka saya tidak akan pernah pergi."


"Baiklah, saya yang akan pergi dari sini." Ayah Faisal bangkit dari duduknya bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu.


"Om! Saya mohon. Pikirkan lagi tentang perjodohan itu. Izinkan saya melamar anak Om. Saya pastikan hidupnya akan terjamin lahir dan batin. Saya tidak janji, Om. Tapi, akan saya buktikan. Seorang pria sejati itu bukam berjanji tapi membuktikan!" ujar pria itu menggebu-gebu.


"Tapi anak saya masih muda, saya tidak akan memberikannya begitu saja."


"Saya akan menunggu, Om."


"Menunggu itu lama, membosankan."


"Saya tidak akan pernah bosan, Om. Saya mohon!"


Ayah Faisal tersenyum tipis. Baru kali ini dia melihat ada seorang pria yang terus terang berkata seperti itu. Dia salut, bangga, karena masih ada pejuang di masa yang akan datang.


"Selamat menunggu!" Ayah Faisal berlalu.


"Maksud Om?" pria itu tergagap tidak percaya. Bukannya tidak mengerti tapi lebih tepatnya tidak ingin beropini sendiri.


"Kamu paham! Jangan lupa bayar minumannya."


"Makasih banyak, Om!" teriak pria itu gembira. Mimpi apa ia semalam. Tidak sia-sia mengajak calon mertua berbincang.

__ADS_1


__ADS_2