
"Daaahhhhhh..." keduanya melambaikan tangan, mengantarkan Daniel pulang sampai depan pintu. Suara deru mesin motor langsung terdengar dan tidak lama melesat meninggalkan kost-an Ceisya.
"Hufttt... " terdengar suara helaan nafas dari Ceisya, gadis itu berjalan gontai menuju kamarnya.
"Kenapa, Sya? Kayaknya lemes banget." tanya Reva yang menyusul.
"Gak pa-pa kok." jawabnya lalu menghempaskan tubuh moleknya ke atas kasur.
"Kalau ada masalah cerita ya? Jangan dipendam sendiri. Aku kan ada."
"Iya, Re. Beneran gak ada masalah kok, gak tau ini badan kenapa lemes tiba-tiba."
"Kurang vitamin dari ayank yah?" celetuk Reva.
"Aku mana ada punya ayank."
"Elehh! Noh, si pakpol mau diapain? Kasian, jangan digantung napa. Ntar pergi kamunya yang galau merana loh."
"Ih... siapa yang ngegantung sih?" protes Ceisya.
"Ya, kamu lah."
"Udah ah, jangan dibahas."
Reva hanya mengedikkan bahunya bingung.
.
.
.
__ADS_1
"Tok... tok... tok..."
Pintu diketuk, tidak lama keluar seorang wanita paruh baya yang masih terlihat awet diusianya. Perempuan itu cukup terkejut dengan kehadiran seorang pria yang bertandang ke rumahnya.
"Bunda, siapa itu malam-malam?" tanya Ayah Faisal.
"Bunda gak tau, Yah. Bentar ya? Biar Bunda liat dulu." jawab Bunda Nai lalu melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
"Loh, Zaf..." ujar Bunda Nai cukup kaget saat baru saja membuka pintu utama.
"Assalamu'alaikum, Tante. Apa kabar?" sapa Zafran. Ya, Zafran. Setelah sekian lama tidak muncul akhirnya ia muncul juga.
"Wa'alaikumsalam. Ayo masuk!" Bunda Nai mempersilahkan.
"Iya, Tante."
"Bentar ya? Kamu duduk dulu di sini biar Tante panggil Om." pria itu hanya mengangguk.
"Om, apa kabar?" tanya pria itu menyapa.
"Baik. Kamu gimana?"
"Alhamdulillah, baik juga, Om."
"Ada apa malam-malam ke sini?"
"Ceisya ada, Om? Mau ngobrol sebentar."
"Nggak ada. Udah pulang ke kost-an. Besok udah mulai masuk kuliah."
Respon pria itu cukup kaget, tidak terduga. Ia kira gadis itu masih di rumahnya, menikmati istirahat.
__ADS_1
"Begitu ya, Om?" ujarnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya."
"Eh! Sampai lupa. Ini, Om, diambil. Tadi saya mampir dulu ke toko kue." ujarnya menyerahkan paper bag.
"Oh ya ya. Makasih kuenya."
"Sama-sama, Om. Tante mana?".
"Ada di belakang. Katanya mau buat minum sebentar. Mungkin bentar lagi selesai."
Benar saja, sesaat kemudian Bunda Nai datang dengan kebebasannya membawa nampan. Lalu meletakkan dia cangkir gelas ke atas meja.
"Silahkan diminum, Nak. Masih panas, hati-hati."
"Ditiupin dong, Bun, biar dingin." celetuk Ayah Faisal bercanda.
"Ayah!" tegur Bunda Nai sambil menahan malu. Bisa-bisanya suaminya itu bercanda tidak tau umur.
"Iya, Bunda, iya. Ayo, Zaf. Ditiup sendiri tapi ya? Soalnya Tante gak mau niupin."
Zafran hanya terkekeh pelan melihat drama suami istri di depannya. Inilah yang ia mau nanti. Biarpun umur sudah tidak muda lagi tapi keromantisan harus tetap kekal abadi.
Tidak terasa sudah 1 jam lebih ia bertamu, mengobrol banyak entah itu tentang pekerjaan dan banyak hal. Intinya malam ini pria itu sudah cukup mengambil hati calon mertuanya. Tidak apa tidak bertemu pujaan hati, tapi malam ini ia rasa cukup.
Pria itu baru ingat, kemarin kan dirinya pura-pura marah persoalan umur. Ia dibilang terlalu tua padahal umurnya belum sampai 25 tahun. Sangat mengenaskan. Ingin sekali pria itu sedikit menghukum gadis nakal itu.
Ngomong-ngomong ia sangat rindu. Lelah menahan rindu berhari-hari demi menuntaskan tujuan awalnya yaitu membuat gadis nakal itu menjadi uring-uringan. Terbukti adanya, Ceisya selalu kepikiran.
Zafran pamit, ia berencana akan menemui Ceisya keesokan harinya. Lagi pula ia sedang dalam masa cutinya. Masih tersisa beberapa hari, mungkin cukup menghabiskan waktu. Tidak tau saja bahwa saat ini gadisnya akan memulai waktu kesibukannya.
__ADS_1
"Kamu lagi ngapain?" ujar pria itu bergumam sambil membawa laju mobilnya melewati jalanan lenggang.