Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Extra part 1


__ADS_3

Tampak seorang wanita berusia tiga puluh lima tahun tengah berdiri di depan kaca yang memanjang ke bawah memperlihatkan seluruh tubuhnya hingga sampai ke ujung kaki. Tangannya memasang bros jilbab mutiara di sisi bahu kanannya. Wanita yang hampir memasuki kepala empat itu tetap cantik dan awet muda. Bahkan jika dilihat sekilas ia masih seperti wanita muda berusia dua puluhan. Tidak tampak sedikitpun kerutan di wajahnya.


Ia berjalan keluar dari kamarnya sambil menenteng tas selempang dengan tali yang terbuat dari rantai. Ia berjalan menuju kamar di sampingnya yang terlihat tertutup rapat.


Tok tok tok


"Abang, udah selesai siap-siapnya, Sayang?" tanya wanita itu sembari mengetuk pintu kamar.


Tidak ada sahutan dari dalam. Tapi, sesaat kemudian pintunya terbuka menampilkan anak laki-laki berusia sepuluh tahun dengan pakaian kasualnya.


"Udah?" ulang wanita itu.


Tidak menjawab pertanyaan tersebut, sang anak laki-laki hanya mengangguk singkat.


"Kita berangkat sekarang ya. Papa sama adik kamu sudah menunggu di bawah."


Sekali lagi anak laki-laki itu hanya membalasnya dengan sebuah anggukan. Anak laki-laki itu berjalan lebih dulu. Sedangkan sang mama berjalan di belakangnya.


Sesampainya mereka di lantai bawah, keduanya sudah melihat seorang pria yang sedang bermain dengan seorang anak perempuan. Keduanya tampak bercanda luwes tanpa ada sedikitpun kecanggungan.


"Sayang, kita berangkat sekarang?" tanya pria itu menoleh saat merasakan kedatangan istri dan putra sulungnya.


Ceisya, wanita yang sudah melahirkan sepasang anak dari hasil pernikahannya dengan Zafran selama sebelas tahun itu mengangguk sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Tangannya mengusap-usap kepala putra sulungnya yang berdiri di sampingnya.


"Ai mau sama Mama?" tanya Ceisya bertanya kepada anak bungsunya yang saat itu tengah menempel dengan sang papa.


Balita yang masih berusia empat tahun itu menggelengkan kepalanya. Ia beranjak dari duduknya hanya demi untuk memeluk leher papanya.


"Baiklah, baiklah. Ai sama papa biar mama sama abang aja. Sini abang!" Ceisya sebenarnya bingung kenapa putri bungsunya itu begitu lengket dengan papanya.

__ADS_1


Zafri, putra sulungnya hanya diam tetapi ia menurut. Memeluk tubuh sang mama dengan sebelah tangan kanannya. Ceisya reflek mengelus lembut rambut Zafri.


Putri bungsunya yang bernama Aiya itu langsung membuang mukanya ke samping. Ia semakin mengeratkan pelukannya di leher papanya.


"Cie cemburu. Salah siapa tadi ditawarin enggak mau. Jadinya abang deh yang menang." sahut Zafran tersenyum setelah memprovokasi putrinya sendiri.


Sedangkan Zafri hanya diam, tetapi, bibirnya tertarik ke atas. Tersenyum ketika melihat tingkah adik kecilnya yang sedang cemburu. Saat ingin mengetahui apakah adiknya tengah cemburu ataukah tidak itu mudah saja. Ketika cemburu, Aiyla akan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Sudah, sudah. By, jangan bikin Ai nangis. Mending sekarang kita berangkat langsung, takut nanti kemalaman." lerai Ceisya sembari menegur suaminya.


Zafran hanya menatapnya dengan cengiran. "Iya, Sayang, iya. Ai sama mama dulu ya? Biar papa sama abang sebentar." Zafran melepas paksa pelukan putrinya. "Emangnya mau abang sama mama terus? Trus Ai sama papa?" bisik Zafran pelan.


Aiyla menggelengkan kepalanya. Kepalanya menoleh ke samping dan mendongak, melihat wajah sang mama. Ia langsung berlari ke arah Ceisya dan memeluknya erat. Tinggi Aiya yang hanya sebatas paha Ceisya membuat anak perempuan itu terlihat sangat lucu.


Ceisya langsung mengusap kepala Aiyla yang terbalut jilbab instan. Sedangkan Zafri yang peka langsung melepaskan sebelah tangannya yang sebelumnya memeluk tubuh sang mama.


Zafri mendekati adiknya, ikut mengusap kepala Aiyla. "Biar abang sama papa." ucap Zafri singkat lalu beranjak mendekati Zafran.


Ceisya tersenyum gemas lalu langsung mengangkat tubuh Aiyla dan menggendongnya. Begitu berada di dalam gendongan mamanya, Aiyla langsung memeluk erat leher Ceisya sembari menenggelamkan wajahnya di leher Ceisya.


Sementara itu, Zafran juga menawarkan kepada putranya untuk naik ke punggungnya. Zafri yang sangat suka digendong sewaktu kecil pun tidak menolak. Ia melilitkan tangannya di leher Zafran supaya tidak terjatuh.


"Kita berangkat." Zafran berjalan mendekati Ceisya yang masih berada di tempatnya.


"Abang, pejamkan matanya." Zafri reflek memejamkan matanya mendengar titah dari sang papa.


Cup


Zafran tersenyum ketika melihat kedua mata istrinya yang reflek melotot ke arahnya. Sebelum memprotes, perkataan Ceisya langsung disela oleh Zafran.

__ADS_1


"Aman, Sayang. Kita berangkat sekarang." dengan wajah tidak berdosa, Zafran melangkahkan kakinya mendahului istrinya yang masih terbengong di ruang tengah.


Ceisya sangat merutuki tingkah suaminya yang tidak tahu tempat itu. Tapi, slama hatinya tidak bisa dipungkiri bahwa Ceisya merasa sangat bahagia hanya karena hal sekecil itu.


•••


Mobil MPV putih itu berhenti depan sebuah pesantren yang terletak si kota S. Ceisya dan Zafran reflek menoleh ke belakang. Melihat anak-anak mereka sudah tertidur pulas di bangku belakang yang sudah disulap menjadi tempat tidur yang nyaman. Semenjak kelahiran putri bungsunya, Zafran langsung menggantikan mobilnya dengan mobil yang mempunyai kapasitas lebih besar yang lebih mengutamakan kenyamanan keluarganya. Dan hal itu itu sangat berguna, contohnya sekarang. Anak-anaknya bisa istirahat di bangku belakang.


"Sudah mengabari Umi?" tanya Zafran sembari memandang istrinya.


"Udah kok. Katanya lagi nunggu di dalam. Ya udah, masuk yuk! Anak-anak mau dibangunin?" tanya Ceisya yang memang sebelumnya sudah memberitahu kepada Uminya bahwa mereka sudah sampai.


Ya. Liburan sekolah tahun ini Ceisya mengajak anak-anaknya berkunjung ke kota S. Tempat yang dulunya pernah menjadi kenangan dari bagian hidupnya.


"Bangunin aja." Zafran melirik ke bangku belakang di mana anak-anaknya masih tertidur pulas.


Ceisya mengangguk. Keduanya kompak melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil lalu berpindah ke pintu mobil belakang untuk membangunkan anak-anaknya.


"Abang, Ai, bangun, Sayang. Kita udah sampai loh." Ceisya menepuk-nepuk pelan pipi kedua anaknya secara bergantian.


Zafri yang sifatnya hampir sama dengan sang papa langsung terbangun dengan mudah. Ia mengusap-usap kedua matanya.


"Maaf ya, Sayang, tidurnya jadi terganggu. Abang sama papa dulu ya, biar mama bangunin Ai dulu."


"Iya, Ma." jawab Zafri menurut.


"Ai Sayang, bangun dulu yuk! Ai mau ketemu Abang Rakha nggak?" dan ajaibnya saat mendengar nama Rakha, Aiyla langsung terbangun.


"Abang Rakha?" lirihnya sayup-sayup.

__ADS_1


"Iya. Bangun dulu yuk! Papa sama abang udah di luar."


Dengan lesu, Aiyla merentangkan tangannya kepada Ceisya meminta untuk digendong. Ceisya hanya geleng-geleng kepala melihat putrinya itu, sangat manja.


__ADS_2