Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
My Teacher


__ADS_3

Hola ges. BDi sini aku mau promosiin karya baruku. Ini bener-bener hasil haluku, bukan ngejiplak karya orang lain.



Itu di atas👆☝cek aja profilku kalo ga nemu. InsyaAllah karya ini bakal aku tamatin sampe akhir. Semoga kalian berkenan. Sekian Terima kasih. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Papayo ges🥰🥰🥰


Tringggggg


Bel berbunyi dengan begitu nyaringnya membuat sebagian siswa-siswi menutup telinga lantaran merasa telinganya berdengung. Sebagian ada yang mengumpat, kenapa bel sekolah yang menggunakan toa itu begitu memekakkan telinga.


Banyak anak-anak berhamburan masuk ke kelasnya dan bahkan ada yang masih asik nongkrong di kantin.


Namun beda lagi dengan siswi yang satu ini, lima menit sebelum bel berbunyi ia bahkan sudah stay di tempat duduknya.


"Woi, Nes. Lo tau gak?" tanya gadis yang tidak mengenakan hijabnya karena dirinya non-muslim.


"Gak tau. Kan lo belum cerita." jawab Nessa si gadis kalem di kelas itu. Kalemnya kadang-kadang sih, wkwk. Kedekatan keduanya tidak diragukan lagi meskipun beda keyakinan tetapi mereka tetap akur dan menghargai satu sama lain.


"Ck! Si ogep, ini gua mau cerita, nyet. Astaghfirullah, maaf bestie toxic gue kelepasan."


"Dih! Astaghfirullah?" sindir Nessa menahan senyum. Kadang temannya itu suka lupa, mungkin karena kebanyakan bergaul dengannya ataukah faktor lainnya.


"Astaga, maaf. Aduh! Nih mulut suka ember. Lama-lama nanti jadi mualaf nih gue." ujarnya tanpa sadar.

__ADS_1


"Emangnya udah siap?" tanya Nessa mengerling.


"Hehe, belum. Butuh kemantapan hati, jiwa, dan raga, bestie, dan tentunya restu orang tua."


"Nah tuh tau. Sekarang lo mau cerita apaan?" tanya Nessa yang sudah kembali ke topik awal.


"Oh iya. Untung lo ingetin. Nih ya, lo denger gosip gak?" Nessa menggelengkan kepalanya.


"Ck! Kudet lo mah. Nih ya gue kasih tau, tadi tuh ya gue liat guru, itu guru baru kayaknya soalnya gue baru liat. Temen-temen yang lain pada bilang gitu sih. Dan lo tau gak?" lagi-lagi Vella menggantungkan kalimatnya membuat Nessa ingin sekali menabok kepada sahabatnya itu.


Nessa mendengkus sambil memandang sinis.


"Hehe, nih gue lanjut. Tuh guru cupu deh, pake kacamata, rambutnya rapi pake bangettt, trus ya mukanya di bawah standar deh."


"Eh! Syutt! Ga boleh gitu, Vevel! Apa gue bilang, jangan ngejelekin orang lain, ntar lo dosa trus dihukum Tuhan lo, mau?"


"Syuttt! Tuh guru udah masuk. Balik ke tempat lo sanah!" usir Nessa kembali ke posisinya menghadap papan tulis. Sedangkan Vella yang diabaikan hanya mendengus kesal dan terpaksa kembali ke tempat duduk asalnya.


🌼🌼🌼


"Kantin yok!" ajak Vella berdiri tepat di hadapan Nessa yang saat itu tengah mengemasi buku-bukunya. Saat ini bel istirahat kedua sudah berbunyi.


"Bentar." jawab Nessa sambil menutup resleting tasnya.

__ADS_1


"Yuk!" ajak Nessa yang sudah siap. Tanpa ragu Vella langsung menggandeng lengannya dan mereka menuju kantin.


Kelas yang berjajar panjang searah dengan kantor membuat mereka harus melewati kantor terlebih dahulu, baru setelah itu sampai ke kantin.


Melewati siswa-siswi yang lain membuat telinga mereka tidak sengaja mendengar obrolan mereka yang membicarakan tentang guru baru itu. Sebenarnya Nessa tidak terlalu perduli, namun saat telinganya mendengar ejekan membuatnya penasaran bagaimana sih penampilan guru baru itu sehingga membuat para siswa-siswi mengejeknya.


"Ck! Percuma sekolah, tapi mulut aja belum di sekolahin. Nes, kayaknya nanti kalau sukses gue mau bikin sekolah yang bisa nyekolahin mulut deh." celetuk Vella pelan.


"Lahh... kenapa?" tanya Nessa dibuat bingung.


"Iya, soalnya mulut mereka tuh pada kotor. Gue jadi gatel pengen nyucinya."


Mendengar itu membuat Nessa hanya tersenyum geli. Ada-ada aja pola pikir sahabatnya itu.


Tidak lama akhinya mereka sampai. Baik Nessa maupun Vella lebih memilih tempat yang lumayan sepi karena baginya sepi itu lebih adem dan tidak bising.


Sementara Vella memesan makanan, Nessa duduk menunggu sambil menyanggah dagunya menggunakan kedua tangannya menatap lurus ke depan. Entah apa yang ada dipikiran gadis itu. Tiba-tiba Vella datang sambil menjentikkan jarinya di hadapan Nessa membuat gadis itu tersentak kaget.


"Mikirin apaan? Jangan bilang mikirin mantan yang abis putus kemarin?" goda Vella membuat Nessa manyun seketika.


"Apaan sih! Gak jelas banget idup lo, Vell."


"Ya ya ya, iyain aja deh demi sahabat gue tercinta. Ini baksonya mari dimakan, ntar keburu bel bunyi." ucap Vella menunjukkan bakso yang sudah tersimpan di atas meja.

__ADS_1


"Demi gue kan? Kalo gitu sekalian traktir ya, hehe." balas Nessa tersenyum menyeringai.


"Sudah kuduga." seru Vella memutar bola matanya malas.


__ADS_2