Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 49


__ADS_3

"Sayang."


"Eh... iya, Bun?" sentak Ceisya kaget.


"Kamu bilang apa barusan? Kamu kenal?" tanya Bunda Nai sedikit penasaran.


"Siapa, Bun?"


"Itu! Di samping kamu."


"Enggak, memangnya kenapa, Bun?"


"Bunda kira kamu kenal."


Ceisya hanya menggeleng kecil. Netra matanya melirik ke arah pria itu yang masih melihatnya dengan ekpresi terkejut. Pria itu memandang lekat wajahnya membuat gadis itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain karena ia tidak bisa bertatapan dengan laki-laki dalam jangka waktu panjang.


"Kenalan lagi kalau begitu." ujar Bunda Nai memberi saran. Di pikirannya mungkin gadis itu tidak ingat siapa saja teman-temannya. Contohnya saja Reva. Ngomong-ngomong temannya itu ke mana ya? Ah ya... mungkin sibuk kuliah.


"Iya, Bunda." jawab Ceisya.


Mereka berkenalan kembali tepat untuk ketika kalinya. Ah... sungguh! Pria itu sungguh tersakiti. Mungkin saking berharapnya pria itu jadi bermimpi.


"Mama tinggal sebentar ya? Mau ke depan, katanya Ayah kamu sudah di dalam perjalanan ke sini. Nak Zafran, tidak apa-apa kan saya titip Ceisya sebentar? Sebentar saja kok, tidak akan lama."


Jelas pria itu mau, bahkan sebelum ditawarkan saja dia mau mengajukan. Hahaa.


"Iya, Tante. Tidak apa-apa kok, saya akan menjaganya." balasnya dengan perasaan menggebu.


"Terima kasih sekali lagi ya, Nak. Kalau begitu Tante pamit sebentar... Sayang, Bunda ke depan dulu ya? Kamu jangan bandel." Bunda Nai mengelus pucuk kepala Ceisya.


"Iya, Bunda. Jangan lama." pinga gadis itu yang dibalas anggukan oleh sang Bunda.


Selepas kepergian Bunda Nai, suasana di ruanagn itu menjadi sunyi. Bolehkah pria itu memeluk gadisnya? Sungguh ... pria itu merasakan rindu yang begitu mendalam. Menyiksa memang tapi itulah kenyataan.


"Ceisya, apa kamu lupa denganku lagi?" ujar pria itu sedikit tidak terima dengan kenyataan. Kalau bisa dia menemukan, sudah dipastikan pria itu tidak akan mau mengalami yang namanya dilupakan.


Ceisya mengangguk dengan tampang polos tidak dibuat-buat.


Bruk


Pria itu seketika menjatuhkan kepalanya di sisi ranjang. Menarik nafas dalam. Pria itu sungguh lelah dengan keadaan yang sekarang. Mau menyerah sudah nanggung mau maju juga bakalan susah.


"Aku sungguh lelah! Sangat lelah... bukankah Tuhan tidak adil terhadapku? Dia sungguh jahat bukan?"


"Aku lelah dengan keadaan. Bisakah hati ini kembali sehat?"


"Sangatlah sakit... menahan rindu yang begitu lama. Salahku juga yang sudah menjatuhkan rasa, hati, yang begitu dalam. Terlalu berharap dengan harapan tapi kenyataanlah yang memang bukan harapan."

__ADS_1


"Aku mau menyerah? Tapi... hatiku selalu berkata 'jangan. Mereka terus membisikkan kata-kata kepadaku tanpa mau membimbingku."


"Aku tau aku pria, yang harus bisa tanpa dimanja."


Pria itu memejamkan matanya, sesak. Setetes air mata berubah menjadi guyuran rasa sakit. Membasahi keringnya alas kasur. Katakanlah pria itu sudah berada di titik akhir. Ia ingin berjuang tapi malah dipatahkan oleh kenyataan.


"Aku terlalu egois hingga Tuhan mengambil semuanya."


"Aku yang terlalu bo doh. Salahku mencintai seseorang yang memang bukan untukku. Aku terlalu ngotot hingga aku lupa dengan takdir."


"Apakah kita bisa dipersatukan? Aku---"


ucapannya terjeda saat merasakan sebuah elusan di kepalanya. Mungkin pria itu memang merindukan usapan itu hingga ia berkhayal.


"Tolong bangunkan aku dari mimpi ini. Tolong... tolong... tolong!!!"


"Bangunkan aku... tolong!"


Sudah banyak lelehan air mata yang keluar dari kedua mata pria itu. Membuatnya terlihat cengeng, biarlah itu. Biarlah orang mau berkata jika melihatnya.


"Biarkan hidupku tenang... kamu terlalu meresahkan hingga membuat hidupku seperti ini."


"Biarlah aku dianggap orang gila. Ya! Aku memang gila saat ini. Aku gila!"


"Hiksss... bahkan usapannya terasa sangat nyata."


"Aku ingin mati saja." ujarnya mulai ngawur. Mungkin efek lelah hayati.


"Mati perlu persiapan. Persiapan mental dan persiapan amal. Apakah kamu sudah mempunyai mental yang kuat dan amal yang banyak? Mau masuk neraka bersama orang-orang pendosa? Mereka menjerit kesakitan, meminta untuk hidup kembali sedangkan kamu malah ingin mati. Apakah masih ingin tetap dengan pendirian. Kalau iya... di situ ada pisau buah. Silahkan kamu bunuh diri menggunakan itu. Tapi, jangan melakukannya di sini, aku takut akan difitnah karena telah dituduh melakukan kasus pembunuhan."


"Aku sudah punya mental kuat tapi amalnya masih sedikit. Apakah bisa mulai sekarang aku mengumpulkannya. Lalu kalau sudah cukup maka aku akan ajukan formulir pendaftaran menuju alam baka?" anggap saja pria itu sudab gila. Ya! memang gila tepatnya.


"Tidak bisa! Tidak akan ada persiapan untuk mengumpulkan. Kematian ya kematian. Memangnya ada orang mau mati harus konsultasi dulu?"


"Kalau ada aku mau."


"Dasar bo doh!"


"Iya, aku memang sudah bo doh. Hahahaa... sepertinya aku akan gila." pria itu tertawa tidak jelas membuat gadis itu merinding dibuatnya.


"Kau memang sudah gila."


"Iya, hahaha..."


"Bo doh dan gila."


Sesaat kemudian pria itu lekas mengubah ekspresinya. Dia menatap tajam ke arah gadis itu.

__ADS_1


"Kau mau cari mati?!"


Ceisya tergelak melihat perubahan yang ditunjukkan oleh pria itu.


"Kalau mati bersamamu aku mau... Om!"


"Hahahaa.. aku sudah tuli!" pria itu masih waras.


"Benarkah?"


"Ya."


"Kalau begitu apa ini tidak terasa?"


"K-kau!!! B-berani-beraninya ... k-kau, kau menciumku?" pria itu mendadak jantungan.


"Apa? Kalau berani mau apa?"


"K-kamu..." pria itu tergagap tanpa ucapan.


"Hmmm... aku ngantuk, mau tidur. Jangan membuat pasien rumah sakit terganggu." gadis itu berbalik memunggungi Zafran. Sesaat kemudian ia memekik karena tubuhnya langsung dibalikkan hingga mereka berhadapan.


Gadis itu seketika dibuat gugup dan juga gemetar.


"Kamu nakal, iya!"


"Apa? Mana ada aku nak---" ucapannya terpotong karena perlakuan pria itu yang tidak senonoh.


.


.


Dalam hati ia tersenyum, bersyukur. Sekarang adalah waktunya ia mulai menjalani kehidupan seperti sedia kala. Menjadi pribadi seperti biasa.


Cukup salut dengan perjuangan yang pria itu lakukan dan akhirnya sekarang membuahkan hasil. Tersenyum dalam kehangatan sembari menikmati pelukan. Menyesapi segala rasa yang tertinggal, merobohkan dinding yang menghalang, menghapus jarak yang terhalang. Mulai melukis kisah baru dalam kehidupan. Sejenak melupakan beban.


Pria itu tengah menikmati rasa yang begitu ia rindukan. Sedikit menyesap, hanya sedikit.


.


.


.


oohh,, ramaikan komen and like gaes


jangan nyimak ges, lgi mahal ini minyak. harus demo jd brrt harus ramee 👀👀

__ADS_1


ayookk geess kasih komen, like, fav, rate, gift, vote 😉otor pengen banget ih ngerasain yg seger²👀siapa tau ada yg mau kasih sekuntum mawar merah 👀


__ADS_2