
Zafran sampai di depan rumah Ceisya. Pria itu mengetuk pintu utama dan tidak lama kemudian pintu itu terbuka menampakkan seorang pemuda yang masih mengenakan pakaian tidurnya. Zafran sampai dibuat geleng-geleng kepala.
"Weekend bukannya mandi malah baru bangun tidur." ledek Zafran membuat kesadaran Rizki kembali sepenuhnya.
"Eh! Loh... kok?" adik satu-satunya Ceisya itu tersentak.
"Jangan heran gitu. Ayo mandi, siap-siap ke rumah sakit." ujar pria itu lalu mengikuti Rizki yang mengisyaratkan dirinya untuk masuk.
"Abang kok bisa ada di sini?" tanya Rizki sembari mendudukkan dirinya di atas sofa.
"Abang kan manusia."
"Gak nyambung, Bang. Yaudah, tunggu di sini bentar, aku mau mandi dulu." pemuda itu langsung bertolak ke kamarnya meninggalkan Zafran sendirian di ruang tamu.
"Ekhemmm..."
Zafran menoleh, melihat pria dua anak itu tengah berjalan ke arahnya.
"Eh, Om..."
"Sudah lama?" tanya Ayah Faisal sembari duduk di depan Zafran. Menatap pria itu dengan segudang penuh tanya.
"Baru aja, Om. Om mau ke mana?" tanya pria itu cukup kepo.
"Om mau ke kantor sebentar, baru setelah itu ke rumah sakit. Kamu ada apa ke sini?"
"Weekend masih ngantor, Om? Saya mau jemput Rizki, Om, tadi Tante nitipin ke saya."
"Ya, mau bagaimana lagi. Yasudah, kalau begitu Om berangkat dulu. Kalian nanti hati-hati berangkat ke sana." pria dua anak itu bangkit lalu membenarkan jas yang melekat di tubuhnya.
"Iya, Om. Om juga hati-hati di jalan."
"Hmmm..."
Selang beberapa menit Zafran menunggu, akhirnya orang yang ia tunggu muncul juga.
"Sudah?"
"Iya, Bang."
__ADS_1
"Berangkat sekarang ya?"
Rizki hanya mengangguk menurut.
Di dalam perjalanan dua orang laki-laki itu sesekali mengobrol. Banyak yang mereka bahas, terutama Zafran yang menanyakan bagaimana sekolah Rizki. Ternyata pemuda itu baru saja menyelesaikan ujian semester pertamanya di kelas 12.
Tidak lama mobil yang dikendarai Zafran telah sampai di parkiran rumah sakit. Mereka turun bersamaan lalu masuk ke dalam.
Brukk
"Ah, maaf!" Adik dari Ceisya itu meminta maaf karena tidak sengaja menabrak orang. Lebih tepatnya sih ditabrak, tapi, pemuda itu cukup tau artinya sopan terhadap orang yang lebih tua.
"Kalau jalan tuh pakai mata. Percuma anak muda tapi matanya buta." seloroh seorang pria yang saat itu tengah memegang sebuah map.
"Maaf, saya tidak sengaja. Mohon maafkan saya, Pak."
Zafran melirik kemudian menepuk pundak Rizki pelan.
"Gak usah minta maaf, kamu gak salah." tegur pria itu tau kondisi.
"Tapi, Bang---"
"Seharusnya yang lebih berhati-hati dalam berjalan itu anda, Tuan. Sudah tau ini jalanan umum tapi kenapa anda tidak fokus. Malahan saya lihat anda lebih tertarik dengan kertas yang anda pegang itu."
"Ini hidup saya, kenapa kalian yang atur!" sungutnya tidak jelas.
"Intinya kami sudah meminta maaf walaupun saya tau adik saya ini tidak bersalah. Demi menjunjung tinggi hormat kami meminta maaf sekali lagi."
Setelah itu Zafran mengajak Rizki meninggalkan orang itu. Peristiwa itu membuat keduanya kesal saja. Di zaman sekarang banyak orang yang lebih mementingkan urusan duniawi.
"Kamu gak pa-pa?" tanya Zafran.
"Enggak, Bang. Makasih ya Bang."
"No problem."
Keduanya telah sampai di depan ruangan di mana Ceisya dirawat.
"Assalamu'alaikum..."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam."
"Bunda, Kakak, maaf, Rizki baru bisa jenguk."
"Kamu sudah sarapan?" alih-alih menjawab, Bunda Nai malah bertanya.
"Iya, Bunda. Tadi dimasakin oleh Ayah."
"Syukurlah."
Pemuda itu mendekat, berdiri di samping ranjang di mana Kakaknya tengah duduk di sana.
"Kakak apa kabar?" tanya pemuda itu cukup rindu dengan saudaranya.
"Baik. Kamu gimana?"
"Baik juga, Kak. Ngomong-ngomong ceritanya ini udah sembuh ya?" tanya Rizki cukup meledek.
"Kamu mau aku hilang ingatan untuk selamanya?" tatap Ceisya sengit.
"Eh! Bukan gitu, Kak. Aku kan cuman tanya. Kok sensi sih?" gerutu Rizki tidak terima.
"Sana! Jauhan, aku kesel liat mukamu!" usir Ceisya membuat Rizki menghela nafas.
"Mending aku gak usah datang sekalian kalau ujung-ujungnya diusir gini." pemuda itu berjalan lesu menuju sofa lalu duduk di samping sang Bunda.
Bunda Nai hanya terkikik melihatnya sementara Zafran hanya melirik, menatap gadis itu lekat.
"Bunda, kapan Ceisya pulang? Ini bosan, Ceisya mau ke kampus. Pasti tugasnya menumpuk kan?" tebak gadis itu meringis membayangkan betapa banyak tugasnya yang menumpuk semasa ia izin.
"Nanti Bunda coba tanya Dokternya." sahut Bunda Nai cukup mengerti keadaan sang anak.
"Bun, pengen jalan-jalan. Suntuk di dalam mulu." rengek gadis itu.
"Jang---"
"Yaudah. Tunggu bentar ya? Biar aku tanya dokter dulu." potong pria itu cepat lalu keluar ruangan menemui dokter yang menangani Ceisya.
Di dalam ruangan itu, baik Bunda Nai dan Rizki hanya saling pandang melihat Kakaknya dengan tatapan meledek.
__ADS_1