Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 19


__ADS_3

Rizki melangkahkan kakinya menjauh dari area lomba memasak karena kegiatan tersebut sudah selesai. Kini hanya tersisa 2 perlombaan saja yaitu melukis dan bernyanyi. Melukis diadakan di lapangan sekolah sedangkan menyanyi diadakan di panggung yang dibuat di lapangan sepak bola tempat perlombaan alat musik tadi.


Rizki menyusul Ceisya yang tadinya pamit ke taman belakang sekolah. Dan benar saja, saat Rizki baru menapakkan kakinya di sana dia sudah menemukan Ceisya yang tengah duduk di kursi kayu sedang memainkan ponselnya.


Ceisya sedikit tersentak kala merasakan pergerakan dari kursi. Saat dia menoleh, Rizki sang adik sudah nangkring duduk di sampingnya.


"Sudah selesai?" tanya Ceisya menatap wajah sang adik.


Rizki hanya menganggukkan kepalanya. "Ayah sama Bunda apakah menginap di sana, Kak?" tanya Rizki mengingat orang tua mereka pulang kampung ke halaman rumah Ayah Faisal.


"Mungkin saja. Mengingat perjalanan menuju ke sana memakan waktu yang panjang."


"Beruntung aku pandai memasak. Kalau tidak, sudah dipastikan aku akan mati kelaparan."


"Kenapa begitu?" selidik Ceisya.


"Kau mana mungkin mau memasak kalau tidak bersama Bunda. Huuuhhhh...dasar alien."


Plakkk


Satu pukulan mendarat di lengan Rizki hingga membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.


"Sempat-sempatnya kau memikirkan itu!" ujar Ceisya tidak terima.


"Hahahahaa..." gelak tawa Rizki terdengar. Beruntung di taman tersebut sepi, jadi, suara tertawa Rizki tidak terdengar. Kalau sampai terdengar, sudah dipastikan kaum hawa akan terbengong karena baru kali ini mereka mendengar gelak tawa Rizki pecah.


Langkah kaki Amel terhenti saat telinganya mendengar suara yang familiar di telinganya. Amel yang tadinya ingin beranjak pergi dari taman belakang itu sehabis menyegarkan pikirannya dia urungkan.


Amel melihat pemuda yang waktu lalu tidak sengaja menabraknya tengah asik bercanda bersama seorang gadis. Memang jika dilihat mereka sudah seperti sepasang sejoli. Tapi, kenyataannya berbalik. Nyatanya mereka menyandang status Kakak beradik.


Amel memang suka di tempat yang sepi. Dia tidak terlalu suka berbaur bersama orang asing. Makanya di sinilah Amel berada.


Kalau dipikir-pikir, Amel sepertinya sudah terpana melihat Rizki. Belum lagi kajadian waktu lalu. Sifatnya berbanding terbalik, Rizki di luar sangat ramah namun tak tersentuh. Bedanya kalau di dalam sudah seperti gulali ketika dimakan akan melebur bersamaan dengan rasa manis.


"Siapa?" batin Amel penasaran sambil meneliti sesosok gadis itu. Seketika matanya melebar sempurna. Secepat mungkin Amel pergi dari tempat itu.


Tapi naas. Dia tidak sengaja menabrak tong sampah yang berada d sampingnya hingga tong sampah tersebut terlempar dan menimbulkan suara.


Ceisya dan Rizki spontan bangkit dari duduknya dan menghampiri Amel yang jatuh terduduk di atas tanah.


"Hei, kau tidak apa-apa?" tanya Ceisya sambil berjongkok.


Amel hanya terdiam menunduk sehingga wajahnya tidak terlihat karena terhalang oleh rambutnya.


Rizki hanya berdiri sambil memasukkan kedua tangannya di kedua kantong celananya tanpa berniat membantu.


"Kau! Kenapa diam saja, hah!" teriak Ceisya kesal saat melihat sang adik yang hanya berdiri santai.

__ADS_1


"Memangnya aku harus melakukan apa? Kan sudah ada kau." jawab Rizki santai.


Ceisya yang geram tidak tahan untuk mencubit kaki Rizki hingga membuat Rizki berjongkok sambil memegang kaki kanannya.


Terlalu kesal dengan tingkah sang adik, Ceisya mengabaikannya.


"Hai, cantik. Siapa namamu?" tanya Ceisya.


"Jangan takut." lanjutnya lagi. "Ayo dong lihat ke sini. Kau tidak terluka kan?"


Terpaksa Amel mengangkat wajahnya.


"Kau...bukannya..." jeda Ceisya.


Amel hanya meringis pelan. Padahal dia tidak membuat kesalahan apapun.


"Ayok! Bangkitlah." Ceisya menuntut Amel untuk bangkit dan mengajaknya duduk di kursi mereka tadi.


Ceisya duduk di sisi tepi kursi dan Rizki yang ikut-ikutan duduk di sisi tepi sebelahnya. Alhasil Amel duduk di tengah-tengah mereka.


Rizki hanya diam belum membuka suaranya.


"Siapa namamu?" tanya Ceisya sambil mengusap rambut belakang Amel.


"A-amel." jawabnya ragu.


"Kenapa kabur?" tanya Ceisya dengan nada lembut bak peri yang turun dari kayangan.


Rizki yang dia hanya menyimpan segala pertanyaan di benaknya. Dari mana Kakaknya mengenal Amel? Dan juga perihal kabur?


"Kak, apa kau mengenal dia?" tanya Rizki membuka suaranya.


"Kak?" batin Amel bingung.


Ceisya menggelengkan kepalanya.


"Lalu?"


"Waktu lalu aku pernah bertemu dengannya..." Ceisya menjeda ucapannya. Tampak Amel menatapnya sambil menggelengkan kepalanya berharap Ceisya tidak menceritakan pertemuan pertama mereka secara detail.


Sebenarnya tidak ada permasalahannya. Tapi, emtahlah. Amel berfirasat kalau cepat lambat Ceisya akan menanyanya.


"Terus?" ujar Rizki.


"Tidak apa. Aku lupa saja menanyakan namanya siapa." jawab Ceisya membuat Amel bernafas lega.


"Owh." Rizki hanya ber'oh.

__ADS_1


"Lalu...apa kau berteman dengannya?"


"Eh!"


"Oh iya. Kita belum berkenalan. Namaku Ceisya dan disampingmu itu adikku namanya Rizki." ujar Ceisya memperkenalkan dirinya.


"Iya, Kak." jawab Amel.


"Kau tidak mau berkenalan dengannya?"


"Eh, a-anu. Aku sudah tau, Kak."


"Oh ya?"


Amel menganggukkan kepalanya.


"Heummm...baiklah kalau begitu." ujar Ceisya. "Bagaimana dengan perlombaan memasak tadi? Apakah kau memasak dengan baik?" tanya Ceisya berusaha mencari topik. Dia sangat penasaran dengan kehidupan Amel.


Amel hanya mengangguk. "Alhamdulillah, lancar, Kak."


"Begitu. Semoga nanti menang ya. Apakah kau ada perlombaan lagi setelah ini?"


"Ada, Kak." jawab Amel.


"Apa?"


"Bernyanyi."


"Wahhh!" Ceisya memekik girang. "Benarkah itu? Hmmm...aku harus melihatmu dan memberikan semangat. Ahh...rasanya aku tidak sabar sekali." ujar Ceisya antusias.


"Hehe. Boleh, Kak. Tapi, jangan menertawakan suaraku nanti ya." sahut Amel dengan nada tertawa.


"Hahaha...baiklah, baiklah. Aku tidak akan menertawakanmu. Lagi pula aku rasa suaramu sangat merdu makanya kau mengikuti perlombaan itu." tebak Ceisya membuat Amel tersenyum malu.


"Biasa saja, Kak." jawab Amel tanpa sadar tersenyum. Senyuman pertama kali yang dia perlihatkan secara tulus. Eh, bukan berarti sebelumnya Amel tersenyum terpaksa ya.


Amel seperti mendapatkan kebahagiaan di dalam hidupnya. Amel biasanya akan sangat susah menerima orang asing di kehidupannya. Tapi, saat ini rasanya berbeda.


Rizki hanya diam memperhatikan interaksi keduanya. Dia tidak bisa melihat ekspresi apa saja yang ditunjukkan oleh Amel karena Amel duduk menghadap Ceisya yang otomatis dirinya dibelakangi oleh Amel.


Rizki melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 12. 15. Perlombaan melukis dan menyanyi tadi sempat tertunda adzan zuhur. Sebagai umat yang menganut agama islam sangat menghargai itu.


"Lomba akan segera dimulai. Jika tidak ingin terlambat maka cepatlah!" ujar Rizki sambil berdiri kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


"Kau, sungguh tidak punya sopan santun!" sungut Ceisya kesal.


"Kenapa aku?"

__ADS_1


"Tidak!" balas Ceisya kesal yang akhirnya menarik tangan Amel pergi menuju panggung tempat perlombaan bernyanyi.


"Kenapa harus aku yang ditinggalkan? Padahal tadi aku hanya mengingatkan mereka. Kalau tidak diingatkan akan susah. Aish!" gerutu Rizki sambil memasang muka pasrah. Akhirnya dia mengikuti dua gadis di depannya yang telah meninggalkannya.


__ADS_2