
"Pak Satpam, nitip motor saya sebentar ya? Nanti kalau saya lama tinggal Bapak amankan saja. Oke, Pak?"
"Siap, Neng. Motornya aman."
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama."
"Sudah kan?" tanya Zafran.
Ceisya hanya menyengir kemudian mengangguk.
"Om."
"Ya?"
"Tidak kerja?"
"Tidak. Memangnya kenapa?" tanya Zafran tanpa menghentikan langkahnya.
"Nanya aja sih, Om."
Zafran hanya berdehem kemudian mereka melanjutkan perjalanannya menuju mobil Zafran.
"Om tidak benar-benar ingin menculikku kan?"
"Memangnya kalau aku ingin menculikmu, kau mau apa?"
"Mungkin aku akan mencopot semua gigimu, Om? Bagaimana? Menarik bukan?" ujar Ceisya.
"Memangnya kau tau?" tanya Zafran yang belum tahu kalau Ceisya adalah bibit-bibit Dokter gigi.
"Kau meragukanku, Om? Aku ini kuliah jurusan kedokteran gigi lah. Awas saja kalau nanti aku sudah jadi Dokter, aku benar-benar akan menanggalkan semua gigi-gigimu, Om. Nanti kau akan menjadi seperti Kakek-kakek giginya ompong. Hahahahaha..." ucap Ceisya sambil tertawa jahat.
Sementara Zafran hanya melongo dibuatnya.
"Benarkah itu?"
"Ya. Tentu saja."
"Kalau aku menjadi Kakek maka kau akan menjadi Nenek?"
"Hahahahaha...mana mungkin, Om. Secara nanti aku akan awet muda. Hahahaha..."
"Jahat sekali nada bicaramu. Sudahlah." Zafran berjalan cepat meninggalkan Ceisya di belakangnya.
"Hei, Om! Aku kembali ke parkiran saja ya?" Ceisya berhenti sambil menunggu respon dari Zafran.
Dan benar saja, Zafran langsung berbalik dan berjalan cepat mendekati Ceisya.
"Cih! Tidak usah mengancam. Cepat lah sedikit!"
Zafran menarik pergelangan tangan Ceisya dan menyeretnya.
"Hahahaha...kau takut tawananmu lari ya, Om?" sindir Ceisya sambil tertawa.
"Tidak!"
Tidak lama kemudian akhirnya mereka sampai di depan mobil hitam.
"Ini mobilmu, Om?" tanya Ceisya takjub.
"Ya. Bagaimana? Apa kau terpesona?" goda Zafran.
"Tidak! Hanya takjub saja. Kalau terpesona rasanya tidak wajar. Mana mungkin aku naksir dengan mobil."
__ADS_1
"Astaga!"
Di saat mereka mengobrol, terbuka lah pintu mobil Zafran di bagian belakang.
"Kau mau membunuh Kakakmu ini, Zaf!?"
Glekk
Zafran menelan ludahnya kasar. Lupa bahwa ada sang Kakak yang menunggunya.
Secepat mungkin Zafran merayu Kakaknya dengan senyumannya. "Bukan begitu, Kak. Tadi kan Kakak masuk ke dalam lalu aku menunggu di parkiran. Jadinya kan aku tidak tahu. Kenapa tidak Kakak panggil aku saja tadi? Tahu begini Kakak tidak menunggu lama di dalam mobil. Pengap, Kak. Kasihan keponakanku yang baru sebesar gumpalan darah itu."
Kakaknya Noemi atau yang biasa dipanggil Emi itu langsung mengusap perutnya yang masih datar. 2 bulan. Ya, 2 bulan usia kandungan Kakak Zafran.
"Memangnya dia bisa bernafas dengan usianya 2 bulan? Bahkan...kau bilang kan kalau ini baru sebesar gumpalan darah!"
Zafran meringis. Sepertinya dia salah bicara.
Sementara Ceisya sempat melongo mendengar perkataan Zafran yang jauh lebih banyak dari biasanya.
"Bukan begitu maksudku. Ah, sudahlah." ucap Zafran pasrah.
Pandangan Emi terhenti saat melihat gadis yang berdiri di samping adiknya itu. Tiba-tiba rasa kesalnya melebur berganti dengan rasa ingin memeluk gadis itu.
"Sebagai permintaan maafmu. Aku ingin tahu siapa gadis di sampingnya itu. Rasanya aku ingin memeluknya saat baru pertama kali melihatnya." pinta Emi sambil melihat Ceisya. "Ayolah, Zaf. Ini permintaan keponakanmu." ujar Emi lagi.
Zafran menyenggol lengan Ceisya yang berada di sampingnya.
Zafran mencondongkan tubuhnya sedikit guna berbisik. "Dia Kakakku. Panggil saja Emi." jelas Zafran menghilangkan rasa penasaran Ceisya. "Berkenalan lah dengannya. Dan juga, dia sedang hamil. Turuti saja kemauannya termasuk ingin memelukmu. Ya?" bisik Zafran.
"Woah! Benarkah? Tentu saja, dengan senang hati!"
Ceisya berjalan mendekati Emi yang berdiri di pintu mobil sebelah kanan, sementara tadi dia dan Zafran beridiri di pintu mobil sebelah kiri.
"Hai juga gadis cantik. Namaku Emi. Senang juga berkenalan denganmu." jawab Emi sambil mengulurkan tangannya.
"Benarkah kau sedang hamil, Kak?" tanya Ceisya tanpa canggung.
Emi hanya mengangguk malu.
"Woah! Aku jadi tidak sabar ingin melihatnya lahir ke dunia barunya. Oh, iya. Usia Kakak berapa bulan?"
"Baru 2 bulan kok."
"Wahhh! Rasanya aku ingin mempunyai bayi juga."
Zafran melototkan matanya ke arah Ceisya. "Memangnya kau mau hamil anak siapa, hah? Punya suami juga belum. Dasar bocah ingusan!" sahut Zafran.
"Ya. Mudah saja. Tinggal nikah saja. Soal calon suami tenang saja. Nanti aku akan membuka pendaftaran yang ingin menjadi suamiku. Ide yang bagus kan, Om?" ujar Ceisya dengan ide gilanya. "Bila perlu nanti aku cari suami 10 orang. Maybe?"
"Astaga! Bisa-bisa kau mengatakan itu dengan mudahnya!" umpat Zafran sambil memijat kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.
Emi, wanita hamil itu heran. Tidak biasanya Zafran mau melayani perkataan orang lain terutama dengan yang namanya spesies perempuan.
"Om?" tanya Emi bingung sambil menatap Ceisya heran.
"Iya, Kak. Kenapa?"
"Kau memanggil Zafran dengan panggilan Om?" tanya Emi lagi.
"Iya, Kak."
"Pftt! Hahahahaaa...kau sungguh hebat. Tidak ku sangka ada yang berani membuatnya marah."
"Betul, Kak. Dia memang suka marah-marah." tunjuk Ceisya ke arah Zafran.
__ADS_1
"Pantas saja." ucap Emi senyum-senyum sendiri.
Di saat seperti ini Zafran hanya pasrah. Tidak berani melawan dua perempuan ini.
"Isy, aku ingin memelukmu. Boleh kan?" tanya Emi meminta izin.
"Isy?" beo Ceisya.
"Iya, Isy. Tiba-tiba aku ingin memanggilmu itu. Tidak boleh ya?" ujar Emi murung.
"Eh, bukan begitu, Kak. Aku hanya bingung saat ada orang lain yang memanggilku itu. Jangan murung lagi, Kak. Nanti anakmu jelek. Sini! Aku kasih pelukan gratis."
Emi sempat terperangah saat Ceisya menyebut anaknya nanti jelek. Tapi, Emi tidak mempermasalahkan itu. Kehadiran Ceisya membuatnya senang. Bukankah itu bagus untuk calon Ibu yang sedang mengandung?
"Tubuhmu terlalu mungil, Isy. Kau tidak kekurangan gizi kan?" tanya Emi asal yang entah sejak kapan menuruti gaya bicara Ceisya.
"Mana mungkin aku kekurangan gizi? Sedangkan aku saja suka makan banyak. Aku juga rajin minum vitamin, Kak." jawab Ceisya yang hanya pasrah saat tubuhnya di peluk erat.
"Hemmm...baguslah itu." Emi melepaskan pelukannya.
"Lagi pula calon Dokter tidak boleh sakit, Kak. Bagaimana nanti sakitnya menular?" ucap Ceisya lagi.
"Wow! Kau calon Dokter? Wah! Hebat. Calon dokter apa gadis cantik?" tanya Emi sambil tangannya mengelus rambut Ceisya yang tidak terlalu panjang.
"Dokter gigi, Kak. Do'akan ya perjalananku nanti tidak sulit."
"Tentu saja. Aku akan mendo'akan yang terbaik untukmu."
"Hehe. Terima kasih, Kak." ucap Ceisya menampilkan senyuman manisnya.
"Ekhem...para wanita, sudah selesai kah berundingnya?" sahut Zafran memecah suasana.
"Sudah belum, Kak?" ujar Ceisya malah bertanya.
Emi hanya mengangguk.
"Di sini terlalu panas. Tidak baik untuk kesehatan. Nanti make up kalian juga ikut luntur." goda Zafran yang malah membuat dirinya di posisi tersulit.
"Luntur?" tatapan elang Emi tunjukkan.
Sedangkan Ceisya, gadis itu tanpa aba-aba berjalan mendekati Zafran.
"Benarkah akan luntur, Om?" tanya Ceisya dengan suaranya yang bagaikan alunan nada.
"Y-ya."
Ceisya mendongakkan kepalanya ke atas menatap Zafran. Ceisya berjinjit dan memberanikan diri menarik kerah baju Zafran hingga sang pemilik tubuh sedikit menunduk.
Sedangkan Emi, wanita hamil itu asik menonton pertunjukan di depannya. Dia juga ingin melihat bagaimana cara gadis cantik itu membuat Zafran di posisi tersulitnya. Karena selama ini sangat jarang Zafran berinteraksi dengan lawan jenis.
"Lihat aku, Om!" pinta Ceisya saat Zafran malah memalingkan wajahnya. "Lihat! Apakah aku memakai make up?" tanya Ceisya tanpa mengedipkan matanya.
Yang hanya dilakukan Zafran adalah menahan nafasnya dan matanya berkedip beberapa kali.
"Kau bilang make up-nya akan luntur bukan? Lihat lah dengan teliti, Om. Bahkan aku hanya memakai perwarna bibir yang tipis."
"Kenapa kau diam, Om. Ke mana jiwa galakmu itu? Aku jadi tidak yakin kalau kau itu..."
"Cih! Sudahlah, Om."
Ceisya melepaskan cengkraman tangannya di kerah baju Zafran dan mendorongnya sedikit hingga Zafran mundur ke belakang.
Diperlakukan seperti itu membuat Zafran lemot. Otaknya masih mencerna apa yang barusan Ceisya lakukan.
"Om! Cepat jalankan mobilnya. Hari sudah semakin panas. Aku takut nanti kau akan menjadi ikan asin jika berdiri terus menerus di situ dan matamu yang berkedip-kedip." teriak Ceisya melalui kaca mobil terbuka yang entah sejak kapan sudah berada di dalam mobilnya bersama Emi.
__ADS_1