Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 21


__ADS_3

Tepat pada pukul 13.20, pengumuman perlombaan akan segera diumumkan di lapangan sekolah. Kini, lapangan sekolah sudah penuh dengan siswa siswi yang memakai seragam putih abu. Sedangkan wali mereka menunggu di koridor kelas.


Pengumuman lomba sekarang sudah diumumkan baik itu perlombaan memasak, bernyanyi, melukis, catur, dan bermain alat musik.


SMA Kelapa Gading banyak memenangkan lomba salah satunya perlombaan memasak, bernyanyi, catur.


"Amel, selamat ya karena sudah memenangkan lomba memasaknya." ujar Ceisya sambil memberikan sebuah pelukan.


"Terima kasih, Kak." Amel membalas pelukan dari Ceisya.


"Kami berterima kasih kepadamu, Mel. Berkatmu regu sekolah kita menang." timpal seorang gadis yang menjadi anggota regu mereka, tak lupa juga David yang ikut serta.


"Kami pamit ya, Mel. Soalnya sudah ditunggu oleh orang tua kami."


"Iya, hati-hati." balas Amel yang menyaksikan kepergian mereka.


"Vid, kamu tidak ikut mereka?" tanya Amel bingung saat melihat David belum beranjak sama sekali dari tempatnya.


"Aku masih ingin mengobrol bersamamu. Apakah boleh?" jawabnya meminta izin.


"Maaf. Sepertinya Amel akan ikut bersamaku." seloroh Ceisya yang langsung memegang bahu Amel. Tidak suka melihat Amel berdekatan dengan David.


"Tapi, Amel lah yang berhak memutuskan untuk bersama siapa."


Ceisya terlihat kesal, dia memutar bola matanya dengan sempurna. "Kau tidak lihat? Amel bahkan tidak menjawabmu. Sudah jelas bukan, kalau itu sebagai penolakan?"


"Tentu itu bukan sebagai penolakan."


"Jangan bertengkar. Aku tidak akan mengikuti siapa diantara kalian. Lebih baik aku pergi dari sini dan menemui seseorang." Amel yang seperti diperebutkan terlihat kesal. Dia baru sadar sedari tadi saat berangkat dia belum menemui walinya.


Ceisya langsung menatap tajam ke arah David.


"Sudahlah. Jangan memperebutkannya. Kalian membuatnya tidak nyaman." tegur Zafran yang langsung mendekati Ceisya.


"Aku tidak memperebutkannya, Om. Sudah jelas Amel tidak mau bersamanya, masih saja dipaksa." gerutu Ceisya.


Ngomong-ngomong Rizki kemana? Ah ya, sejak Amel pergi tadi dia langsung menyusulnya.


Zafran memegang bahu Ceisya pelan dan membalikkan badan Ceisya berhadapan dengannya. "Tenang, dia tidak akan pergi dari dunia ini. Masih banyak waktu untuk bertemu dengannya."


"Om, ta--"


"Syuttt. Berhenti mengoceh." titah Zafran membawa jari telunjuknya menyentuh bibirnya sendiri.


"Pergi kau!" usir Ceisya.


"Ini juga aku mau pergi." balas David yang langsung melarikan diri.


Rizal mendekat. "Bang, aku ke ruangan Osis dulu ya? Ada yang harus ku urus sebentar. Kalau Abang mau pulang silahkan. Nanti biar aku nebeng dengan Reinhard saja." ujar Rizal yang langsung diangguki kepala oleh Reinhard.


"Baiklah. Kalau begitu nanti aku pulang duluan." jawab Zafran.


Rizal dan Reinhard langsung pergi menuju ruangan Osis karena ada yang harus mereka urus sebentar.

__ADS_1


"Om, kau mau pulang?" tanya Ceisya yang dibalas anggukan oleh Zafran.


"Kenapa? Apa kau mau ikut denganku?" goda Zafran.


"Haish! Bukan begitu. Aku hanya bertanya saja. Lagi pula aku tadi berangkat bersama Rizki."


Tiba-tiba Zafran teringat sesuatu. "Ah, ya. Rizki apakah adikmu? Atau---" Zafran menjeda.


"Iya." dengan cepat Ceisya mengiyakan.


"Apa kau mau ikut?" tanya Zafran sekali lagi.


Ceisya menggeleng, tapi, sesaat kemudian dia tampak berpikir. "Kak Emi?" tanyanya kemudian mendongakkan kepalanya melihat Zafran.


"Ada."


"Benarkah?" Ceisya sangat antusias. Sebulan tidak bertemu membuatnya rindu dengan wanita mengandung itu.


"Iya. Kau mau bertemu dengannya?" tampak Ceisya menganggukkan antusias. Matanya berbinar membuat Zafran tidak tahan untuk tidak mencubit pipinya yang chubby.


"Yasudah. Ayok!"


"Eh, eh. Tunggu dulu, Om. Bagaimana dengan Rizki? Nanti dia kelimpungan mencariku atau bahkan dia sudah berpikir kalau aku diculik."


"Tinggal telfon apa susahnya?"


"Oh, ya. Hehe."


Ceisya mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan membukanya. Mencari kontak yang beratas namakan adiknya. Sesaat kemudian panggilan tersebut masuk.


Sebenarnya Ceisya bingung. Kenapa adiknya itu sangat cerewet melebihi wanita.


Ceisya berjalan mengikuti Zafran dari belakang. Tidak lama kemudian mereka sampai di depan sebuah mobil.


Zafran langsung masuk ke dalamnya diikuti Ceisya yang malah masuk ke kursi belakang.


"Pindah ke depan! Aku bukan supir-mu!" perintah Zafran tanpa bantahan.


"Aish! Baiklah, Om. Santai sedikit kenapa sih?" cibik Ceisya pelan dan langsung merangkak berpindah ke kursi depan.


"Apa gunanya pintu mobil kalau kau malah berpindah dengan begitu bar-bar." terkadang Zafran tidak habis pikir dengan otak Ceisya.


"Praktis, Om." jawabnya tanpa dosa.


Zafran menoleh ke samping, lalu dia berdecak kesal mendapati Ceisya yang belum memakai seatbeltnya.


"Kau mau terantuk kalau tidak memakai sabuk pengaman begitu?"


Dengan sigap Ceisya memakai sabuk pengamannya begitu mendengar suara berat dari Zafran.


"Kita mau kemana, Om?" tanya Ceisya saat mereka di dalam perjalanan.


"Kau mau kemana?" ujar Zafran yang malah bertanya balik.

__ADS_1


"Lapar, Om." sahut Ceisya sambil memegang perutnya.


Zafran melambatkan laju kendaraannya. Dia menoleh ke arah Ceisya. "Mau makan apa?" tanya Zafran.


Mata Ceisya berbinar. Dia teringat janji adiknya tadi yang akan membelikannya seblak. "Mau seblak, Om. Boleh?"


Zafran tidak menjawab melainkan hanya tersenyum kecil. Memberhentikan mobilnya tepat di depan warung makan.


Zafran melepaskan seatbeltnya namun tidak langsung turun. "Mau di restoran atau di sini?" tanya Zafran.


"Di sini saja, Om." jawab Ceisya sambil melepaskan seatbelt.


"Baiklah."


Di sinilah mereka berada. Duduk berhadapan sambil melihat menu makan yang tertera di sana.


Seorang pelayan dengan sigap berdiri di belakang mereka. Setelah Zafran memilih menu, pelayan tersebut mencatatnya.


"Selesai makan baru kita menemui Kak Emi." Ceisya mengangguk.


Tidak lama pesanan mereka datang. Seperti permintaannya tadi, Ceisya memesan seblak sedangkan Zafran hanya memesan nasi uduk.


"Kau yakin akan memakannya?" Zafran meringis pelan saat melihat kuah seblak yang sudah seperti darah memerah.


"Iya lah, Om." dengan antusias Ceisya memakan seblaknya tanpa menghiraukan Zafran yang masih menatapnya.


Saat makanannya habis, Ceisya sudah seperti orang kesetanan. Minuman di gelasnya sudah ludes sedangkan dia masih belum cukup tenang dengan pedas yang melanda.


"Enak. Tapi, ini sangat pedas, Om." Ceisya mengibaskan tangannya kewajahnya.


Zafran hanya menggeleng. Sesaat kemudian dia menyorot tajam ke arah Ceisya yang berani meminum minumannya hingga habis.


"Hehe...terima kasih, Om." ujar Ceisya hanya menyengir.


"Kau suka bekas?" ledek Zafran.


"Tidak! Aku suka yang baru dan masih hangat-hangatnya seperti seblak ini."


Zafran tergelak. "Lalu...kenapa kau meminum minuman bekas-ku?"


"Ini kan mendesak, Om. Kalau tidak mendesak mana mau aku meminumnya apalagi itu bekasmu." balasnya sambil bergidik.


"Oh ya? Kau tidak tertarik ingin merasakannya langsung?"


"Haaa? Merasakan apa, Om?" beo Ceisya.


"Minuman itu kan bekas bibir-ku."


"Lalu?"


"Lalu aku bertanya apakah kau mau merasakannya secara langsung?"


"Merasakan apa sih, Om. Jangan membuatku penasaran deh!" Ceisya kesal.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Sudah, jangan dipikirkan."


"Dih! Siapa juga yang memikirkannya. Aku kan hanya bertanya!"


__ADS_2