Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 43


__ADS_3

Pria dua puluh tiga tahun itu tengah berbaring manja di dalam asramanya. Di tangan kanannya dia memegang ponselnya, layar ponsel yang menyala tanpa membuka aplikasi apa-apa. Hanya memandang wallpaper ponselnya. Sesekali pria itu tersenyum, mengusap-usap foto itu.


"Kamu semakin cantik... aku cinta." gumamnya.


"Tunggu aku ya? Nanti aku akan menemuimu... segera!" ujar pria itu bersemangat. Rencananya sore ini pria itu akan mengunjungi tempat kediaman Ceisya saat ini.


Pagi hari nanti dia bertugas sampai siang, lalu sorenya free, kemudian malamnya lagi patroli. Sungguh jadwal yang padat.


Mungkin pertemuan mereka akan sedikit menguras air mata, pikiran, dan mental. Pria itu sudah siap untuk menghadapi semuanya.


Sore menjeleng, Zafran sudah cukup siap dengan penampilannya saat ini. Sebelum berangkat, pria itu terlebih dahulu membeli buah tangan. Baru setelah itu dia memacu mobilnya menuju tempat kediaman Ceisya.


Beberapa kali pria itu berhenti untuk bertanya kepada salah satu warga. Akhirnya pria itu sampai juga. Dia memarkirkan mobilnya di tepi jalan lalu berjalan kaki masuk ke dalam gang kecil.


"Tok... tok... tok... assalamu'alaikum." pria itu berdiri di depan pintu seraya mengucapkan salam, tangannya menenteng tiga paper bag. Menunggu orang di dalam merespon.


Ceisya yang saat itu tengah membantu Umi Hanum memasak di dapur langsung menghentikan intensitasnya. Gadis itu menatap Hanum dengan penuh tanya.


"Umi, ada orang." ucap Ceisya memberitahu.


"Kamu ke depan dulu ya? Umi mau cuci tangan sebentar." Umi Hanum langsung mematikan kompor gas lalu berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya.


Ceisya menurut. Gadis itu berjalan menuju pintu utama.


"Ceklek..."


Sontak orang yang berada di luar langsung mendongak. Menatapnya dalam diam.


Ceisya yang saat itu melirik ke bawah langsung mendongak. Seketika pandangan mereka bertaut. Ceisya sedikit terlena dengan tatapan itu, seakan-akan ia pernah melihatnya.


Cukup lama mereka bertatapan hingga suara Umi Hanum langsung mengecoh suasana.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Umi Hanum, Ceisya yang saat itu berada di tengah-tengah pintu langsung melipir. Membiarkan Umi Hanum melihat orang itu.


"Assalamu'alaikum, Tante." ucap pria itu sopan sambil menundukkan kepalanya. Dia cukup paham dengan perempuan itu.


"Eh! Kamu... silahkan masuk!" perempuan itu mempersilakan.


"Iya, Terima kasih, Tante." pria itu mengikuti Umi Hanum yang mengajaknya masuk ke dalam, pria itu duduk di sofa ruang tamu saat sudah dipersilahkan.


"Sayang, kamu temani tamunya dulu ya? Umi mau bikin minum sebentar."


"Iya, Umi." jawab gadis itu pasrah saat ditinggalkan oleh Hanum, menyisakan mereka berdua di ruang tamu yang sunyi nan sepi itu.


Ngomong-ngomong Abi Aryo tengah berada di luar menghadiri undangan, lalu Azril sedang berada di pesantren.


Selepas kepergian Hanum, kini mereka hanya saling diam. Ceisya yang canggung sedangkan Zafran yang bingung. Entah kenapa pria itu seketika ngeblank dibuatnya. Kata-kata yang sudah ia siapkan lenyap seketika. Bahkan untuk sekedar basa-basi saja pria itu sudah tidak bisa. Lidahnya kelu, dia menahan rasa rindu yang membuncah di dadanya.


"Apa kabar?" sapa pria itu memecah keheningan.


"Alhamdulillah baik." jawab gadis itu.


"Alhamdulillah."


"Kamu berubah? Bahkan tidak ingat aku siapa? Apakah waktu yang kita jalani selama ini kurang bagimu? Ataukah itu hanya sekedar mainan saja?" pria itu beropini sendiri.


"Maaf, apakah kita saling mengenal? Jika iya, siapa anda?"


Hati pria itu terasa tergores. Dia tersenyum manis namun penuh dengan luka.


"Aku hanya seorang pria biasa yang sedang mengejar seseorang yang kini telah lupa dengan kebersamaan."


"Ekhem..!!" pria itu berdehem. Lalu tangannya bergerak menyambar dua laper bag disampingnya lalu memberikannya pada gadis itu. "Ini! Terima lah." ujar pria itu.

__ADS_1


"Terima kasih." jawab Ceisya menyimpan paper bag itu di sampingnya. Usut punya usut, isi paper bag itu hanya makanan yang Zafran beli sebagai buah tangan.


"Dilihat-lihat kamu semakin cantik. Tambah cantik kalau lagi tersenyum." seru pria itu memuji.


Ceisya hanya diam tanpa menanggapi.


"Aku akan memperkenalkan diriku sekali lagi. Namaku Zafran."


"Iya."


"Kamu Ceisya, bidadari hati."


"Maksudnya?"


"Tidak."


"Aku sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin aku utarakan. Namun, aku rasa itu hanya akan sia-sia."


"Tepat di malam itu, kamu ke mana saja? Aku menghubungi tapi tidak pernah terhubung. Tau-tau sekarang berada di kota yang sama denganku."


"Kenapa diam? Apa kamu takut aku akan mengganggumu lagi."


Zafran tetap tersenyum walau hatinya ingin sekali meraung.


Umi Hanum datang dengan membawa nampan. Perempuan itu meletakkan gelas berisikan minuman di depan Zafran lalu mempersilahkannya.


"Tante, saya to the point sekarang. Sebenarnya apa yang terjadi? Bisakah Tante memberitahu saya? Ini sangat penting." desak pria itu.


Umi Hanum hanya menatap Ceisya. "Sayang, bisa kamu ke kamar sebentar?"


"Baik, Umi." jawab gadis itu menurut.

__ADS_1


Tiba-tiba suasana di ruang tamu itu serasa mencekam. Bukan musuh dan musuh tapi sedang membicarakan hal yang cukup serius.


Zafran, pria itu beberapa kali menarik nafasnya dalam, dadanya sesak. Air mata pria itu sudah tidak tertahankan. Satu cerita yang membuatnya seperti kehilangan nafas.


__ADS_2